Mahar untuk Maharani

Dikiranya, suatu hari ia akan taubat dan belajar menjadi orang yang benar karena azab atau badan yang sudah bau tanah. Disangkanya, akan ada satu momen yang membawanya ke titik kehancuran, hingga ia tak lagi punya pilihan kecuali terus bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Rupanya tidak. Perasaan jatuh cintalah yang mengubah Salman, memberinya energi untuk secara sukarela menyulap dirinya menjadi orang yang sama sekali berbeda. Lalu adalah Maharani, orang paling bertanggung jawab atas episode hidup yang baru itu. Sejak pertemuan kembali dengan Maharani, perempuan yang pernah menjadi teman masa kecilnya, Salman melanjutkan hidup dengan moto yang begitu gagah: Amor Vincit Omniacinta menaklukkan segalanya.

Di lain sisi, Dimas, sahabat karibnya yang selama hidup sudah berpacaran dengan lima belas perempuan yang berbeda, tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Barangkali karena baginya, cinta pertama ada memang bukan untuk dilupakan. ‘Orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah dengan cinta pertamanya.’ tulisnya di blog suatu hari,  ‘Sebab pernikahannya tak akan dibayang-bayangi oleh kenangan-kenangan manis bersama orang lain. Bahkan, meski setelah cinta pertama itu ada cinta-cinta selanjutnya, tak ‘kan ada manusia yang benar-benar sanggup melupakan cinta pertamanya.”

Maharani, tanpa perlu banyak pertimbangan, telah memantapkan hatinya untuk Salman. Sayangnya, kemantapan hati yang sama tak dirasakan oleh Pak Umar. Sebagai ayah, ia tak mau anak perempuan satu-satunya terbuai omong kosong soal cinta. Baginya, segalanya sederhana saja. Kalau seorang laki-laki belum selesai dengan dirinya, tiada mungkin ia bisa membahagiakan orang lain. Dalam hal ini, posisi Dimas di atas angin: lulus 3,5 tahun, berpekerjaan tetap yang gajinya lebih dari cukup untuk sebuah rumah tangga baru, sudah punya mobil walau cicilan, dan anak Pak Haji Kahfi—orang terpandang di Dusun Sukatani sekaligus sahabat baik Pak Umar.

Berlindung di balik Sabda Rasulullah ‘…tidak dinikahi seorang gadis kecuali atas izinnya,’ untuk kali pertama dalam hidupnya Maharani melawan keputusan Sang Ayah. Pak Umar melunak. Salman diberi waktu satu tahun untuk menyelesaikan kuliah, memiliki pekerjaan yang pantas, dan menyiapkan Mahar terbaik untuk menikahi Maharani. Konyolnya, setelah mendapat gelar sarjana dari Universitas Indonesia, Salman justru pulang ke kampung halaman dan memilih untuk menanam kangkung di ladang depan rumahnya.

Maharani mencoba mengerti. Pak Umar mengerutkan dahi—ia tak rela putri kesayangannya menikah dengan seorang petani.

***

Kata Pembaca

“Membaca novel ini sungguh sangat menyenangkan sekaligus mendebarkan. Penuturan Mas Azhar yang lebih dalam dibanding novel-novel sebelumnya, latar-latar cerita lain yang apik setiap transisinya, dan fakta-fakta yang disajikan semakin membuat novel ini greget abis. Novel ini fiksi. Tapi data-data yang disajikan melengkapi dia menjadi semakin nyata. Pengemasan nilai-nilai kebaikannya juga terasa lebih natural dan berimbang. Kalau novel-novel sebelumnya sangat kental nuansa religi, di Mahar untuk Maharani juga terasa tapi sangat halus penyampaiannya dalam setiap adegan.” – Anna Nurjanah, Pembaca
ㅤㅤ
“Novel ini dikemas dengan ringan dari segi bahasa maupun runut peristiwanya. Jalan ceritanya seolah dicomot dari kejadian yang dekat dengan sehari-hari. Masalah klasik dalam pengerjaan skripsi; pandangan-pandangan sebelah mata pada pekerjaan seorang petani; pembandingan dengan pencapaian orang lain; pengalaman patah hati; menentukan pilihan; kerja keras dan buah manisnya yang disesap Ajran; dan lain sebagainya.” – Laila Nur Fatimah, Pembaca
ㅤㅤ
“Saya mulai nggak sadar nangis pas bab ‘Hujan Air Mata’ dan ‘Tunggul Badag’. Parah sih, emosional banget. Tapi bagian terfavorit saya adalah bab ‘Sprinkler yang Pengertian’. Rasanya pingin ngakak tapi kasihan. Jadi saya milih ngakak sih, kan yang emosionalnya udah di bab sebelumnya. Hehehe… Novel setebal 250 halaman ini keren sekali. Saya baca buku ini dari pukul 22.00 dan tidak berhenti hingga akhirnya selesai pas dini hari.” – Anisa Nurul Azkiya, Pembaca

Buat Blog

Judul: Mahar untuk Maharani (2017)
Penerbit: Lampudjalan
Tebal: 250 hlm
Harga: Rp 59,000

Buku ini tidak tersedia di toko buku. Untuk mengoleksi, kirimkan data nama, alamat, no. HP & judul yang dipesan ke Admin azharologia (WA 081212340604) atau pesan via azharologia store di Shopee (klik shopee.co.id/azharologia).

Lihat katalog karya saya yang lain di azharologia.com/koleksi. Ada harga spesial untuk pembelian Paket Bundel & Paket Novel. Selamat mengoleksi. 🙂

SaveSave

SaveSave

33 thoughts on “Mahar untuk Maharani”

  1. Baca dari sinopsisnya, kayaknya novel ini sejenis ya dengan Novel TMR. Di TMR ada Rijal Laras, di sini ada Salman Maharani. Selamat mas azhar, saya turut senang mas rilis novel roman lagi. Gak sabar pengen baca. Mau order bareng temen-temen ah biar hemat ongkir, hihi… Beli 5 buku masih dihitung 1 kg atau lebih ya? 😀

  2. Ceritanya seruuuu😊😊, jdi ngerasa diperjuangin karna memakai nama Maharani😉😉….
    Pengen pesan gmna caranya ya kk?

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s