Terbit 10 April: Konspirasi Semesta

Publikasi 2 - C

Jika harus diadu siapa di antara kami yang cintanya lebih besar, aku percaya diri, akulah juaranya. Ia jatuh cinta padaku pada pandangan pertama, sementara aku jatuh cinta padanya bahkan sebelum aku memandangnya.” – Annisa Larasaty

Rijal selalu mengira dialah yang lebih dulu jatuh cinta pada Laras, tepatnya ketika pertama kali melihatnya membaca puisi di Teater Daun. Dia tak tahu, dan mungkin tak akan pernah tahu, Laras telah jatuh cinta bahkan sebelum bertemu dengannya. Dia juga tak pernah tahu, kehadirannya telah menyembuhkan Laras dari philophobia yang dialaminya selama bertahun-tahun.

Di antara hal-hal yang tidak Rijal tahu itu, ada kenangan masa lalu yang selalu menghantui Laras. Bahkan, di ulang tahun pertama pernikahan mereka, Laras justru Continue reading Terbit 10 April: Konspirasi Semesta

Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal

Dulu, sebagaimana pandangan orang pada umumnya, saya percaya bahwa salah satu modal penting sebuah pernikahan adalah saling mengenal. Sebab, dari saling mengenal itulah bisa diukur kira-kira cocok atau tidak ketika si A menikah dengan si B. Dari saling mengenal itulah bisa lahir satu keyakinan bahwa si A dan si B bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Putus-nyambung-putus-nyambung dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran pun dianggap wajar sebagai ikhtiar untuk saling mengenal. Seolah sulit sekali mencari pasangan hidup yang—dirasa—tepat.

Setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, jatuh bangun membangun rumah tangga, saya rasa ide tentang ‘kewajiban saling mengenal sebelum menikah’ itu bukan satu hal yang mutlak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Rasanya berlebihan sekali.

Dalam arti, saya kira hal itu sebenarnya bisa jadi urutan kesekian.

Saya pertama kali mengenal Vidia Nuarista di akhir tahun 2009. Saat itu, sekadar tahu nama, wajah, jurusan dan segelintir aktivitasnya di kampus. Lalu menjadi semakin kenal di tahun 2011, ketika kami sama-sama menjadi badan pengurus harian di sebuah organisasi. Saya wakil dan ia sekretaris. Tahun 2014, kami menikah.

Jadi, kalau dihitung-hitung, jarak yang terbentang dari jumpa pertama ke pernikahan lebih kurang lima tahun. Sementara jarak antara perkenalan yang lebih dalam ke pelaminan adalah tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, ada banyak hal yang saya catat dari seorang Vidia Nuarista: bagaimana caranya bicara, bekerja, tertawa, menghadapi masalah, dan sebagainya. Termasuk jilbab warna apa yang membuatnya terlihat lebih anggun. Diam-diam dan Continue reading Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal

Membaca Duka

Hari ini, pagi-pagi sekali di dalam kepalaku sudah berputar-putar sekelumit pertanyaan tentang hujan yang turun begitu deras. Terutama, dalam rangka apa ia datang dan mengapa ia mesti datang dengan jumlah banyak. Duka di dalam dada siapa yang ingin ia hapus, atau anak Adam mana di kolong langit ini yang Continue reading Membaca Duka

Seloroh tentang Jodoh & Jatuh Cinta yang Bodoh

“Key, hidup harus terus diteruskan. Lingkaran waktu harus terus berputar. Dan, meski aku tak ingin pergi dan kamu tak ingin aku pergi, hidup sering kali harus dilanjutkan dengan cara yang tak kita inginkan.”

“Barangkali, aku bukan laki-laki terbaik di dunia, karena memang tak ada seorang pun yang sempurna di dunia ini. Aku hanya laki-laki biasa, yang menemukan sebagian dirinya di dalam dirimu.”

“Dan, rasa kehilangan adalah pengalaman ajaib yang membuat kita lebih mengerti tentang rasa memiliki—di mana sepi selalu melubangi benteng air mata, di mana lesat waktu tak bisa kita kejar, di mana jarak tak bisa kita ringkas.”

