Tentang Kenangan

“Kenangan hanyalah hantu di sudut pikir”, kata Luhde dalam Perahu Kertas.

Entah dipandang dari sudut mana hantu yang dimaksud oleh Luhde. Mungkin dari sisi kejahatannya, sosoknya yang menyeramkan dan mengganggu, membuat ketenangan meninggalkan kita jauh-jauh. Atau mungkin dari sisi kebiasaannya, kadang hilang, kadang muncul tiba-tiba. Seperti itukah kenangan?

Bagi saya sendiri, kenangan adalah rangkaian jembatan masa lalu, yang pernah mengantarkan kita sampai titik ini. Kenangan adalah jalan panjang yang akan terlihat saat kita menengok ke belakang, sekaligus menjadi rasa yang tercipta selama perjalanan. Maka kenangan itu sampai sekarang hidup. Ia bukan hantu. Ia juga bukan pengganggu. Kenangan adalah malaikat yang diturunkan ke dalam kehidupan kita agar kita belajar, maka kenangan adalah guru. Kenangan adalah mawar, adalah awan, adalah udara, adalah mimpi, adalah energi, adalah Continue reading Tentang Kenangan

Diari Tanah-Laut

14.15

Hari ini angkasa seperti dibius. Ia tak berdaya memajang awan-awan cerahnya. Siapa yang meneteskan tinta pada lautan awan? Mereka kini menjadi hitam. Bersiap menyulap diri menjadi butiran hujan. Mengepung burung-burung di bawah dedaunan. Menggiring itik-itik meneduh. Dan aku akan setia di dalam kotak seng beroda ini sampai pantai menyambut. Setia berhimpun dengan organisme sejenisku dalam balutan busana-busana yang berbeda. Di samping seorang wanita dengan earphone tertanam di kedua kupingnya, yang belum kutanya siapa; ‘belum ada bahan pembicaraan, atau sekedar pemantik sapa’. Tiga kursi dari tempat dudukku sekarang, sepotong kepala bulat ‘tak berambut menyembul dari balik kursi. Ia sedari tadi celingak celinguk tidak karuan, sedang gelisah sepertinya, peduli apa aku. Ucapkan selamat kepada pak supir yang sedari tadi mencoba menyalib truk dan kini akhirnya berhasil.

14.48
Rumah-rumah, kios oleh-oleh, pepohonan, pabrik, dan beberapa instrumen penghuni pinggir jalan lainnya bergantian mengisi pandangan. Lihat itu durian-durian sedang dijajakan. Durian, ia mengingatkanku pada seseorang. Bukan! Bukan Julia Perez. Sudahlah, membicarakan ia hanya Continue reading Diari Tanah-Laut

Mereka yang Bahagia dalam Sembunyi

Ada sebuah kisah yang layak dikasihani tentang matahari dan bulan. Kisah tentang pertemuan yang tak kunjung berujud. Tentang kerinduan yang harus dipendam. Dan dikekang takdir.

Matahari adalah cerita tentang keperkasaan. Maskulinitas yang tidak berbatas. Tentang semangat yang menggelora.

Matahari adalah cerita tentang dia yang populer. Yang dipuja, dikultuskan. Tapi matahari juga adalah cerita tentang dia yang kesepian. Yang butuh sentuhan lembut dan perhatian. Mungkin butuh teman untuk bercerita. Atau sekadar bercermin muka.

Bulan adalah cerita tentang kelembutan. Tentang ruh feminin yang berujud bulat, lugu, lucu, dan manis. Tentang cahaya yang menenangkan. Bulan adalah cerita tentang keindahan, tentang objek tatapan mahluk-mahluk malam, tentang isi jutaan puisi. Tentang dia yang dirindukan oleh para pujangga.

Tapi bulan juga tidak sanggup sendiri. Ia ingin punya sahabat untuk menemani, untuk Continue reading Mereka yang Bahagia dalam Sembunyi

Dan Ternyata, Rindu…

“Satu kejujuranku, kuingin jadi cicak di dindingmu. Cicak di dindingmu…”

Sepenggal lirik Dewi Lestari itu seolah mewakili apa yang kini di dalam hati. Perasaan rindu, yang mungkin hanya bisa dilukiskan oleh kuas paling ajaib yang ada di muka bumi. Perasaan yang seolah tak punya akhir. Terus menderu. Terus menyayat. Terus menjerit.

