Mencintai Diri Sendiri

NARSIS!

Kemungkinan besar, itulah kata yang langsung muncul di kepala setiap kita mendengar frase ‘mencintai diri sendiri’. Ada kesan sombong, kekaguman yang berlebihan, dan tentu saja, keegoisan yang menyebalkan. Bisa dipastikan, tak ada satu pun dari kita yang bersimpati kepada orang yang sejak bangun tidur hingga tidur lagi terus menerus memuji diri dan memamerkan aneka kelebihan yang dimilikinya.

Orang yang seperti itu, memang baiknya tak ada di lingkaran pertemanan. Juga, tak muncul di lini masa media sosial kita. Kalau terpaksa menemukan mereka di daftar video trending Youtube, ya sudah, abaikan saja.

Jadi, tidak bolehkah kita mencintai diri sendiri?

Menurut saya, HARUS.

Lho, bagaimana sih?!

Begini. Saya kira, tiap-tiap kita harus mencintai diri sendiri, dengan makna cinta yang dewasa. Cinta yang tak sekadar rasa kagum yang penuh puja-puji.

Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu lakukan sepanjang hari hanyalah mengagumi keindahannya, memuji keelokan parasnya, masihkah itu bisa disebut cinta? Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu pikirkan setiap hari hanyalah keinginan untuk memiliki dan menguasainya, untuk dipamerkan kepada dunia sehingga semua orang di muka planet ini tahu betapa hebatnya dirimu, masihkah itu disebut cinta?

Bukankah sesungguhnya di dalam kata ‘aku mencintaimu’ terkandung satu komitmen untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan?

Jadi, mari kita cintai diri kita sendiri, dengan pengertian yang dewasa itu. Mari kita cintai diri sendiri, tidak dalam pengertian narsistik.

Ini soal membangun hubungan mendalam dengan Continue reading Mencintai Diri Sendiri

Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu.

Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti.

Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu.

Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri.

Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka.

Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh.

Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan Continue reading Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

Seperti Hujan

Sore ini hujan turun lagi. Bukan hujan deras, tetapi tidak juga bisa dibilang gerimis. Yang pasti, cukup untuk menahanku meringkuk sendiri di dalam ruang mungil ini, menatap kosong ke luar jendela yang tirainya kubiarkan terbuka.

Hujan turun perlahan, sesekali meliuk serentak ditabrak angin. Di tiap-tiap rintiknya, aku melihat wajahmu, berjatuhan menyerang bumi. Sebagian dari mereka jatuh menabrak genting, menimbulkan bunyi yang juga terdengar seperti bisikanmu. Aku masih ingat bagaimana suara itu terdengar, ketika dulu kau bilang, “Aku sepertinya tak bisa menunggu.”

Kupikir-pikir, kamu itu memang seperti hujan, yang turun ketika ingin turun. Dan pergi jika sudah waktunya pergi. Hujan bisa datang dengan atau tanpa tanda-tanda, dengan atau tanpa aba-aba.

Tidak salah lagi. Kamu betul-betul Continue reading Seperti Hujan

Kehilangan yang Membahagiakan

12 Oktober 2018 lalu adalah hari ke-100 sejak saya memulai program #100HariBerlari. Meski status saya saat ini masih overweight (TB: 174 cm, BB: 76,5 Kg), saya cukup senang akhirnya bisa menulis perjalanan seratus hari ini dengan perasaan lega. Memang, tadinya, saya berniat menjuduli tulisan ini ‘Bagaimana Saya Kehilangan 20Kg dalam 100 Hari’. Pasti lebih bombastis! Namun, Rupanya, ternyata target saya meleset. Selama seratus hari ini, saya hanya mampu menurunkan 15,5 Kg berat badan.

Bagaimanapun, sebenarnya itu sudah cukup membahagiakan. Karena itu, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman ini. Mungkin saja, kamu, atau orang yang kamu sayangi membutuhkannya.

Secara sederhana, apa yang saya lakukan secara konsisten selama 100 hari ini hanya dua: meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi asupan karbohidrat. Jadi, kalau kamu malas membaca lebih jauh lagi karena tulisan ini dirasa terlalu panjang, kamu bisa berhenti di sini dan langsung lakukan dua hal tersebut.