Tiga paragraf di atas secara acak saya kutip dari novel Jodoh karya Fahd Pahdepie. Bukan kutipan-kutipan yang paling saya suka memang, sebab jika harus menulis kutipan favorit dari novel ini, bisa-bisa saya menyalin setengah atau tiga perempat isi buku. Berlebihan mungkin, tak apa lah. Sebab setiap pujian, kata Fahd, mungkin memang ditakdirkan untuk Continue reading Seloroh tentang Jodoh & Jatuh Cinta yang Bodoh

Waktu & Kesabaran

Allah mencipta begitu banyak pasangan pertanyaan-jawaban, tapi tak selalu menurunkan keduanya di waktu yang sama.

Telah sejak lama aku meyakini ide ini.

Betapa banyak pertanyaan yang berputar di kepalaku ketika kecil, namun baru terjawab saat beranjak dewasa. Aku juga selalu percaya, di kolong langit ini, setiap orang selalu punya satu atau beberapa pertanyaan sulit dalam hidupnya, yang sekeras apapun usahanya mencari jawaban atas pertanyaan itu, tidak jua bertemu. Sampai waktu berlalu dan tabir demi Continue reading Waktu & Kesabaran

Cinta, Beban & Kebutuhan

“Ridha dengan ketetapan Allah yang tidak menyenangkan adalah tingkat keyakinan yang paling tinggi.” Ali bin Abi Thalib

Kalau Allah menetapkan manusia untuk hidup berkecukupan, kalau Allah memberikan berbagai kemudahan dalam setiap usaha yang kita lakukan, kalau Allah jauhkan kita dari berbagai penyakit yang menyengsarakan kita, siapa yang tidak rela? Siapa yang akan protes?

Kalau setiap apa yang kita inginkan terpenuhi, kalau dengan duduk manis nonton TV semua persoalan hidup tuntas, kalau dengan diajak jalan-jalan ke mall setiap hari anak-anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berguna dan berbakti pada orangtua, kalau Continue reading Cinta, Beban & Kebutuhan

Jatuh Cinta di Pagi Hari

Sepagi ini, aku sudah menunggumu.

Bohong kalau aku bilang di tempat biasa, kita tak begitu kerap datang ke sini.

Tapi tentu saja jujur seandainya aku bilang bahwa penantian tak pernah semenyenangkan ini: sepotong roti pagi, susu cokelat tanpa gula, lampu yang remang-remang menggantung, manusia yang lalu-lalang serupa kendaraan di jalan raya, dan pesan singkatmu: sebentar, ini masih terlalu pagi. Aku tersenyum membacanya. Sedari dulu, pagi adalah waktu yang paling tepat untuk jatuh cinta. Dan aku rela membungkus rasa kantukku, menyimpannya untuk kunikmati lagi nanti, demi jatuh cinta di pagi hari.

Menurutku, pecinta paling tulus adalah orang-orang yang bisa jatuh cinta di pagi hari. Ketika manusia dengan rambut belum diperkosa sisir, mulut masih bermentega, dan pipi yang cukup kusut untuk disebut ‘muka bantal’, bisa tersenyum tanpa pretensi sambil mengucap selamat pagi. Bahwa cinta bukan cuma soal ranjang dan pengantar tidur malam.

Di pagi hari, matahari barangkali bisa menggantikan peran cinta untuk menghangatkan. Tapi ketentraman adalah persoalan lain. Sesuatu yang sulit dijelaskan. Kenyataannya, dari sekian mahluk di semesta yang tak lagi bisa dihitung jumlahnya, kaulah yang diutus untuk bertanggung jawab atas persoalan itu. Bahwa cinta bukan cuma soal debar yang Continue reading Jatuh Cinta di Pagi Hari

Baik-baik Saja

Ini adalah cerita tentang diriku sendiri. Kalau kamu juga ikut merasakannya, mungkin karena kita hidup di dunia yang sama. Kalau ada kalimat-kalimat di dalam cerita ini yang terkesan menyindir, aku hanya sedang menyadarkan diriku sendiri. Jika ada kata-kata yang terasa seperti menggurui, aku sejatinya sedang mendidik diriku yang kurang ajar ini.

Aku sebut diriku kurang ajar karena aku sering tak tau diuntung.