Pasti ada titik temu yang bisa menjelaskan semua ini. Sebuah koordinat di atas bumi, yang di sana ia duduk di bangku taman, menantikan kedatangan seorang pangeran yang telah lama ia damba. Dan di sekeliling taman itu, mekar bertangkai-tangkai mawar kuning yang Continue reading Dan Ternyata, Rindu…

Kadang Kita

Kadang kita tak butuh jawaban. Tak butuh penjelasan. Hanya ingin bercerita. Hanya ingin didengar. Hanya ingin bercengkrama. Hanya ingin bercanda.

Kadang kita menipu diri sendiri. Memutar balik. Alasan menjadi akibat. Akibat jadi alasan. Hanya ingin dekat. Dan resah bila jauh. Dan rindu. Dan kurang. Dan hampa.

Kadang kita tidak ingin berucap. Hanya ingin menatap. Hanya ingin tentram. Hanya ingin tenang. Dan sejuk. Dan syahdu. Dan Continue reading Kadang Kita

Lupakanlah Cinta!

Hati itu nampaknya terlalu dalam untuk diselami. Sepertinya segala daya dan upaya yang telah dipersiapkan untuk misi membongkar misteri keluguan itu harus dihentikan di sini. Terlalu ambisius mempertahankan cinta jiwa yang tak jelas muaranya. Yang ada sekarang hanya rasa ingin tahu yang harus dikubur oleh realitas ketidakpastian. Semua tiba-tiba sirna, atau kalaupun masih ada, anggap saja itu sudah sirna. Itu resiko, resiko cinta jiwa. Karena jiwa tak selalu bertemu dengan jiwa. Kadang ia harus berbenturan dengan kenyataan hidup yang dalam subjektivitas pecinta itu begitu tidak adil dan menyakitkan. Kadang dia juga sengaja dipertemukan dengan bentuk lain, akhirnya cinta tidak dapat menyatu.

Cinta sudah membara, obsesi sudah menggelora, tapi takdir tidak mampir di sini. Ia terlalu sombong. Realitas ini begitu sadis… Gairah kehidupan seperti dikungkung oleh kekejaman takdir. Tidak ada lagi senyum terlempar, kini diri ini seperti perahu tanpa layar. Termangu di tengah laut lepas. Tidak tahu arah. Kalaupun tahu, tidak tahu bagaimana mengikuti arah itu. Serat-serat jiwa kembali mengerut, seluruh katup-katup hati tertutup. Cinta selalu berakhir dengan derita, kata Jenderal Tien Feng.

Itulah yang dirasa, kalau kita terlalu serius memaknai cinta jiwa. Karena cinta jiwa terlalu instan, tidak dibangun dengan fondasi yang kokoh. Karena kadang cinta jiwa hanya dibangun di atas obsesi kebanggaan, atau mungkin penetrasi kegelisahan. Sebab itu Anis Matta mengajak kita melupakan cinta jiwa yang tidak berujung di pelaminan. Itu terlalu menyakitkan. Karena hanya Continue reading Lupakanlah Cinta!

Di Batas Sunyi

Aku sedari dulu selalu merasa cukup memandangmu dari sudut ini. Dari balik dinding hatiku yang kadang runtuh diterpa sapa, atau sekadar senyum. Menghayati sesosok bidadari dengan cara yang paling sulit dimengerti.

Kala kaumenatap, itulah kala kuharus terpejam—aku tak sanggup. Kala kau bersuara adalah kala kuharus menutup telinga, atau menjauh, atau bersembunyi di balik dinding paling kedap suara yang bisa kutemui. Engkau adalah sejumput keindahan dari milyaran anugrah tuhan, representasi keteduhan abadi tak terperi.

Aku ingin bertengger di batas kesunyian. Menikmati kepecundangan ini sendirian. Biar tak ada yang tahu.

Jiwaku berhamburan tak teratur. Aku makin melantur. Hanya ingin tidur, dan Continue reading Di Batas Sunyi

Untuk Seorang Sahabat

Sampai pada suatu hari, kita hanya diam. Sama-sama bungkam. Di antara kita tidak ada dendam. Namun jauh di balik hatiku, ada duka bersemayam. Wajahmu yang biasanya punya ekspresi beragam kini hanya muram. Dan selalu muram.

