Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Inilah hidup: betapa banyak peristiwa romantis yang tak pernah benar-benar kita rencanakan. Seperti, barangkali perjumpaan kita. Dan sampainya kita di titik ini.

Suatu hari di bulan Oktober 2009.

Di ruang kelas mungil itu, pertama kali aku mendengar namamu, sekaligus mengambil satu kesimpulan kecil: wajah yang indah selalu bersanding dengan nama yang indah. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan bagiku. Dan kamu, dengan wajah yang tampak susah payah menutupi kegugupanmu duduk di depan. Seingatku, di kursi sebelah kiri dari arahku. Detik itu, aku tengah menanti giliran untuk kau panggil.

Kira-kira itulah ingatan tentang jumpa pertama kita yang mampu kugali dalam memoriku.

Perjumpaan pertama kita memang bukan tabrakan tak sengaja a-la sinetron di koridor kampus yang membuat buku-buku yang kau bawa di tanganmu jatuh berserakan, kemudian aku yang merasa bersalah setengah mati meminta maaf sambil bantu membereskan, diikuti dengan dua pasang Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Aku Tanpamu, adalah…

Apa yang bisa menahan manusia, dari keinginan untuk memiliki setiap hal yang memukau di dunia? Apa yang bisa membunuh berahi manusia untuk mengoleksi setiap inci keindahan yang membentang di semesta? Apa yang bisa memaku waktu, untuk berhenti beberapa detik saja, demi mencipta satu ruang untuk merayakan satu perasaan sunyi, tanpa teriakan dan tepuk tangan, tanpa hujatan juga makian?

Apa yang bisa melakukan berbagai hal magis itu, jika bukan cinta yang hadir bersama seorang perempuan lugu. Didekapnya cinta itu seraya bibir tipisnya tersenyum lalu dengan lembut berbisik: kita akan baik-baik saja.

Dan semua memang baik-baik saja.

Perut kita kenyang dengan sepiring cinta yang kita makan berdua, kau menyuapiku seperti Continue reading Aku Tanpamu, adalah…

Kemauan yang Tak Mau Sendirian

Pada suatu hari, kita adalah sepasang manusia pemalu. Maksudku, dua manusia pemalu—memangnya siapa aku memasang-masangkan aku dan kamu? Lalu kita memutuskan untuk mengambil langkah-langkah kecil untuk saling mendekat. Di sana memang ada keyakinan yang besar, tapi ketakutan tak begitu saja luput. Ia terus ada mencipta gelisah, sementara tangan kita saling menggenggam dan mencoba untuk melawan semuanya: kita pasti bisa melewati ini.

Dulu, perasaanku adalah sebuah rahasia kecil, dan ketidakpedulianku atas setiap hal yang berkaitan dengan dirimu adalah sandiwara yang menyakitkan. Sampai akhirnya kita mencoba untuk saling bicara, bahwa memang ada cinta di sana yang telah lama menanti untuk kita rayakan—entah sejak kapan. Lalu kau tenggelam dalam pelukku, dan tanpa perlu bersuara, pesan itu sampai: bawa aku ke mana pun kau mau.

Kini, telah sampai kita di sini. Mengucapkan selamat tinggal pada segala jenis ketakutan yang Continue reading Kemauan yang Tak Mau Sendirian

Kunci

Dulu sekali, aku kerap bilang: aku pelupa akut. Tapi tentangmu, aku pengingat yang baik—entah bagaimana caranya.

Jarak dan waktu selalu saja berusaha menggerogoti setiap memori yang kusimpan di kepalaku, dengan atau tanpa izin. Tapi, ingatan tentangmu pengecualian. Gambar-gambarmu adalah pantangan bagi mereka—benda langka yang haram untuk dijamah barang secuil.

Aku memprediksi kemungkinan lain. Boleh jadi, selama ini semua cerita tentangmu tak kusimpan di kepala. Melainkan dalam hati—ruang suci yang terkunci.

Dan jangan sesekali tanya aku di mana kuncinya.

Mungkin, dulu pernah tanpa sadar kubuang.  Aku tidak tahu. Kali ini aku lupa. Sekalipun aku tahu, satu-satunya hal yang akan kulakukan adalah pura-pura tidak tahu.

jj2

SaveSave