Air liurku hampir selalu menetes setiap kali melihat peluncuran gadget-gadget terbaru, yang hadir dengan fitur-fitur yang juga baru. Fitur-fitur baru itu, sebagian aku mengerti sebagian lainnya tidak. Dan aku tak pernah benar-benar tau apakah aku benar-benar Continue reading Baik-baik Saja

Tentang Buku Cinta Adalah Perlawanan

kover w

SEBUAH PENGANTAR

Kalau cinta bertepuk sebelah tangan, lepaskan tanganmu.
Terbang dan kepakkan sayapmu, seluas angkasa biru.

—kata Kahlil Gibran.

Sayangnya, seringkali kita tak pernah benar-benar tahu perihal bertepuk sebelah tangan atau tidaknya perasaan jatuh cinta yang kita punya, sebelum kita sungguh-sungguh mengungkapkannya. Sementara mengungkapkan cinta mengandung tanggung jawab yang besar. Sangat besar.

Menyatakan cinta barangkali tak semudah Continue reading Tentang Buku Cinta Adalah Perlawanan

Segera di Agustus, Buku ke-4: Cinta adalah Perlawanan

Lho kok bukan ‘Konspirasi Semesta’?

Dear sahabat-sahabat pembaca yang budiman di manapun berada. Kali ini saya ingin curhat. Boleh, kan? Boleh lah ya. Udah boleh aja. Terima kasih, saya mulai.

Segera setelah saya merilis buku pertama yang merupakan antologi prosa berjudul Ja(t)uh di awal 2013, ada banyak pesan dari pembaca yang secara umum berbunyi: ‘ditunggu buku selanjutnya’. Saya senang bukan main sambutannya positif. Kurang lebih setahun kemudian, tepatnya Februari 2014 saya merilis Novel ‘Tuhan Maha Romantis’. Tak lama, Continue reading Segera di Agustus, Buku ke-4: Cinta adalah Perlawanan

Ramadhan dan Kekanak-kanakan Kita

Ketika kecil, saya dan teman-teman sepermainan sangat gembira tiap kali Ramadhan datang. Sebab itu artinya, kami akan makan enak (setidaknya di hari-hari pertama), bisa main petasan tiap subuh, ditambah akan ada libur sekolah, baju baru, aneka kue nastar, ketupat sayur, kumpul keluarga, dan tentu saja yang paling dinantikan: salam tempel. Lalu dari tempelan-tempelan salam itu kami akan membeli mainan baru, entah pistol-pistolan atau gamewatch. Meski kadang kami direpotkan dengan Buku Kegiatan Ramadhan yang wajib kami isi, Ramadhan tetap saja menggembirakan. Kehadirannya seperti punya kharisma tersendiri di mata lugu kami.

“Ramadhan itu bulan pembinaan kesabaran”, kata bapak di suatu subuh, “dan sabar, itu artinya tahan terhadap godaan dan teguh terhadap tujuan.”

“Shaum, itu punya dua arti. Dalam arti pasif adalah menahan lapar, haus, dan nafsu lainnya”, katanya lagi di hari yang lain, ”sementara dalam arti aktif adalah melaksanakan Shalat Malam: memasukkan Quran dari ke dalam dada. Siang melawan lapar dan haus, malam melawan kantuk.”

Begitulah. Sementara kami para anak-anak punya cara-cara sendiri dalam menyambut Ramadhan, bapak seperti terlalu serius menghadapinya. Beliau selalu punya nasihat-nasihat yang seringkali lebih mudah dilupakan daripada dipahami.

Apakah semua orang dewasa begitu? Kadang-kadang pertanyaan semacam itu berputar-putar di kepala. Sampai akhirnya, pada satu titik, setelah saya mulai belajar memaknai hidup secara lebih dewasa, setelah saya melalui belasan Ramadhan, entah bagaimana caranya saya menyadari betapa bodoh dan congkaknya saya sebab telah melewatkan momen-momen berharga itu dengan sia-sia.

Saya seperti menemukan jawaban dari pertanyaan itu: ternyata tak semua orang dewasa begitu. Tak semua orang dewasa serius dalam menjalani Bulan Ramadhan. Sebagian masih menghadapinya dengan kegembiraan anak-anak, bahwa Ramadhan adalah pertanda akan adanya liburan, tunjangan hari raya, makanan yang berlimpah, ditambah baju baru. Sempurna.

Alhamdulillah, kita bersyukur Ramadhan (bapak saya menyebutnya VIM, Very Important Month) telah datang untuk Continue reading Ramadhan dan Kekanak-kanakan Kita