Alhamdulillah…

Nak, terus terang papa tak benar-benar yakin dari mana harus memulai catatan ini. Jika harus membuka tulisan dengan memilih satu momen terindah sejak kelahiranmu ke dunia, papa juga bingung. Setiap detik yang dijalani sejak kehadiranmu, terasa seperti keajaiban. Dan apakah kata yang paling tepat untuk keajaiban yang terjadi sepanjang waktu? Barangkali keberkahan.

Maka papa memutuskan untuk memulai catatan ini dengan mengucap syukur atas segala nikmat ini. Alhamdulillah… Semoga kita senantiasa menjadi penyanjung hidup menurut ilmu Allah, Pembimbing Semesta Kehidupan.

Alhamdulillah… Tak sampai satu minggu lagi, jika Allah mengizinkan, usiamu genap satu tahun. Jika papa atau mama berkata bahwa perjalanan selama setahun ini tidak terasa, tentu kami berbohong. Kehadiranmu bukan hanya menjadi penyejuk bagi pasang mata kami sehingga lebih semringah dalam memandang hidup, tetapi juga memaksa kami mendobrak sisa-sisa benteng egoisme yang selama tiga tahun pernikahan masih saja terpelihara. Tingkahmu bukan hanya manjur membuat kami tersenyum atau tertawa, tetapi juga sesekali membuat kami bertengkar, berdebat, yang pada kadar tertentu membuat kami semakin dewasa. Membuat kami sadar bahwa kami telah menjadi orang tua.

Nak, jujur saja, di tengah aneka rasa bangga yang membuncah di dalam dada papa, kadang papa terlalu khawatir akan perkembanganmu. Lebih hinanya lagi, kadang papa khilaf dan membanding-bandingkanmu dengan anak-anak seusiamu yang terlihat sudah bisa ini-itu. ‘Kok Salman belum bisa duduk, ya? Aku lihat Si X udah bisa duduk, lho, padahal seumuran sama Salman. Salman nih kayaknya takut banget mau jalan, baru dua langkah udah duduk lagi. Kok Salman giginya belum tumbuh-tumbuh, sih?’ adalah kalimat yang pernah begitu saja keluar dari mulut papa. Setiap momen itu terjadi, adalah mama yang dengan begitu tenang setia ‘membelamu’. Dengan berbagai teori, cerita pengalaman, dan kasih sayangnya, mama selalu
Continue reading Alhamdulillah…

Ketidaksempurnaan Sempurna

Kita adalah sepasang kekasih yang mulai lelah dengan cinta yang tak kasat mata. Kita melangkah bersama, bergandeng tangan mesra, tersenyum sambil menatap ragu: cerah-terangkah jalan di depan, atau gelap terbungkus kabut. Tapi kita terus melangkah.

Kita tak bisa membaca masa depan, tapi kita selalu pura-pura yakin dan percaya saja agar orang-orang berhenti bicara dan bertanya. Agar kita bisa tidur nyenyak dan menyelam dalam samudera mimpi yang batas-batasnya telah kita sembunyikan di bawah bantal.

Kita beteduh saat hujan, berdarah ketika luka, dan—seperti manusia biasa lainnya—berair mata kala dirundung duka. Tapi sesekali kita menari di bawah rinai, menikmati perih yang dipicu oleh rindu, dan Continue reading Ketidaksempurnaan Sempurna

Terbit Desember 2017: Mahar untuk Maharani

Dikiranya, suatu hari ia akan taubat dan belajar menjadi orang yang benar karena azab atau badan yang sudah bau tanah. Disangkanya, akan ada satu momen yang membawanya ke titik kehancuran, hingga ia tak lagi punya pilihan kecuali terus bersujud dan memohon ampun kepada Allah. Rupanya tidak. Perasaan jatuh cintalah yang mengubah Salman, memberinya energi untuk secara sukarela menyulap dirinya menjadi orang yang sama sekali berbeda. Lalu adalah Maharani, orang paling bertanggung jawab atas episode hidup yang baru itu. Sejak pertemuan kembali dengan Maharani, perempuan yang pernah menjadi teman masa kecilnya, Salman melanjutkan hidup dengan moto yang begitu gagah: Amor Vincit Omniacinta menaklukkan segalanya.

