Barangkali Semacam Surat Cinta

Raut itu… Senyum itu… Tatapan itu…

Rasa ini terlalu sulit didefinisikan. Atau mungkin memang dicipta tanpa definisi. Hanya bisa dirasa. Penaka embun yang menetes di tengah gurun, entah mengapa tawa itu begitu menyegarkan. Membangkitkan gelora jiwa untuk terus menjalani hidup dengan gairah.

Sesosok perempuan lugu yang penuh tanda tanya. Dia hidup dengan caranya, dia mencintai dengan caranya, seperti wanita-wanita lainnya. Tidak begitu pintar, tidak juga terlalu jelita. Biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkahnya, lagi-lagi biasa saja. Tapi entah mengapa ia begitu memesona, membuat relung hati terus bergetar. Aura ketulusannya memancar menembus serat-serat jiwa.

Dialah wanita yang telah melipatgandakan energiku. Dialah wanita yang dengan tingkah lugunya selalu menghiburku. Menjauhkanku dari rasa jenuh. Menghindarkanku dari rasa bosan. Selalu ada semangat yang terbentuk dalam lingkaran aku dan dia. Cinta ini konstruktif. Tidak ada pujian-pujian, hanya cerita yang kadang beriring canda. Tidak ada janji-janji, hanya pancaran semangat. Ya, dengan segala subjektifitas diri ini aku yakin betul: cinta ini konstruktif.

Dia kuncup bunga, dan aku ingin menjadi sinar matahari yang membuatnya mekar. Dia taman gersang, dan aku ingin menjadi hujan yang menghijaukannya. Terlalu hiperbolis untuk diibaratkan sebagai laut dengan pantai. Api dengan panas. Atau salju dengan dingin. Terlalu khayal untuk diibaratkan seperti raja dan ratu. Pangeran dan Tuan Putri. Atau Romeo dan Juliet. Cinta ini tidak serumit itu. Sederhana saja.

Allah telah menciptakan cinta dalam jiwa. Aku ingin merawat ciptaan Allah ini, dalam setiap doa-doaku.

Yang aku rasakan sederhana. Aku bahagia saat dia tersenyum. Aku merasa dewasa saat berada di dekatnya. Aku merasa bisa membuatnya bahagia. Kalaulah memang cinta ini tidak berujung di pelaminan, bantu aku melupakan cinta ini. Tapi kalaulah Engkau telah menakdirkan cinta ini berujud dalam ikatan yang Engkau ridai, tenggelamkan dia dalam lautan cintaku!

 

Kita, Pagi, dan Matahari

Sampaikan salamku pada awan yang tak semestinya mendung, atau daun yang terpaksa menguning. Terlalu lama kita hidup saling berpunggungan. Asumsi mengelus asumsi, tak pernah ada kesempatan untuk hati bicara arti. Kita terjebak dalam jurang kecemburuan, di bawah megahnya langit egoisme. Membiarkan logika bisu terus bicara, tanpa pernah bertegur sapa; ‘Hai, apa kabar? Masihkah kita bisa saling mengisi jiwa, atau sekedar menyumbang  doa?’. Jangan tanya aku jawabnya apa.

Tidak, kita tidak saling membenci. Kita hanya belum saling mengenal.

Selayaknya kita bisa bicara pagi, tanpa harus bertengkar di malam hari. Kita bisa bicara matahari, tanpa harus berebut bulan.

Karena pagi akan tetap ada tanpa adanya kita, dan matahari juga pasti hadir. Dan akan selalu hadir. Sampai langit bertemu bumi. Maka suatu saat nanti sebelum itu terjadi, izinkan aku jadi darah dalam nadimu, yang tak kau rasa, tapi diam-diam menghidupi.

telah-dibukukan

Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu

Ada yang kurang. Seperti ada potongan cerita yang hilang. Atau terhapus. Harusnya tak berakhir begini. Tapi, inilah yang terjadi. Memang harus ada yang terluka. Dan biarlah itu aku sendiri.

Tubuhku sama sekali tidak gemetar. Tidak juga ada titik air dari mata, sekedar kaca-kaca pun tidak. Mereka bilang sakit hati lebih menyedihkan dari pada sakit gigi. Tapi aku tidak tahu benar, sedang patah hatikah aku. Hanya ada perasaan iri pada benda-benda mati yang bisa selalu berada di sampingnya. Juga pada hewan-hewan kecil yang mungkin luput dari pandangannya. Tapi mereka bisa dekat, bisa menyapa, bisa menatap. Dan bagiku itu sudah cukup.

Continue reading Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu