Jangan Dulu Patah

Jangan dulu patah. Masih ada waktu. Masih tersedia ruang untuk bergerak dan mencoba. Masih ada kesempatan untuk melakukannya sekali lagi, atau mungkin beberapa kali.

Jangan dulu redup. Nyalakan lagi lampu harapan di bola matamu. Panggil kembali ingatan-ingatan tentang kesungguhanmu yang dulu. Utuhkan kembali niat mulia yang sempat mengisi penuh hati dan kepalamu, mewarnai siang dan malammu.

Jangan, jangan dulu menyerah. Setidaknya, jangan sekarang. Jangan di usia semuda ini. Nalarmu masih tajam. Jiwamu masih kuat. Tenagamu masih berlimpah. Memang belum saatnya kamu hidup nyaman. Memang masih banyak jatah gagal yang harus kamu habiskan. Jangan berhenti di sini.

Di atas semua itu, teruslah berdoa dan berbaik sangka. Jika daun yang sudah menguning saja tak ‘kan jatuh tanpa izin-Nya, apalagi cita-citamu yang indah itu.

Orang yang Tepat

Barangkali, kita ini sering salah paham. Kita mengira, untuk menjadi pecinta yang baik, satu-satunya yang dibutuhkan adalah seseorang yang tepat. Seolah-olah, mendapati seseorang yang kita kagumi di sisi kita adalah kunci menuju kehidupan rumah tangga yang bahagia.

Ini seperti seorang calon koki yang mengira bahwa satu-satunya yang dibutuhkan untuk menjadi koki yang hebat adalah bahan makanan pilihan yang mahal dan berkualitas tinggi. Atau seorang yang ingin jadi pelukis, namun yang dilakukannya hanyalah menunggu objek yang tepat. Dengan begitu, dikiranya, ia bisa mencipta lukisan yang indah.

Padahal, kalau kita belajar memasak dengan baik, lalu menjadi koki yang hebat, aneka bahan makanan bisa diolah menjadi masakan lezat. Kalau belajar melukis dengan sabar, objek apa pun bisa jadi karya seni yang tak ternilai. Dengan membangun kemampuan mencintai, siapa pun orangnya, bagaimana pun latar belakangnya, di mana pun dirinya sekarang, kita siap mewujudkan rumah tangga yang bahagia.

Barangkali …

Relakan Saja

Jika seseorang yang kamu inginkan berusaha menjauhimu, mungkin baginya kamu memang payah. Ia punya standar yang gagal kamu penuhi, karena itu ia pergi. Relakan saja. Bila perlu, beri ia sayap agar dapat terbang sejauh yang ia mau.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya ruang untuk introspeksi diri. Merenung tentang hal-hal yang harus kamu perbaiki.

Setidaknya, dengan begitu, kamu punya keleluasaan untuk menemukan seseorang yang lain. Menanggalkan kaca mata kuda yang selama ini kamu kenakan dan mulai mencari dengan sudut pandang lebih luas. Pasti ada seseorang di sana. Yang kamu inginkan dan menginginkanmu. Yang kamu hargai dan menghargaimu. Yang kamu terima kelemahannya dan bersedia memaafkan ketidaksempurnaanmu.

Pasti ada seseorang di sana, yang hatimu bergetar kala menatapnya dan tersipu saat kamu memujinya. Ia yang tak rela membiarkan sebelah tanganmu menepuk-nepuk udara. Ia menyambut sebelah tanganmu dengan tepukan, lalu terdengarlah suara cinta.

Tentang Jodoh, untuk Para Perempuan

Pernikahan kami belum genap lima tahun. Kemampuan kami dalam membina rumah tangga, belum benar-benar teruji. Pelaksanaan tanggung jawab saya sebagai suami dan ayah, masih kurang di sana-sini. Wawasan saya soal hubungan asmara, terbatas pada pengalaman yang singkat plus sedikit buku yang saya baca.

Tapi, kalau diminta memberi satu nasihat tentang jodoh oleh seorang perempuan, saya akan sampaikan ini:

Jangan menikah dengan laki-laki yang ingin kamu mencintainya sebagaimana ibunya mencintainya. 

Laki-laki yang terobsesi untuk mendapat pasangan seperti itu, adalah seorang yang kekanak-kanakan. Ia akan selalu menganggap dirinya seorang anak yang bisa setiap saat mendapat cinta tanpa syarat dari sang ibu. Ia ingin dicintai, tetapi tidak pernah belajar mencintai. Ia ingin dimengerti, tetapi tak berusaha untuk mengerti. Ia berharap bisa terus menerima, tetapi lupa memberi. Ia mungkin akan melakukan kesalahan demi kesalahan, kemudian berlindung di balik tameng pemakluman.

Lagipula, tak ada yang bisa menandingi cinta seorang ibu.

