Jarak, Jeda, dan Waktu

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tidak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat  berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang. Pasaran. Bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi, dan selama itu, silahkan kamu menunggu.

Kamu selalu bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Mengerti bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya Continue reading Jarak, Jeda, dan Waktu

Mengapa Belum Juga?

Pantai;

Ia telah mengucap janji setianya pada laut. Bahwa ia akan selalu menemani. Kapan pun. Dalam keadaan apa pun. Sedahsyat apa pun hembusan angin—atau bahkan badai—yang mengguncang, yang mengurai tenang jadi gelombang-gelombang yang sulit dikekang, ia akan selalu di sana. Menjadi sahabat paling sejati yang selalu mengerti. Dalam pasang maupun surut. Dalam jernih maupun keruh. Katanya pada laut: tak peduli kamu seberapa pekat, aku akan tetap dekat.

Panas;

Ia telah mengaku jatuh hati pada api. Mengagumi segala pesonanya, dan berikrar dalam hati, ia akan selalu menjadi ruh yang bersemayam dalam raganya. Menjadi rasa paling dikenal. Karena bersama api, ia tahu arus cintanya diberi kanal. Dalam momen destruksi sekalipun, ia selalu bahagia. Dan selalu mengucap harap dalam doa: semoga semuanya abadi. 

Dingin;

Ia sudah terlalu yakin salju adalah muara cintanya. Dan tak tahu lagi harus berkata apa.  Sampai kapan pun, barangkali ia tak akan merindukan salju, karena Continue reading Mengapa Belum Juga?

Percakapan Daun dan Angin

Dalam sejuknya pagi, aku mendengar sayup-sayup angin dan daun sedang bercakap-cakap. Daun bertanya pada angin yang serba tahu.

“Semalam, bukankah hujan turun?”

“Ya, aku juga mendengarnya.”

“Dia bilang apa?”

“Dia bilang, kalau kau punya rasa, biarkan ia terkembang jadi kata.”

Continue reading Percakapan Daun dan Angin

Logika Tuhan

Kamu mencoba mengingat-ingat nasihat itu.

Satu-satunya warisan non-materi ayahmu sebelum ia wafat. Kamu sepertinya lupa, fatal sekali. Padahal kamu tahu, itu wasiat terakhir ayahmu. Harusnya ia bisa menjadi bekal bagimu menjalani hidup—yang kata ayahmu akan semakin berat. Tapi kamu kini lupa.

Waktu memang terasa begitu cepat bagi mereka yang takut. Begitu lama bagi mereka yang menunggu. Kamu kini ada di persimpangan itu. Titik di mana kamu menjadi manusia lemah ‘tak berdaya. Titik temu antara penantian dan ketakutan.

Kamu sedang takut dan menunggu. Dan masih belum ingat ucapan terakhir ayahmu.

“Suster, suster, anak saya sadar.. Ya Allah. Suster, suster, anak saya sadar.”

Samar-samar kamu menatap ke atas. Sambil membuka kelopak mata yang entah berapa lama sudah ‘tak terbuka, pelan-pelan. Kamu masih kenal betul suara itu. Suara ibumu. Tapi kamu masih belum sadar, sedang di mana, apa, mengapa.

26 Maret 2011, sepuluh bulan yang lalu kamu masih baik-baik saja. Sangat baik bahkan. Berkecukupan, tubuhmu sehat dan bugar. Di sana, di ruang keluarga itu, setelah merayakan ulang tahunmu, Ayah dan Ibumu asyik membicarakan pernikahanmu. “Kamu sudah 27 tahun, harus segera, nanti jadi perjaka tua. Kalau kamu belum punya calon, ayah dan ibu bisa jadi perantara. Ayah punya banyak kenalan yang punya anak sebaya denganmu. Apalagi yang kautunggu? Jodoh itu sudah ditentukan, tapi tetap harus dijemput.”, mereka selalu bilang begitu. Padahal, kamu belum mau.

Dalam pikirmu selalu berkecamuk sebuah pertanyaan: “mengapa jodoh harus Tuhan yang menentukan, toh kita sendiri, manusia, yang menjalani”. Kamu selalu meragukan apa-apa yang ditentukan oleh Tuhan. Kamu jadi takut dengan apa-apa yang Continue reading Logika Tuhan

Remang

Di sini, di ruang tamu yang belakangan jadi ruang pribadimu ini, kamu bersembunyi. Menerka-nerka suara langkah kaki, kamu pasti takut kalau-kalau itu dia. Remang, terang, intensitas cahaya dalam ruangan ini, kamu sendiri yang mengendalikan. Kamu ubah-ubah sesuai suasana hatimu, yang nyatanya lebih sering remang.

Kamu takut. Karena itu kamu sembunyi. ‘Apa salahku?’, kamu selalu membatin seperti itu. Seperti orang yang dikepung sekawanan harimau yang sudah berminggu-minggu tak dapat mangsa. Kamu selalu mendramatisasi. Ruangan itu memang lebih sering kamu buat remang.

