Selamat Datang, Salman!

Kekasih… sejak sabtu 1 April seminggu yang lalu ibumu sudah memasuki bukaan pertama. Satu penanda penting bahwa tak lama lagi kau akan lahir ke dunia. Hingga Rabu 5 April, kontraksi semakin intens tapi bukaan tidak juga bertambah. Sementara rasa sakit semakin menjadi. Malam harinya, pihak RS menawarkan 2 pilihan, induksi dengan obat atau langsung operasi caesar. Uti menyarankan agar langsung caesar saja karena beliau tahu dari teman-temannya induksi dengan obat perangsang itu sakit bukan main. Aku yang tahu ibumu ingin sekali melahirkan normal menyerahkan keputusan pada ibumu. Dengan tekad yang kuat, ia memilih berikhtiar semaksimal mungkin untuk melahirkan secara normal & menyatakan siap dengan segala konsekuensinya.

Malam itu juga pukul 23.00 ibumu memasuki kamar bersalin, diberi obat untuk induksi dengan harapan dalam 6 jam bukaan bertambah. Dan 6 jam itu… adalah 6 jam terlama dalam hidup ibumu. Lebih dari tiga tahun hidup dengannya, belum pernah aku melihat ia menangis semenderita itu. Tangan kirinya memegang tepi ranjang, tangan kanannya menggenggam erat tanganku. Air matanya tak berhenti mengalir.

Di tengah tangis yang panjang itu, air ketubannya mengalir. Aku panik, ibumu lebih-lebih. Bidan mencoba menenangkan dan rasa sakit itu ditahan hingga pukul 05.00.

Enam jam yang panjang itu berakhir. Bidan kembali melakukan observasi dan bukaan belum juga bertambah. Sementara air ketuban terus mengalir.

Aku yang tak tega lagi melihat penderitaan itu membujuk ibumu untuk Continue reading Selamat Datang, Salman!

Segera Terbit: Pertanyaan Tentang Kedatangan

messageImage_1490239010708

Perempuan itu menangis lama sekali, hampir sepertiga malam. Matanya sembab, merah, dan seperti tiada lagi air tersisa di sana. Detik melambat. Malam jadi terasa begitu panjang.

Dan perempuan itu terus menangis. Membicarakan apa saja yang memenuhi kepalanya. Menumpahkan semua   keluh, kesah, dan sedikit sumpah serapah—entah pada siapa. Mempertanyakan segala pertanyaan yang menusuk-nusuk batinnya silih berganti pada lubang luka yang sama. Semuanya dilakukan dengan tersedan, napasnya terdengar semakin payah.

Aku memilih berbaring pada jarak tertentu, membiarkan perempuan itu memeluk dirinya sendiri. Tak ada kata, atau bujuk rayu apa pun yang bisa menghentikan tangisnya. Tak ada humor yang bisa membuatnya tertawa, atau sekadar menyunggingkan senyum di ujung bibirnya. Tak ada raba yang sanggup menenangkannya.

Jadilah aku pecundang yang hanya bisa Continue reading Segera Terbit: Pertanyaan Tentang Kedatangan

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 4)

Aku menemukan ketentraman setiap mengenang puisi-puisi yang kutulis untukmu. Meski di satu sisi aku membencinya.

Aku membenci ketakberdayaan yang menderaku seolah aku memang dicipta untuk menjadi laki-laki tak berdaya yang tak bisa apa-apa. Aku benci kepengecutan yang entah sejak kapan kujadikan teman. Aku benci menyadari bahwa aku pernah begitu rapuh.

Aku benci diriku yang tak pernah berani berkata jujur lalu mengambil tanggung jawab atas perkataan jujur itu.

Tapi bukankah setiap yang terjadi di muka bumi ini ada di atas rancangan dan kepastian-Nya? Maka sebesar apa pun kebencianku, aku akan tetap mensyukurinya. Hanya itu satu-satunya cara untuk bisa tetap tersenyum, sambil terus melangkah menjalani hidup dengan mata yang menyala.