Di lain sisi, Dimas, sahabat karibnya yang selama hidup sudah berpacaran dengan lima belas perempuan yang berbeda, tak pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Barangkali karena baginya, cinta pertama ada memang bukan untuk dilupakan. ‘Orang yang paling bahagia adalah orang yang menikah dengan cinta pertamanya.’ tulisnya di blog suatu hari,  ‘Sebab pernikahannya tak akan dibayang-bayangi oleh kenangan-kenangan manis bersama orang lain. Bahkan, meski setelah cinta pertama itu ada cinta-cinta selanjutnya, tak ‘kan ada manusia yang benar-benar sanggup melupakan cinta pertamanya.” Continue reading Terbit Desember 2017: Mahar untuk Maharani

Demikianlah, Kekasih…

Pagi ini saya menengok blog yang sudah lama tak dikunjungi. Itu pun, karena saya membaca komentar di Facebook Page bahwa alamat azharologia.com tidak bisa diakses. Benar saja, ada permasalahan dengan domain-nya, yang beberapa menit kemudian segera teratasi.

Tentu saja, setelah permasalahan diselesaikan, browser langsung mengarahkan ke beranda. Di sana terlihat jelas, terakhir saya menulis di blog adalah 9 Agustus 2017, memperingati 1 bulan kepergian bapak. Persis di bawah postingan tersebut, terdapat tulisan yang di-posting beberapa bulan sebelumnya, 6 April 2017, tentang kelahiran anak kami, Muhammad Salman Nurun Ala.

Satu tentang kedatangan… Yang lainnya adalah cerita tentang kepergian.
Satu ditulis dengan suka cita… Yang lainnya ditulis dengan sesak dada dan air mata.

Demikianlah, Kekasih…
Aku menulis untuk mengapresiasi setiap takdir indah-Mu. Maksudku, setiap takdir-Mu. Karena segalanya pastilah Continue reading Demikianlah, Kekasih…

Kepergian-kepergian di Bulan Juli

Aku tak ingat persis sejak kapan kerutan-kerutan itu bermunculan di wajah teduhnya. Sel-sel pigmen pemberi warna hitam yang pernah membuat ia tampak gagah dengan rambut klimisnya telah mati sehingga sebagian rambut itu telah kembali ke warna asli; putih. Beruban, orang-orang bilang. Bila menuruni tangga, sesekali ia harus melangkahkan kakinya pelan-pelan… sembari duduk, ia menapaki satu demi satu anak tangga dengan susah payah…

Tapi ketika kebetulan istri tercintanya tak bisa mengantar dengan sepeda motor karena ada urusan penting lain, berjalanlah ia dengan hati-hati dua kilometer ke sekolah, demi menatap senyum murid-muridnya. Bajunya basah, kaki pegal sudahlah pasti, tapi pepatah itu memang nyata: cinta menaklukkan segalanya.

Laki-laki 76 tahun itu pergi tanpa permisi, tanpa basa-basi, meninggalkan kami yang hingga kini masih diselimuti rasa tak percaya. Benarkah ia telah meninggalkan kami? Benarkah ia begitu tega membiarkan kami sendiri, dalam kebingungan dan rasa tak percaya diri?

9 Juli 2017. Tepat satu bulan yang lalu. Tak ada satu peribahasa yang memadai untuk Continue reading Kepergian-kepergian di Bulan Juli

Selamat Datang, Salman!