Mengapa Saya Menjalani Program Ini

Kira-kira dua minggu setelah lebaran, saya dibikin stres oleh sepasang angka. Setelah berminggu-minggu tak memantau berat badan karena saya menghabiskan separuh terakhir Ramadan di Lampung & libur lebaran di Gresik, sesampainya di Depok saya mendapat ucapan selamat datang yang fantastis: timbangan saya menunjukkan angka 92. Angka itu adalah rekor terbaru, karena sebelumnya, saya tak pernah sampai sana.

Di penimbangan sebelumnya, kira-kira awal Ramadan, berat badan saya masih 89Kg. Dengan tinggi badan 174cm, tentu kita bisa sama-sama menghitung, baik 89Kg maupun 92Kg, keduanya menunjukkan bahwa saya sudah mengidap Obesitas Tahap I. Kalau ada yang tak percaya berat badan saya pernah mencapai angka itu, saya harus katakan bahwa saya juga demikian.

Kira-kira, itulah momen awal dari program #100HariBerlari. Sebuah angka yang secara psikologis membuat saya tertekan. Tekanan semakin bertambah ketika pada hari Minggu tak lama setelah saya mendapati angka itu, saya dan keluarga berjalan-jalan di UI. Kami parkir motor di dekat pintu kukel dan tak lama setelah kami berjalan memasuki UI, kami melihat seseorang yang badannya besar sekali berlari terengah-engah. Saya perkirakan berat badan orang tersebut ada di angka Continue reading Kehilangan yang Membahagiakan

Telah Terbit: Lelaki Pilihan Maharani

Setelah merilis novel ‘Mahar untuk Maharani‘ pada bulan Desember 2017, hidup saya tak pernah tenang. Di setiap kesempatan membuka Direct Messages Instagram, ada saja pembaca yang menagih agar kisah Salman & Maharani segera dilanjutkan. Tentu saja, desakan itu disertai ekspektasi masing-masing yang beragam.

Saya memang sudah merencanakannya, bahkan sebelum ‘Mahar untuk Maharani’ selesai ditulis. Itu sebabnya, saya sering menyebut-nyebut istilah Serial Maharani. Sejak mula, kisah Maharani ini memang akan jadi beberapa buku berkelanjutan. Tetapi, tentang bagaimana kelanjutannya dan akan jadi berapa buku, saat itu belum saya pikirkan. Saya hanya memberi ‘koma’ di akhir cerita, yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai pintu gerbang menuju kisah berikutnya.

Akhir Agustus 2018, alhamdulillah, Buku Ke-2 Serial Maharani selesai ditulis dan diberi judul Lelaki Pilihan Maharani. Terus terang, saya cukup terkesan dengan antusiasme pembaca terhadap Serial Maharani, mengingat banyak sekali eksperimen yang saya lakukan di dalamnya. Pembaca karya saya sejak era novel Tuhan Maha Romantis (2014), barangkali bisa merasakannya. Betapa Serial Maharani adalah suguhan yang sangat berbeda dari Dwilogi Tuhan Maha Romantis.

Serial Maharani Blog

Di dalam Serial Maharani, saya menggunakan sudut pandang orang ketiga, mengurangi penggunaan kalimat-kalimat puitis, berfokus kepada internal struggle protagonis, detail adegan dan pendalaman karakter, serta menaikkan kadar humor. Tentu akan ada Continue reading Telah Terbit: Lelaki Pilihan Maharani

Aku Masih di Sini

Aku masih di sini dan begini: berlari di atas lintasan yang sama, dengan irama langkah yang itu-itu saja.

Aku masih di sini dan begini: tersenyum hanya karena mendengar musik yang kusuka sejak bertahun-tahun lalu, bersiul dengan nada yang sama.

Dan aku masih di sini dan begini: menatap rindang pohon sambil menggenggam jemarimu, hingga lupa ternyata waktu terus berlalu.

Satu dua daun gugur …. Continue reading Aku Masih di Sini

Alhamdulillah…

Nak, terus terang papa tak benar-benar yakin dari mana harus memulai catatan ini. Jika harus membuka tulisan dengan memilih satu momen terindah sejak kelahiranmu ke dunia, papa juga bingung. Setiap detik yang dijalani sejak kehadiranmu, terasa seperti keajaiban. Dan apakah kata yang paling tepat untuk keajaiban yang terjadi sepanjang waktu? Barangkali keberkahan.

Maka papa memutuskan untuk memulai catatan ini dengan mengucap syukur atas segala nikmat ini. Alhamdulillah… Semoga kita senantiasa menjadi penyanjung hidup menurut ilmu Allah, Pembimbing Semesta Kehidupan.

