Akan Tetap Pergi

Suatu waktu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir di hidupmu. Bagimu, ia sosok yang tepat. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi sebagian besar yang ada di dirinya sudah sesuai kriteria.

Tidak salah lagi. Kali ini, kamu cukup yakin keluarga dan lingkunganmu akan menerimanya dengan tangan terbuka. Akan ada satu dua yang saling berbisik tentang ketidaksempurnaannya, tentu saja, tetapi tidak apa-apa. Itu tandanya ia masih manusia.

Ini pasti konspirasi semesta, batinmu. Tiba-tiba harimu jadi penuh bunga.

Lalu, tanpa menunggu lama, kamu diam-diam mendekatinya. Mencari tahu apa yang disuka dan tak disukanya. Menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja. Melakukan aneka tindakan bodoh untuk mencuri perhatiannya. Merancang strategi tahap demi tahap untuk memenangkan hatinya.

Sayangnya, ia tampak acuh tak acuh pada setiap usahamu. Setelah semua yang kamu lakukan, baginya dirimu hanyalah seorang teman, sebagaimana orang-orang lain di sekitarnya.

Kamu marah, entah pada siapa. Tetapi bisikan itu terus terngiang di telingamu: amour vincit omnia … cinta menaklukkan segalanya. Belum lagi imaji tentang betapa indahnya dunia bila kamu bisa selalu bersama dengannya. Maka, meski masih sibuk menyatukan potongan-potongan hati yang patah, kamu tak berhenti berusaha.

Hatinya pasti kan luluh bersama waktu, ucapmu meyakinkan diri.

Sayangnya lagi, ia benar-benar ingin pergi. Kamu sedih, tentu saja, tetapi Continue reading Akan Tetap Pergi

Undo

Salah satu manfaat yang paling terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula—kesalahan diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka recyclebin, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.

Sayangnya, hal demikian tak selalu berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’ yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika Continue reading Undo

Kemenangan Kecil

Ketika menonton berita tentang seorang atlet yang mendapat emas di kejuaraan bergengsi, lalu namanya dielu-elukan di seluruh pelosok negeri, kita kagum bukan main. Ketika melihat seorang musisi asal Indonesia namanya bersinar di kancah dunia, menjadi artis yang Go International, kita turut bangga dan terus membicarakannya. Ketika mendengar cerita soal penulis yang karyanya laku ratusan ribu eksemplar dan menginspirasi banyak pembaca, lalu difilmkan dan juga ditonton oleh banyak orang, kita merasa inilah waktu yang tepat untuk bilang ‘WOW!’.

Diam-diam, kita mengkhayal bisa menjadi mereka. Barangkali tidak di bidang yang sama, tetapi, pada intinya kita ingin merasakan pencapaian itu. Kita ingin hidup sebagai pemenang.

Konyolnya, ambisi itu dengan mudah pudar ketika di berita lain kita membaca kisah para pemenang itu untuk sampai ke titik pencapaiannya. Kita tak sampai hati saat mengetahui aneka pengorbanan yang mereka lakukan. Di sana, keringat dan air mata bercucuran. Juga di sana, ego dan rasa malas dibunuh atas nama kedisiplinan.

Kemenangan besar seringkali tampak seperti puncak gunung es di atas permukaan laut. Seolah-olah ia hanya mengapung begitu saja. Padahal, jika kita menyelam ke bawah, kita akan sadar bahwa puncak gunung es itu hanyalah bagian kecil dari satu bongkahan gunung es yang begitu besar. Sebagian besar dari bongkahan yang tak terlihat secara langsung adalah beragam pengorbanan itu: tidur lebih sedikit, bekerja lebih keras, susah payah memulihkan diri dari kekalahan dan kegagalan, menutup telinga dari rayuan-rayuan untuk menyerah, dan sebagainya.

Pepatah mengatakan, perjalanan panjang selalu diawali oleh satu langkah kecil. Sementara itu, hasil penelitian Malcolm Gladwell menyebutkan bahwa seseorang bisa menjadi sangat ahli di suatu bidang (Mastery in A Field) jika dia melakukan praktik selama 10,000 jam di bidang tersebut. Cerita tentang kemenangan besar, sebenarnya adalah cerita tentang kemenangan kecil yang terjadi berkali-kali.