Kita kadang masih saling melempar senyum. Tapi tak seikhlas dulu. Tak setulus waktu itu. Waktu kita tak hanya diam. Waktu kita menghabiskan waktu untuk Continue reading Untuk Seorang Sahabat

Barangkali Semacam Surat Cinta

Raut itu… Senyum itu… Tatapan itu…

Rasa ini terlalu sulit didefinisikan. Atau mungkin memang dicipta tanpa definisi. Hanya bisa dirasa. Penaka embun yang menetes di tengah gurun, entah mengapa tawa itu begitu menyegarkan. Membangkitkan gelora jiwa untuk terus menjalani hidup dengan gairah.

Sesosok perempuan lugu yang penuh tanda tanya. Dia hidup dengan caranya, dia mencintai dengan caranya, seperti wanita-wanita lainnya. Tidak begitu pintar, tidak juga terlalu jelita. Biasa saja. Tidak banyak bicara, tidak banyak tingkahnya, lagi-lagi biasa saja. Tapi entah mengapa ia begitu memesona, membuat relung hati terus bergetar. Aura ketulusannya memancar menembus serat-serat jiwa.

Dialah wanita yang telah melipatgandakan energiku. Dialah wanita yang dengan tingkah lugunya selalu menghiburku. Menjauhkanku dari rasa jenuh. Menghindarkanku dari rasa bosan. Selalu ada semangat yang terbentuk dalam lingkaran aku dan dia. Cinta ini konstruktif. Tidak ada pujian-pujian, hanya cerita yang kadang beriring canda. Tidak ada janji-janji, hanya pancaran semangat. Ya, dengan segala subjektifitas diri ini aku yakin betul: cinta ini konstruktif.

Dia kuncup bunga, dan aku ingin menjadi sinar matahari yang membuatnya mekar. Dia taman gersang, dan aku ingin menjadi hujan yang menghijaukannya. Terlalu hiperbolis untuk diibaratkan sebagai laut dengan pantai. Api dengan panas. Atau salju dengan dingin. Terlalu khayal untuk diibaratkan seperti raja dan ratu. Pangeran dan Tuan Putri. Atau Romeo dan Juliet. Cinta ini tidak serumit itu. Sederhana saja.

Allah telah menciptakan cinta dalam jiwa. Aku ingin merawat ciptaan Allah ini, dalam setiap doa-doaku.

Yang aku rasakan sederhana. Aku bahagia saat dia tersenyum. Aku merasa dewasa saat berada di dekatnya. Aku merasa bisa membuatnya bahagia. Kalaulah memang cinta ini tidak berujung di pelaminan, bantu aku melupakan cinta ini. Tapi kalaulah Engkau telah menakdirkan cinta ini berujud dalam ikatan yang Engkau ridai, tenggelamkan dia dalam lautan cintaku!

 

Kita, Pagi, dan Matahari

Sampaikan salamku pada awan yang tak semestinya mendung, atau daun yang terpaksa menguning. Terlalu lama kita hidup saling berpunggungan. Asumsi mengelus asumsi, tak pernah ada kesempatan untuk hati bicara arti. Kita terjebak dalam jurang kecemburuan, di bawah megahnya langit egoisme. Membiarkan logika bisu terus bicara, tanpa pernah bertegur sapa; ‘Hai, apa kabar? Masihkah kita bisa saling mengisi jiwa, atau sekedar menyumbang  doa?’. Jangan tanya aku jawabnya apa.

Tidak, kita tidak saling membenci. Kita hanya belum saling mengenal.

Selayaknya kita bisa bicara pagi, tanpa harus bertengkar di malam hari. Kita bisa bicara matahari, tanpa harus berebut bulan.

Karena pagi akan tetap ada tanpa adanya kita, dan matahari juga pasti hadir. Dan akan selalu hadir. Sampai langit bertemu bumi. Maka suatu saat nanti sebelum itu terjadi, izinkan aku jadi darah dalam nadimu, yang tak kau rasa, tapi diam-diam menghidupi.

telah-dibukukan