Kamu malu. Untuk memejamkan mata pun kamu hampir-hampir tidak sanggup—kamu terlalu malu pada gelap. Kamu juga malu pada matahari, yang setia mencintai bumi dengan jaraknya. Pada laut, yang setia mengikat janji dengan pantainya. Pada salju, yang Continue reading Remang

Metafora Jadi Jiwa

Metafora telah menjadi hobi, obat curhat paling mujarab. Lebih manjur dari rintik hujan, lebih ampuh dari sinar bulan. Apapun yang dirintis, pastikan ia tetap manis. Sudahlah, biarkan mereka berbusa mulutnya, berduri matanya, mereka tidak pernah mengerti arti romantis. Arti kerapuhan yang indah, atau ketakberdayaan yang memesona. Yang meruntuhkan langit. Yang menenggelamkan matahari di laut mati.

Aku, Buronan

15 Januari 2012, 03:20 pm

a, kapan libur?”

Sederhana. Pertanyaan itu terlalu sederhana. Dan hanya disampaikan melalui pesan singkat. Tanpa paksaan, tiada pula permohonan. Sebuah pertanyaan wajar seorang ibu pada anaknya.

Ya, itu sekedar pertanyaan biasa. Tapi pertanyaan ini disampaikan atas dasar kerinduan. Atas dasar tatapan yang telah lama tak saling menyapa. Atas dasar punggung tangan yang kering, yang rindu kecupan. Dan kalau kerinduan ini dikategorikan sebagai sebuah tragedi kriminalitas, akulah pelakunya.

Aku sekarang buronan.

29 Januari 2012, 08:55 am

a, rambutan satu dua mulai kuning

Beberapa hari kemudian sebuah pesan singkat dengan nama kontak yang sama muncul lagi di layar ponsel. Sebuah pernyataan yang disampaikan seolah tanpa Continue reading Aku, Buronan

Sendiri

Ia berlari. Mengejar sekawanan ombak yang terus menghantam karang. Padahal Ia tahu, semua itu sia-sia. Entah lah, mungkin baginya tidak ada yang sia-sia. Atau mungkin baginya kesia-siaan punya makna tersendiri. Semacam keindahan, atau keteduhan jiwa.

Karang-karang lalu diam. Menangis. Hanya satu kesadaran bahwa mereka memang dilahirkan untuk dihantamlah yang membuat mereka bertahan. Dan pahitnya, karang-karang itu harus menyaksikan Ia yang sedari tadi berlari. Pahit, karena itu tidak menjadi bagian dari kesadaran mereka.

Kalau kau punya kemauan yang kuat, katanya, semesta akan ikut mendukungmu. Bahu-membahu menyelaraskan inginmu itu Continue reading Sendiri

Diam-diam, Kamu…

Untuk Blog Contest Mizan.com

Kalau kamu curiga mengapa aku jadi suka membaca, salahkan kamu. Kalau kamu bingung mendadak aku jadi doyan menulis, salahkan kamu. Salahkan kamu, kamu, dan kamu. Kamu yang cuma punya satu nama. Ya, kamu. Kamu yang ‘tak pernah mau tahu. Kamu yang ‘tak bicara tapi bercerita. Kamu yang jujur tapi sulit diterka. Kamu yang dengan kronco-kronco idemu bertengger di balik otak, menggoda sekawanan dopamin yang sedang istirahat untuk berpesta.

Sedang apa kamu di sana, menuliskah? Itukah yang kamu lakukan tiap hari, tiap pagi, yang kamu bilang bisa kamu lakukan tanpa perlu mandi?

Continue reading Diam-diam, Kamu…

Belajar

Kamu ingin dikenang. Dirimu yang mini itu mau melompat semaunya, sampai semua merasa ia ada. Daun yang gugur karena umur, anak yang menangis karena dimarahi, kucing yang mendengus mencari kepala ikan, semua mengamini. Semua ingin kaubahagia, dan dikenang.

Tinggallah sekarang kamu yang punya kendali. Semua pintu-pintu kemenangan itu, kamu yang punya kunci. Hanya saja mungkin kamu belum tahu caranya, atau kamu belum menemukan pasangan kunci dan pintu yang serasi.

Meski begitu, jangan kamu bersembunyi.

Kamu terus belajar. Menyaingi aliran hidup yang tak berhenti berputar. Adakalanya ia deras. Adakalanya ia pelan hampir berhenti. Pergunakanlah sebongkah otakmu dengan sebaik-baiknya. Dan semua energi yang Continue reading Belajar

21 Keping Rindu

Menatapi wajah-wajah itu, berarti mendeklarasikan diri bahwa aku siap menitikkan air mata. Bukan karena pola wajah mereka menyedihkan, tapi karena wajah mereka adalah laut yang di dalamnya menyimpan sejuta harta karun kenangan. Harta karun yang hanya bisa ditemukan dengan peta kerinduan. Sebuah peta yang dimiliki hanya oleh para pecinta.

Ini cerita tentang dua puluh satu puzzle kardus merah muda. Tidak terlalu besar. Berbentuk hati bila berpadu dengan tepat. Lembutlah pasti hati yang membuatnya.

Ini cerita tentang dua puluh satu potensi, yang mengadu nasib bersama, dan menamakan diri mereka pahlawan. Dua puluh satu pahlawan yang merasa sedang terpanggil oleh keadaan-keadaan yang harus diselamatkan, dan butuh penyelamat, butuh pahlawan.

Dua puluh satu organisme bernama manusia yang merindukan kedamaian. Atau dua puluh satu jiwa damai yang saling merindu…

Siapa yang bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan. Bahkan mungkin ini adalah dosa terbesar. Kami, telah menjadikan kami keluarga tanpa akad. Siapa pula yang Continue reading 21 Keping Rindu