Kabar baiknya, yang namanya ‘kemenangan’, sekalipun ia kecil, punya sifat adiktif. Jadi, ketika kita Continue reading Kemenangan Kecil

Membenci

Karena kita tak mungkin hidup sendiri, kita tak bisa menghindar dari interaksi. Dan dalam interaksi itu berbagai hal bisa terjadi. Tak jarang, kita mendapati hal-hal yang tak menyenangkan seperti: kata-kata yang melukai hati, tindakan yang miskin empati, atau ketidakpekaan yang rasanya bikin kita ingin bunuh diri.

Hal-hal itu terasa tidak ideal. Tak sesuai ekspektasi. Dan tentu saja, mengganggu pikiran dan membuat kita merasa tidak nyaman.

Sebab itu, kita merasa berhak untuk marah. Atau, karena kita tak mau terlihat menyebalkan, diam-diam kita membenci.

Kita pikir, kebencian kita pada seseroang yang sudah melukai perasaan kita, adalah semacam hukuman yang setimpal. Kita pikir, dengan membenci, kita bisa lupa akan hati yang telah atau sedang terluka. Dan karena itu kita terus melakukannya, masa demi masa.

Padahal, ketika kita membenci seseorang, siapakah sebenarnya yang dirugikan? Orang yang kita benci, yang bahkan mungkin tak tahu bahwa ia sedang dibenci? Atau, justru diri kita sendiri, yang menghabiskan menit demi menit untuk mengorek berbagai kekurangannya, membakar banyak energi untuk menemukan kesalahan-kesalahannya, sambil terus membungkus diri dalam aura negatif?

Ini barangkali terdengar klise, naif, sekaligus tidak adil. Tapi, kita memang Continue reading Membenci

Mencintai Diri Sendiri

NARSIS!

Kemungkinan besar, itulah kata yang langsung muncul di kepala setiap kita mendengar frase ‘mencintai diri sendiri’. Ada kesan sombong, kekaguman yang berlebihan, dan tentu saja, keegoisan yang menyebalkan. Bisa dipastikan, tak ada satu pun dari kita yang bersimpati kepada orang yang sejak bangun tidur hingga tidur lagi terus menerus memuji diri dan memamerkan aneka kelebihan yang dimilikinya.

Orang yang seperti itu, memang baiknya tak ada di lingkaran pertemanan. Juga, tak muncul di lini masa media sosial kita. Kalau terpaksa menemukan mereka di daftar video trending Youtube, ya sudah, abaikan saja.

Jadi, tidak bolehkah kita mencintai diri sendiri?

Menurut saya, HARUS.

Lho, bagaimana sih?!

Begini. Saya kira, tiap-tiap kita harus mencintai diri sendiri, dengan makna cinta yang dewasa. Cinta yang tak sekadar rasa kagum yang penuh puja-puji.

Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu lakukan sepanjang hari hanyalah mengagumi keindahannya, memuji keelokan parasnya, masihkah itu bisa disebut cinta? Kalau kamu mengaku mencintai seseorang, tetapi yang kamu pikirkan setiap hari hanyalah keinginan untuk memiliki dan menguasainya, untuk dipamerkan kepada dunia sehingga semua orang di muka planet ini tahu betapa hebatnya dirimu, masihkah itu disebut cinta?

Bukankah sesungguhnya di dalam kata ‘aku mencintaimu’ terkandung satu komitmen untuk menjaga, merawat, dan menumbuhkan?

Jadi, mari kita cintai diri kita sendiri, dengan pengertian yang dewasa itu. Mari kita cintai diri sendiri, tidak dalam pengertian narsistik.

Ini soal membangun hubungan mendalam dengan Continue reading Mencintai Diri Sendiri

Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu.

Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti.

Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu.

Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri.

Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka.

Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh.

Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan Continue reading Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

Seperti Hujan

Sore ini hujan turun lagi. Bukan hujan deras, tetapi tidak juga bisa dibilang gerimis. Yang pasti, cukup untuk menahanku meringkuk sendiri di dalam ruang mungil ini, menatap kosong ke luar jendela yang tirainya kubiarkan terbuka.

Hujan turun perlahan, sesekali meliuk serentak ditabrak angin. Di tiap-tiap rintiknya, aku melihat wajahmu, berjatuhan menyerang bumi. Sebagian dari mereka jatuh menabrak genting, menimbulkan bunyi yang juga terdengar seperti bisikanmu. Aku masih ingat bagaimana suara itu terdengar, ketika dulu kau bilang, “Aku sepertinya tak bisa menunggu.”

