Kita, Pagi, dan Matahari

Sampaikan salamku pada awan yang tak semestinya mendung, atau daun yang terpaksa menguning. Terlalu lama kita hidup saling berpunggungan. Asumsi mengelus asumsi, tak pernah ada kesempatan untuk hati bicara arti. Kita terjebak dalam jurang kecemburuan, di bawah megahnya langit egoisme. Membiarkan logika bisu terus bicara, tanpa pernah bertegur sapa; ‘Hai, apa kabar? Masihkah kita bisa saling mengisi jiwa, atau sekedar menyumbang  doa?’. Jangan tanya aku jawabnya apa.

Tidak, kita tidak saling membenci. Kita hanya belum saling mengenal.

Selayaknya kita bisa bicara pagi, tanpa harus bertengkar di malam hari. Kita bisa bicara matahari, tanpa harus berebut bulan.

Karena pagi akan tetap ada tanpa adanya kita, dan matahari juga pasti hadir. Dan akan selalu hadir. Sampai langit bertemu bumi. Maka suatu saat nanti sebelum itu terjadi, izinkan aku jadi darah dalam nadimu, yang tak kau rasa, tapi diam-diam menghidupi.

telah-dibukukan

Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu

Ada yang kurang. Seperti ada potongan cerita yang hilang. Atau terhapus. Harusnya tak berakhir begini. Tapi, inilah yang terjadi. Memang harus ada yang terluka. Dan biarlah itu aku sendiri.

Tubuhku sama sekali tidak gemetar. Tidak juga ada titik air dari mata, sekedar kaca-kaca pun tidak. Mereka bilang sakit hati lebih menyedihkan dari pada sakit gigi. Tapi aku tidak tahu benar, sedang patah hatikah aku. Hanya ada perasaan iri pada benda-benda mati yang bisa selalu berada di sampingnya. Juga pada hewan-hewan kecil yang mungkin luput dari pandangannya. Tapi mereka bisa dekat, bisa menyapa, bisa menatap. Dan bagiku itu sudah cukup.

Continue reading Biar Rindu Tak Lagi Mengelus Rindu