Kekasih… sejak sabtu 1 April seminggu yang lalu ibumu sudah memasuki bukaan pertama. Satu penanda penting bahwa tak lama lagi kau akan lahir ke dunia. Hingga Rabu 5 April, kontraksi semakin intens tapi bukaan tidak juga bertambah. Sementara rasa sakit semakin menjadi. Malam harinya, pihak RS menawarkan 2 pilihan, induksi dengan obat atau langsung operasi caesar. Uti menyarankan agar langsung caesar saja karena beliau tahu dari teman-temannya induksi dengan obat perangsang itu sakit bukan main. Aku yang tahu ibumu ingin sekali melahirkan normal menyerahkan keputusan pada ibumu. Dengan tekad yang kuat, ia memilih berikhtiar semaksimal mungkin untuk melahirkan secara normal & menyatakan siap dengan segala konsekuensinya.

Malam itu juga pukul 23.00 ibumu memasuki kamar bersalin, diberi obat untuk induksi dengan harapan dalam 6 jam bukaan bertambah. Dan 6 jam itu… adalah 6 jam terlama dalam hidup ibumu. Lebih dari tiga tahun hidup dengannya, belum pernah aku melihat ia menangis semenderita itu. Tangan kirinya memegang tepi ranjang, tangan kanannya menggenggam erat tanganku. Air matanya tak berhenti mengalir.

Di tengah tangis yang panjang itu, air ketubannya mengalir. Aku panik, ibumu lebih-lebih. Bidan mencoba menenangkan dan rasa sakit itu ditahan hingga pukul 05.00.

Enam jam yang panjang itu berakhir. Bidan kembali melakukan observasi dan bukaan belum juga bertambah. Sementara air ketuban terus mengalir.

Aku yang tak tega lagi melihat penderitaan itu membujuk ibumu untuk Continue reading Selamat Datang, Salman!

Segera Terbit: Pertanyaan Tentang Kedatangan

messageImage_1490239010708

Perempuan itu menangis lama sekali, hampir sepertiga malam. Matanya sembab, merah, dan seperti tiada lagi air tersisa di sana. Detik melambat. Malam jadi terasa begitu panjang.

Dan perempuan itu terus menangis. Membicarakan apa saja yang memenuhi kepalanya. Menumpahkan semua   keluh, kesah, dan sedikit sumpah serapah—entah pada siapa. Mempertanyakan segala pertanyaan yang menusuk-nusuk batinnya silih berganti pada lubang luka yang sama. Semuanya dilakukan dengan tersedan, napasnya terdengar semakin payah.

Aku memilih berbaring pada jarak tertentu, membiarkan perempuan itu memeluk dirinya sendiri. Tak ada kata, atau bujuk rayu apa pun yang bisa menghentikan tangisnya. Tak ada humor yang bisa membuatnya tertawa, atau sekadar menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Tak ada raba yang sanggup menenangkannya.

Jadilah aku pecundang yang hanya bisa Continue reading Segera Terbit: Pertanyaan Tentang Kedatangan

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 4)

Aku menemukan ketentraman setiap mengenang puisi-puisi yang kutulis untukmu. Meski di satu sisi aku membencinya.

Aku membenci ketakberdayaan yang menderaku seolah aku memang dicipta untuk menjadi laki-laki tak berdaya yang tak bisa apa-apa. Aku benci kepengecutan yang entah sejak kapan kujadikan teman. Aku benci menyadari bahwa aku pernah begitu rapuh.

Aku benci diriku yang tak pernah berani berkata jujur lalu mengambil tanggung jawab atas perkataan jujur itu.

Tapi bukankah setiap yang terjadi di muka bumi ini ada di atas rancangan dan kepastian-Nya? Maka sebesar apa pun kebencianku, aku akan tetap mensyukurinya. Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa tetap tersenyum, sambil terus melangkah menjalani hidup dengan mata yang menyala.

Bahwa kita pernah tak saling bicara. Bahwa aku pernah begitu khawatir menyalahartikan rasa. Bahwa aku pernah mengabadikan ketakberdayaan itu dalam sebuah surat dan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 4)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 3)

Tell me you love me, if you don’t then lie… Oh lie… to me.

Chris Martin menyanyikan lagu itu dengan begitu syahdu, seolah ingin mewakili setiap orang jatuh cinta yang tak mau berteman dengannya kecuali setumpuk tanda tanya dan rasa takut.