Kupikir-pikir, kamu itu memang seperti hujan, yang turun ketika ingin turun. Dan pergi jika sudah waktunya pergi. Hujan bisa datang dengan atau tanpa tanda-tanda, dengan atau tanpa aba-aba.

Tidak salah lagi. Kamu betul-betul Continue reading Seperti Hujan

Kehilangan yang Membahagiakan

12 Oktober 2018 lalu adalah hari ke-100 sejak saya memulai program #100HariBerlari. Meski status saya saat ini masih overweight (TB: 174 cm, BB: 76,5 Kg), saya cukup senang akhirnya bisa menulis perjalanan seratus hari ini dengan perasaan lega. Memang, tadinya, saya berniat menjuduli tulisan ini ‘Bagaimana Saya Kehilangan 20Kg dalam 100 Hari’. Pasti lebih bombastis! Namun, Rupanya, ternyata target saya meleset. Selama seratus hari ini, saya hanya mampu menurunkan 15,5 Kg berat badan.

Bagaimanapun, sebenarnya itu sudah cukup membahagiakan. Karena itu, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman ini. Mungkin saja, kamu, atau orang yang kamu sayangi membutuhkannya.

Secara sederhana, apa yang saya lakukan secara konsisten selama 100 hari ini hanya dua: meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi asupan karbohidrat. Jadi, kalau kamu malas membaca lebih jauh lagi karena tulisan ini dirasa terlalu panjang, kamu bisa berhenti di sini dan langsung lakukan dua hal tersebut.

Mengapa Saya Menjalani Program Ini

Kira-kira dua minggu setelah lebaran, saya dibikin stres oleh sepasang angka. Setelah berminggu-minggu tak memantau berat badan karena saya menghabiskan separuh terakhir Ramadan di Lampung & libur lebaran di Gresik, sesampainya di Depok saya mendapat ucapan selamat datang yang fantastis: timbangan saya menunjukkan angka 92. Angka itu adalah rekor terbaru, karena sebelumnya, saya tak pernah sampai sana.

Di penimbangan sebelumnya, kira-kira awal Ramadan, berat badan saya masih 89Kg. Dengan tinggi badan 174cm, tentu kita bisa sama-sama menghitung, baik 89Kg maupun 92Kg, keduanya menunjukkan bahwa saya sudah mengidap Obesitas Tahap I. Kalau ada yang tak percaya berat badan saya pernah mencapai angka itu, saya harus katakan bahwa saya juga demikian.

Kira-kira, itulah momen awal dari program #100HariBerlari. Sebuah angka yang secara psikologis membuat saya tertekan. Tekanan semakin bertambah ketika pada hari Minggu tak lama setelah saya mendapati angka itu, saya dan keluarga berjalan-jalan di UI. Kami parkir motor di dekat pintu kukel dan tak lama setelah kami berjalan memasuki UI, kami melihat seseorang yang badannya besar sekali berlari terengah-engah. Saya perkirakan berat badan orang tersebut ada di angka Continue reading Kehilangan yang Membahagiakan

Telah Terbit: Lelaki Pilihan Maharani

Setelah merilis novel ‘Mahar untuk Maharani‘ pada bulan Desember 2017, hidup saya tak pernah tenang. Di setiap kesempatan membuka Direct Messages Instagram, ada saja pembaca yang menagih agar kisah Salman & Maharani segera dilanjutkan. Tentu saja, desakan itu disertai ekspektasi masing-masing yang beragam.

Saya memang sudah merencanakannya, bahkan sebelum ‘Mahar untuk Maharani’ selesai ditulis. Itu sebabnya, saya sering menyebut-nyebut istilah Serial Maharani. Sejak mula, kisah Maharani ini memang akan jadi beberapa buku berkelanjutan. Tetapi, tentang bagaimana kelanjutannya dan akan jadi berapa buku, saat itu belum saya pikirkan. Saya hanya memberi ‘koma’ di akhir cerita, yang memungkinkan untuk dijadikan sebagai pintu gerbang menuju kisah berikutnya.

Akhir Agustus 2018, alhamdulillah, Buku Ke-2 Serial Maharani selesai ditulis dan diberi judul Lelaki Pilihan Maharani. Terus terang, saya cukup terkesan dengan antusiasme pembaca terhadap Serial Maharani, mengingat banyak sekali eksperimen yang saya lakukan di dalamnya. Pembaca karya saya sejak era novel Tuhan Maha Romantis (2014), barangkali bisa merasakannya. Betapa Serial Maharani adalah suguhan yang sangat berbeda dari Dwilogi Tuhan Maha Romantis.