Sepasang kekasih bisa saling mencintai, karena mereka yakin: dengan saling memberi, dengan saling mendukung, kebersamaan mereka akan semakin langgeng. Itu cinta yang menyatukan. Tetapi, seorang ibu mencintai anaknya tanpa syarat, merawat, mendidik, menumbuhkan, hanya untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa anak itu akan tumbuh dewasa, mandiri, dan perlahan-lahan akan melepaskan diri darinya.

Seorang ibu akan terus mencintai anaknya, apa pun yang terjadi. Dan kamu tidak akan pernah sanggup melakukan itu.

Jadi, jangan menikah dengan laki-laki yang ingin kamu mencintainya sebagaimana ibunya mencintainya. Kecuali, kamu siap kehilangan kewarasan.

Tak Perlu Jelaskan Apa-apa

Tak usah dijawab, bila kamu tak ingin menjawab. Mereka bukan polisi dan kamu bukan tersangka. Mereka hanya penasaran, atau basa-basi. Sekadar cuap tanpa intensi.

Sebuah senyuman sudah lebih dari cukup.

Jangan mengangguk, bila kamu tak setuju. Kadang-kadang memang ada perasaan berdosa ketika berkata ‘tidak’. Ada perasaan tak enak saat menolak. Tetapi, itu hanya ilusi.

Dosa yang sebenarnya adalah melawan fatwa hati.

Tak perlu jelaskan apa-apa. Tak usah susah payah merangkai kata. Beberapa kejadian dalam hidup memang terjadi begitu saja. Di luar rencana, bahkan sama sekali tak terduga. Selama itu baik, menuju ke arah yang baik, jalani saja dan biarkan masa depan menantimu dengan kejutannya.

Tak Selalu Tentang Kamu

Jangan mudah marah atau tersinggung.

Mereka tak sedang membicarakanmu. Mereka sedang membicarakan seseorang yang lain di sana. Entah siapa, tapi yang pasti bukan kamu. Jadi, simpan umpatanmu, panjangkan lagi sumbu amarahmu. Perbanyak piknik dan sibukkanlah dirimu dengan berbuat sesuatu.

Jangan dulu besar hati, apalagi kepala.

Ia tak benar-benar peduli padamu. Tidakkah kau melihat ada udang di balik batu ucapannya? Buka mata lebar-lebar, pandanglah lebih jauh dan dalam. Ia tak benar-benar mencintaimu. Ia hanya ingin mencintai dirinya sendiri melalui dirimu. Jadi, simpan kesungguhanmu. Hadiahkan untuk mereka dan Ia yang selalu ada.

Jangan berpikir terlalu jauh. Jangan.

Apa yang berlangsung di muka bumi, termasuk yang terjadi di sekitarmu, tak selalu tentang kamu.

Akan Tetap Pergi

Suatu waktu, ada seseorang yang tiba-tiba hadir di hidupmu. Bagimu, ia sosok yang tepat. Tidak sempurna, tentu saja, tetapi sebagian besar yang ada di dirinya sudah sesuai kriteria.

Tidak salah lagi. Kali ini, kamu cukup yakin keluarga dan lingkunganmu akan menerimanya dengan tangan terbuka. Akan ada satu dua yang saling berbisik tentang ketidaksempurnaannya, tentu saja, tetapi tidak apa-apa. Itu tandanya ia masih manusia.

Ini pasti konspirasi semesta, batinmu. Tiba-tiba harimu jadi penuh bunga.

Lalu, tanpa menunggu lama, kamu diam-diam mendekatinya. Mencari tahu apa yang disuka dan tak disukanya. Menciptakan pertemuan-pertemuan kecil yang seolah tak sengaja. Melakukan aneka tindakan bodoh untuk mencuri perhatiannya. Merancang strategi tahap demi tahap untuk memenangkan hatinya.

Sayangnya, ia tampak acuh tak acuh pada setiap usahamu. Setelah semua yang kamu lakukan, baginya dirimu hanyalah seorang teman, sebagaimana orang-orang lain di sekitarnya.

Kamu marah, entah pada siapa. Tetapi bisikan itu terus terngiang di telingamu: amour vincit omnia … cinta menaklukkan segalanya. Belum lagi imaji tentang betapa indahnya dunia bila kamu bisa selalu bersama dengannya. Maka, meski masih sibuk menyatukan potongan-potongan hati yang patah, kamu tak berhenti berusaha.

Hatinya pasti kan luluh bersama waktu, ucapmu meyakinkan diri.

Sayangnya lagi, ia benar-benar ingin pergi. Kamu sedih, tentu saja, tetapi Continue reading Akan Tetap Pergi

Undo

Salah satu manfaat yang paling terasa dari kehadiran komputer adalah betapa mudahnya membatalkan keputusan.