Termasuk bagian dari mereka, adalah aku.

Aku yang hampir selalu lupa cara bicara tiap di dekatmu. Lalu setiap waktu, kita menjelma dua manusia pemalu yang baru pertama kali bertemu.

Dan sebagaimana kau tahu, tiada yang lebih beku dari perjumpaan dua manusia pemalu. Hadirnya dua katup bibir, tak menjamin ada cuap di sana. Maka merekalah para ahli diam—untuk selanjutnya menjadi para ahli tebak. Karena tak ada yang bisa dilakukan untuk sebuah kebisuan kolektif selain menebak dan menebak. Sebab itu, di sanalah kerap terjadi sebuah tragedi memilukan yang biasa disebut ‘tertipu oleh apa yang direka sendiri.’

Cerita cinta para pemalu adalah kisah yang penuh rindu pilu. Mereka habiskan senja untuk menanti bulan pujaan di perempatan jalan, untuk sekadar menatap dalam diam. Sampai sang bulan berlalu, berjalan menjauh, lalu menyisakan bayangan punggungnya untuk kemudian hilang.

Ceritaku, tak jauh berbeda.

Akulah pemuja rahasia yang selalu menanti datangnya bulan Januari dengan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 3)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 2)

Kebahagiaan atas sebuah anugerah bernama ‘jatuh cinta’, rupanya datang satu paket bersama perihnya rindu yang mendera. Kesenangan dan kesedihan, kata Kahlil Gibran, bersama-sama hadir. Dan ketika yang satu duduk sendirian denganmu di bangku, yang lainnya sedang terlelap tidur di ranjangmu. Mereka seperti dua sisi mata uang yang tak bisa kubelah untuk kudekap salah satu, sambil membuang sisi lainnya.

Itulah saat-saat aku mulai berhasil menghayati kesedihan Thom Yorke dalam lirik itu:

When you were here before
Couldn’t look you in the ey
e
You’re just like an angel
Your skin makes me cry

You float like a feather
In a beautiful world
And I wish I was special
You’re so
very special

But I’m a creep. I’m a weirdo.
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here.

Jauh di dalam hatiku, ada kekaguman yang berdiri megah di atas rasa tak berdaya. Ada luka yang tak butuh diobati, tersebab kesembuhan sebuah luka hanya akan menyisakan bekas yang sama menyakitkannya ketika dikenang. Ada perasaan yang disembunyikan oleh kegagapan untuk mengungkap rasa.

Meski, rupanya bara api yang dilempar ke dalam setumpuk sekam mulai menimbulkan asap. Semakin lama aku menyimpan perasaan itu, semakin aku curiga bahwa kau mulai menyadarinya. Aroma kerinduan telah merebak hebat, dan kau tak mungkin selamanya pura-pura tak menciumnya, kan?

Tapi tetap saja aku berdiri di sana dan tak beranjak, menjadi pecinta paling pengecut yang terhibur oleh rasa cintanya sendiri.

Aku terus bertahan, menjadikan kita seperti tetangga yang dipisahkan oleh sebuah dinding. Aku merasakan keberadaanmu, tanpa pernah tahu bagaimana perasaanmu. Jarak antar raga kita dapat kuukur, tapi tidak dengan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 2)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 1)

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang: pasaran, bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi. Dan selama itu, silakan kamu menunggu.

Barangkali kamu akan bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya tidak ingin menyakiti. Kata yang satu tidak pernah membenci kata yang lain, mereka hanya ingin ada jeda, supaya mereka punya makna. Pucuk pohon tak pernah membenci akar, mereka hanya ingin bersinergi untuk jadi berdaya.

Jarak dicipta, tiada lain karena ia punya makna. Maka stop. Berhentilah di sana.

Adanya rasa bukan untuk diterka, jadi biarlah ia tetap indah sebagai sesuatu yang tidak disangka. Suka tidak suka.

Aku berusaha tegar. Atau pura-pura tegar. Bersikap seolah semua berjalan apa adanya dan baik-baik saja.