Serial Maharani Blog

Di dalam Serial Maharani, saya menggunakan sudut pandang orang ketiga, mengurangi penggunaan kalimat-kalimat puitis, berfokus kepada internal struggle protagonis, detail adegan dan pendalaman karakter, serta menaikkan kadar humor. Tentu akan ada Continue reading Telah Terbit: Lelaki Pilihan Maharani

Aku Masih di Sini

Aku masih di sini dan begini: berlari di atas lintasan yang sama, dengan irama langkah yang itu-itu saja.

Aku masih di sini dan begini: tersenyum hanya karena mendengar musik yang kusuka sejak bertahun-tahun lalu, bersiul dengan nada yang sama.

Dan aku masih di sini dan begini: menatap rindang pohon sambil menggenggam jemarimu, hingga lupa ternyata waktu terus berlalu.

Satu dua daun gugur …. Continue reading Aku Masih di Sini

Alhamdulillah…

Nak, terus terang papa tak benar-benar yakin dari mana harus memulai catatan ini. Jika harus membuka tulisan dengan memilih satu momen terindah sejak kelahiranmu ke dunia, papa juga bingung. Setiap detik yang dijalani sejak kehadiranmu, terasa seperti keajaiban. Dan apakah kata yang paling tepat untuk keajaiban yang terjadi sepanjang waktu? Barangkali keberkahan.

Maka papa memutuskan untuk memulai catatan ini dengan mengucap syukur atas segala nikmat ini. Alhamdulillah… Semoga kita senantiasa menjadi penyanjung hidup menurut ilmu Allah, Pembimbing Semesta Kehidupan.

Alhamdulillah… Tak sampai satu minggu lagi, jika Allah mengizinkan, usiamu genap satu tahun. Jika papa atau mama berkata bahwa perjalanan selama setahun ini tidak terasa, tentu kami berbohong. Kehadiranmu bukan hanya menjadi penyejuk bagi pasang mata kami sehingga lebih semringah dalam memandang hidup, tetapi juga memaksa kami mendobrak sisa-sisa benteng egoisme yang selama tiga tahun pernikahan masih saja terpelihara. Tingkahmu bukan hanya manjur membuat kami tersenyum atau tertawa, tetapi juga sesekali membuat kami bertengkar, berdebat, yang pada kadar tertentu membuat kami semakin dewasa. Membuat kami sadar bahwa kami telah menjadi orang tua.

Nak, jujur saja, di tengah aneka rasa bangga yang membuncah di dalam dada papa, kadang papa terlalu khawatir akan perkembanganmu. Lebih hinanya lagi, kadang papa khilaf dan membanding-bandingkanmu dengan anak-anak seusiamu yang terlihat sudah bisa ini-itu. ‘Kok Salman belum bisa duduk, ya? Aku lihat Si X udah bisa duduk, lho, padahal seumuran sama Salman. Salman nih kayaknya takut banget mau jalan, baru dua langkah udah duduk lagi. Kok Salman giginya belum tumbuh-tumbuh, sih?’ adalah kalimat yang pernah begitu saja keluar dari mulut papa. Setiap momen itu terjadi, adalah mama yang dengan begitu tenang setia ‘membelamu’. Dengan berbagai teori, cerita pengalaman, dan kasih sayangnya, mama selalu
Continue reading Alhamdulillah…

Ketidaksempurnaan Sempurna

Kita adalah sepasang kekasih yang mulai lelah dengan cinta yang tak kasat mata. Kita melangkah bersama, bergandeng tangan mesra, tersenyum sambil menatap ragu: cerah-terangkah jalan di depan, atau gelap terbungkus kabut. Tapi kita terus melangkah.

Kita tak bisa membaca masa depan, tapi kita selalu pura-pura yakin dan percaya saja agar orang-orang berhenti bicara dan bertanya. Agar kita bisa tidur nyenyak dan menyelam dalam samudera mimpi yang batas-batasnya telah kita sembunyikan di bawah bantal.

Kita beteduh saat hujan, berdarah ketika luka, dan—seperti manusia biasa lainnya—berair mata kala dirundung duka. Tapi sesekali kita menari di bawah rinai, menikmati perih yang dipicu oleh rindu, dan Continue reading Ketidaksempurnaan Sempurna