Alhamdulillah… Tak sampai satu minggu lagi, jika Allah mengizinkan, usiamu genap satu tahun. Jika papa atau mama berkata bahwa perjalanan selama setahun ini tidak terasa, tentu kami berbohong. Kehadiranmu bukan hanya menjadi penyejuk bagi pasang mata kami sehingga lebih semringah dalam memandang hidup, tetapi juga memaksa kami mendobrak sisa-sisa benteng egoisme yang selama tiga tahun pernikahan masih saja terpelihara. Tingkahmu bukan hanya manjur membuat kami tersenyum atau tertawa, tetapi juga sesekali membuat kami bertengkar, berdebat, yang pada kadar tertentu membuat kami semakin dewasa. Membuat kami sadar bahwa kami telah menjadi orang tua.

Nak, jujur saja, di tengah aneka rasa bangga yang membuncah di dalam dada papa, kadang papa terlalu khawatir akan perkembanganmu. Lebih hinanya lagi, kadang papa khilaf dan membanding-bandingkanmu dengan anak-anak seusiamu yang terlihat sudah bisa ini-itu. ‘Kok Salman belum bisa duduk, ya? Aku lihat Si X udah bisa duduk, lho, padahal seumuran sama Salman. Salman nih kayaknya takut banget mau jalan, baru dua langkah udah duduk lagi. Kok Salman giginya belum tumbuh-tumbuh, sih?’ adalah kalimat yang pernah begitu saja keluar dari mulut papa. Setiap momen itu terjadi, adalah mama yang dengan begitu tenang setia ‘membelamu’. Dengan berbagai teori, cerita pengalaman, dan kasih sayangnya, mama selalu
Continue reading Alhamdulillah…

Ketidaksempurnaan Sempurna

Kita adalah sepasang kekasih yang mulai lelah dengan cinta yang tak kasat mata. Kita melangkah bersama, bergandeng tangan mesra, tersenyum sambil menatap ragu: cerah-terangkah jalan di depan, atau gelap terbungkus kabut. Tapi kita terus melangkah.

Kita tak bisa membaca masa depan, tapi kita selalu pura-pura yakin dan percaya saja agar orang-orang berhenti bicara dan bertanya. Agar kita bisa tidur nyenyak dan menyelam dalam samudera mimpi yang batas-batasnya telah kita sembunyikan di bawah bantal.

Kita beteduh saat hujan, berdarah ketika luka, dan—seperti manusia biasa lainnya—berair mata kala dirundung duka. Tapi sesekali kita menari di bawah rinai, menikmati perih yang dipicu oleh rindu, dan Continue reading Ketidaksempurnaan Sempurna

Terbit Desember 2017: Mahar untuk Maharani

Dikiranya, suatu hari ia akan taubat dan belajar menjadi orang yang benar karena azab atau badan yang sudah bau tanah. Disangkanya, akan ada satu momen yang membawanya ke titik kehancuran, hingga ia tak lagi punya pilihan kecuali terus bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Rupanya tidak. Perasaan jatuh cintalah yang mengubah Salman, memberinya energi untuk secara sukarela menyulap dirinya menjadi orang yang sama sekali berbeda. Lalu adalah Maharani, orang paling bertanggung jawab atas episode hidup yang baru itu. Sejak pertemuan kembali dengan Maharani, perempuan yang pernah menjadi teman masa kecilnya, Salman melanjutkan hidup dengan moto yang begitu gagah: Amor Vincit Omniacinta menaklukkan segalanya.

Di lain sisi, Dimas, sahabat karibnya yang selama hidup sudah berpacaran dengan lima belas perempuan yang berbeda, tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Barangkali karena baginya, cinta pertama ada memang bukan untuk dilupakan. ‘Orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah dengan cinta pertamanya.’ tulisnya di blog suatu hari,  ‘Sebab pernikahannya tak akan dibayang-bayangi oleh kenangan-kenangan manis bersama orang lain. Bahkan, meski setelah cinta pertama itu ada cinta-cinta selanjutnya, tak ‘kan ada manusia yang benar-benar sanggup melupakan cinta pertamanya.” Continue reading Terbit Desember 2017: Mahar untuk Maharani

Demikianlah, Kekasih…

Pagi ini saya menengok blog yang sudah lama tak dikunjungi. Itu pun, karena saya membaca komentar di Facebook Page bahwa alamat azharologia.com tidak bisa diakses. Benar saja, ada permasalahan dengan domain-nya, yang beberapa menit kemudian segera teratasi.