Aku berangkat ke kampus selama enam hari seminggu, masuk ke ruang kuliah, mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa, dan sesekali bicara denganmu—kali ini dengan kata dan juga rasa. Bersama dengan yang lain, kita bicara tentang apa saja. Kadang hadir gelak tawa, kadang kita murung karena sesuatu.

Di tengah-tengah situasi itu aku selalu mencuri pandang ke arahmu, berharap mata kita bertemu untuk saling menatap. Tapi tak juga kau menangkap sinyal itu. Kita seperti dua radio yang berbeda frekuensi.

Sepertinya, bagimu semua memang berjalan apa adanya dan baik-baik saja.

Di dalam benakku mulai muncul pertanyaan-pertanyaan itu:

Apa hanya aku yang didera rindu? Apa hanya aku yang mendadak lupa cara bicara setiap kita bertemu? Apa selama ini tanganku hanya menepuk-nepuk udara?

Katanya, life is all about managing expectation. Ketidakbahagiaan hadir karena Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 1)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)

Ada satu hal lagi yang kurasa perlu kau tahu.

Seandainya dulu aku pernah menulis, atau berkata bahwa jatuh cinta itu biasa saja, sebenarnya aku sedang berbohong. Walaupun aku suka betul lagu ‘Jatuh Cinta itu Biasa Saja’ yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca, bagian hatiku yang paling jujur tak pernah benar-benar menyepakati sebagian liriknya.

Ketika rindu
Menggebu-gebu
Kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja

—katanya.

Seandainya jatuh cinta semudah itu. Andai menjalani perasa-an jatuh cinta sesederhana itu.

Adalah gebu-gebu rindu itu justru yang tanpa ampun menyeretku ke batas kesadaran. Membuat kabur sekat mimpi dan realita. Menyamarkan beda siang dan malam. Hingga, pada kadarnya yang paling tinggi membuatku lebih rajin mengeja namamu daripada apa pun yang ada di semesta. Sampai kadang-kadang perasaan itu membuatku merasa bersalah.

Tapi tahukah kau, betapa kecilnya rasa bersalah itu ketika bersanding dengan perasaan mahadahsyat bernama jatuh cinta!

Perasaan yang entah bagaimana caranya selalu bisa membuat manusia tiba-tiba merasa begitu beruntung pernah dilahirkan ke dunia. Dan, untuk sejenak, berhenti mengutuki hidup yang sejak lahir hampir tak pernah disyukuri. Perasaan yang melipatgandakan energi, sehingga hari seolah selalu fajar dan matahari selalu bersinar dengan cahayanya yang menenangkan. Bilapun diizinkan datang, malam akan hadir bermandikan cahaya rembulan.

Barangkali seperti itulah cara orang-orang yang jatuh cinta memandang dunia: hari-hari yang mereka lewati selalu terasa indah.

Ketika pagi datang dan bunga-bunga sibuk menegakkan mahkotanya, orang-orang yang jatuh cinta akan keluar dari rumah dengan hati yang tak diisi kecuali oleh perasaan gembira. Sepanjang jalan mereka akan menari bersama kupu-kupu, duduk sebentar di sebuah bangku taman, mengagumi indahnya pagi ciptaan Tuhan, lalu berjalan lagi menuju keramaian.

Di tengah keramaian itu, dengan terburu-buru, orang-orang berlalu-lalang sambil berkejar-kejaran dengan waktu. Tapi bagi mereka yang jatuh cinta, waktu berjalan dengan begitu pelan dan mesra. Seolah bumi takluk, menurunkan kecepatan berputarnya, demi ikut merayakan perasaan-perasaan jatuh cinta itu.

Mereka yang sedang jatuh cinta selalu bisa memaknai indahnya takdir lebih dari siapa pun. Bagi mereka, setiap perjumpaan tak sengaja adalah cara Tuhan untuk memper-temukan. Bagi mereka juga, jika ada kesamaan, sekecil apa pun itu, adalah Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)