Saat kita mengetik kalimat yang salah, lalu klik ‘undo’, naskah pun kembali seperti semula—kesalahan diperbaiki. Jika kita tak suka akan keberadaan sebuah foto yang di dalamnya kita terlihat gemuk, kita tinggal menekan ‘delete’. Lalu, seandainya kita tak sengaja menghapus sebuah dokumen penting, kita hanya perlu membuka recyclebin, klik ‘restore’. Maka, simsalabim, dokumen terselamatkan.

Sayangnya, hal demikian tak selalu berlaku dalam kehidupan.

Dalam hidup, ketika kita melakukan kesalahan—misalnya melukai hati seseorang, tak ada tombol ‘undo’ yang bisa ditekan. Mau tidak mau, kita harus meminta maaf. Itu pun, tentu tak memperbaiki segalanya.

Kita juga tak bisa begitu saja menghindari tanggung jawab, hanya karena hal tersebut tak menyenangkan buat kita. Sebab, beberapa hal dalam hidup memang tak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan yang paling disayangkan, ketika Continue reading Undo

Kemenangan Kecil

Ketika menonton berita tentang seorang atlet yang mendapat emas di kejuaraan bergengsi, lalu namanya dielu-elukan di seluruh pelosok negeri, kita kagum bukan main. Ketika melihat seorang musisi asal Indonesia namanya bersinar di kancah dunia, menjadi artis yang Go International, kita turut bangga dan terus membicarakannya. Ketika mendengar cerita soal penulis yang karyanya laku ratusan ribu eksemplar dan menginspirasi banyak pembaca, lalu difilmkan dan juga ditonton oleh banyak orang, kita merasa inilah waktu yang tepat untuk bilang ‘WOW!’.

Diam-diam, kita mengkhayal bisa menjadi mereka. Barangkali tidak di bidang yang sama, tetapi, pada intinya kita ingin merasakan pencapaian itu. Kita ingin hidup sebagai pemenang.

Konyolnya, ambisi itu dengan mudah pudar ketika di berita lain kita membaca kisah para pemenang itu untuk sampai ke titik pencapaiannya. Kita tak sampai hati saat mengetahui aneka pengorbanan yang mereka lakukan. Di sana, keringat dan air mata bercucuran. Juga di sana, ego dan rasa malas dibunuh atas nama kedisiplinan.

Kemenangan besar seringkali tampak seperti puncak gunung es di atas permukaan laut. Seolah-olah ia hanya mengapung begitu saja. Padahal, jika kita menyelam ke bawah, kita akan sadar bahwa puncak gunung es itu hanyalah bagian kecil dari satu bongkahan gunung es yang begitu besar. Sebagian besar dari bongkahan yang tak terlihat secara langsung adalah beragam pengorbanan itu: tidur lebih sedikit, bekerja lebih keras, susah payah memulihkan diri dari kekalahan dan kegagalan, menutup telinga dari rayuan-rayuan untuk menyerah, dan sebagainya.

Pepatah mengatakan, perjalanan panjang selalu diawali oleh satu langkah kecil. Sementara itu, hasil penelitian Malcolm Gladwell menyebutkan bahwa seseorang bisa menjadi sangat ahli di suatu bidang (Mastery in A Field) jika dia melakukan praktik selama 10,000 jam di bidang tersebut. Cerita tentang kemenangan besar, sebenarnya adalah cerita tentang kemenangan kecil yang terjadi berkali-kali.

Kabar baiknya, yang namanya ‘kemenangan’, sekalipun ia kecil, punya sifat adiktif. Jadi, ketika kita Continue reading Kemenangan Kecil

Membenci

Karena kita tak mungkin hidup sendiri, kita tak bisa menghindar dari interaksi. Dan dalam interaksi itu berbagai hal bisa terjadi. Tak jarang, kita mendapati hal-hal yang tak menyenangkan seperti: kata-kata yang melukai hati, tindakan yang miskin empati, atau ketidakpekaan yang rasanya bikin kita ingin bunuh diri.

Hal-hal itu terasa tidak ideal. Tak sesuai ekspektasi. Dan tentu saja, mengganggu pikiran dan membuat kita merasa tidak nyaman.

Sebab itu, kita merasa berhak untuk marah. Atau, karena kita tak mau terlihat menyebalkan, diam-diam kita membenci.

Kita pikir, kebencian kita pada seseroang yang sudah melukai perasaan kita, adalah semacam hukuman yang setimpal. Kita pikir, dengan membenci, kita bisa lupa akan hati yang telah atau sedang terluka. Dan karena itu kita terus melakukannya, masa demi masa.

Padahal, ketika kita membenci seseorang, siapakah sebenarnya yang dirugikan? Orang yang kita benci, yang bahkan mungkin tak tahu bahwa ia sedang dibenci? Atau, justru diri kita sendiri, yang menghabiskan menit demi menit untuk mengorek berbagai kekurangannya, membakar banyak energi untuk menemukan kesalahan-kesalahannya, sambil terus membungkus diri dalam aura negatif?

Ini barangkali terdengar klise, naif, sekaligus tidak adil. Tapi, kita memang Continue reading Membenci