Tentu saja, setelah permasalahan diselesaikan, browser langsung mengarahkan ke beranda. Di sana terlihat jelas, terakhir saya menulis di blog adalah 9 Agustus 2017, memperingati 1 bulan kepergian bapak. Persis di bawah postingan tersebut, terdapat tulisan yang di-posting beberapa bulan sebelumnya, 6 April 2017, tentang kelahiran anak kami, Muhammad Salman Nurun Ala.

Satu tentang kedatangan… Yang lainnya adalah cerita tentang kepergian.
Satu ditulis dengan suka cita… Yang lainnya ditulis dengan sesak dada dan air mata.

Demikianlah, Kekasih…
Aku menulis untuk mengapresiasi setiap takdir indah-Mu. Maksudku, setiap takdir-Mu. Karena segalanya pastilah Continue reading Demikianlah, Kekasih…

Kepergian-kepergian di Bulan Juli

Aku tak ingat persis sejak kapan kerutan-kerutan itu bermunculan di wajah teduhnya. Sel-sel pigmen pemberi warna hitam yang pernah membuat ia tampak gagah dengan rambut klimisnya telah mati sehingga sebagian rambut itu telah kembali ke warna asli; putih. Beruban, orang-orang bilang. Bila menuruni tangga, sesekali ia harus melangkahkan kakinya pelan-pelan… sembari duduk, ia menapaki satu demi satu anak tangga dengan susah payah…

Tapi ketika kebetulan istri tercintanya tak bisa mengantar dengan sepeda motor karena ada urusan penting lain, berjalanlah ia dengan hati-hati dua kilometer ke sekolah, demi menatap senyum murid-muridnya. Bajunya basah, kaki pegal sudahlah pasti, tapi pepatah itu memang nyata: cinta menaklukkan segalanya.

Laki-laki 76 tahun itu pergi tanpa permisi, tanpa basa-basi, meninggalkan kami yang hingga kini masih diselimuti rasa tak percaya. Benarkah ia telah meninggalkan kami? Benarkah ia begitu tega membiarkan kami sendiri, dalam kebingungan dan rasa tak percaya diri?

9 Juli 2017. Tepat satu bulan yang lalu. Tak ada satu peribahasa yang memadai untuk Continue reading Kepergian-kepergian di Bulan Juli

Selamat Datang, Salman!

Kekasih… sejak sabtu 1 April seminggu yang lalu ibumu sudah memasuki bukaan pertama. Satu penanda penting bahwa tak lama lagi kau akan lahir ke dunia. Hingga Rabu 5 April, kontraksi semakin intens tapi bukaan tidak juga bertambah. Sementara rasa sakit semakin menjadi. Malam harinya, pihak RS menawarkan 2 pilihan, induksi dengan obat atau langsung operasi caesar. Uti menyarankan agar langsung caesar saja karena beliau tahu dari teman-temannya induksi dengan obat perangsang itu sakit bukan main. Aku yang tahu ibumu ingin sekali melahirkan normal menyerahkan keputusan pada ibumu. Dengan tekad yang kuat, ia memilih berikhtiar semaksimal mungkin untuk melahirkan secara normal & menyatakan siap dengan segala konsekuensinya.

Malam itu juga pukul 23.00 ibumu memasuki kamar bersalin, diberi obat untuk induksi dengan harapan dalam 6 jam bukaan bertambah. Dan 6 jam itu… adalah 6 jam terlama dalam hidup ibumu. Lebih dari tiga tahun hidup dengannya, belum pernah aku melihat ia menangis semenderita itu. Tangan kirinya memegang tepi ranjang, tangan kanannya menggenggam erat tanganku. Air matanya tak berhenti mengalir.

Di tengah tangis yang panjang itu, air ketubannya mengalir. Aku panik, ibumu lebih-lebih. Bidan mencoba menenangkan dan rasa sakit itu ditahan hingga pukul 05.00.

Enam jam yang panjang itu berakhir. Bidan kembali melakukan observasi dan bukaan belum juga bertambah. Sementara air ketuban terus mengalir.

Aku yang tak tega lagi melihat penderitaan itu membujuk ibumu untuk Continue reading Selamat Datang, Salman!