Bahwa kita pernah tak saling bicara. Bahwa aku pernah begitu khawatir menyalahartikan rasa. Bahwa aku pernah mengabadikan ketakberdayaan itu dalam sebuah surat dan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 4)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 3)

Tell me you love me, if you don’t then lie… Oh lie… to me.

Chris Martin menyanyikan lagu itu dengan begitu syahdu, seolah ingin mewakili setiap orang jatuh cinta yang tak mau berteman dengannya kecuali setumpuk tanda tanya dan rasa takut.

Termasuk bagian dari mereka, adalah aku.

Aku yang hampir selalu lupa cara bicara tiap di dekatmu. Lalu setiap waktu, kita menjelma dua manusia pemalu yang baru pertama kali bertemu.

Dan sebagaimana kau tahu, tiada yang lebih beku dari perjumpaan dua manusia pemalu. Hadirnya dua katup bibir, tak menjamin ada cuap di sana. Maka merekalah para ahli diam—untuk selanjutnya menjadi para ahli tebak. Karena tak ada yang bisa dilakukan untuk sebuah kebisuan kolektif selain menebak dan menebak. Sebab itu, di sanalah kerap terjadi sebuah tragedi memilukan yang biasa disebut ‘tertipu oleh apa yang direka sendiri.’

Cerita cinta para pemalu adalah kisah yang penuh rindu pilu. Mereka habiskan senja untuk menanti bulan pujaan di perempatan jalan, untuk sekadar menatap dalam diam. Sampai sang bulan berlalu, berjalan menjauh, lalu menyisakan bayangan punggungnya untuk kemudian hilang.

Ceritaku, tak jauh berbeda.

Akulah pemuja rahasia yang selalu menanti datangnya bulan Januari dengan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 3)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 2)

Kebahagiaan atas sebuah anugerah bernama ‘jatuh cinta’, rupanya datang satu paket bersama perihnya rindu yang mendera. Kesenangan dan kesedihan, kata Kahlil Gibran, bersama-sama hadir. Dan ketika yang satu duduk sendirian denganmu di bangku, yang lainnya sedang terlelap tidur di ranjangmu. Mereka seperti dua sisi mata uang yang tak bisa kubelah untuk kudekap salah satu, sambil membuang sisi lainnya.

Itulah saat-saat aku mulai berhasil menghayati kesedihan Thom Yorke dalam lirik itu:

When you were here before
Couldn’t look you in the ey
e
You’re just like an angel
Your skin makes me cry

You float like a feather
In a beautiful world
And I wish I was special
You’re so
very special

But I’m a creep. I’m a weirdo.
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here.

Jauh di dalam hatiku, ada kekaguman yang berdiri megah di atas rasa tak berdaya. Ada luka yang tak butuh diobati, tersebab kesembuhan sebuah luka hanya akan menyisakan bekas yang sama menyakitkannya ketika dikenang. Ada perasaan yang disembunyikan oleh kegagapan untuk mengungkap rasa.

Meski, rupanya bara api yang dilempar ke dalam setumpuk sekam mulai menimbulkan asap. Semakin lama aku menyimpan perasaan itu, semakin aku curiga bahwa kau mulai menyadarinya. Aroma kerinduan telah merebak hebat, dan kau tak mungkin selamanya pura-pura tak menciumnya, kan?

Tapi tetap saja aku berdiri di sana dan tak beranjak, menjadi pecinta paling pengecut yang terhibur oleh rasa cintanya sendiri.

Aku terus bertahan, menjadikan kita seperti tetangga yang dipisahkan oleh sebuah dinding. Aku merasakan keberadaanmu, tanpa pernah tahu bagaimana perasaanmu. Jarak antar raga kita dapat kuukur, tapi tidak dengan Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 2)

Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 1)

Berhenti di sana. Jangan lagi kamu berjalan meski pelan-pelan. Aku takut ketika kamu jatuh, tanganku belum siap di sana untuk menangkapmu. Jadi tunggu dulu.

Tunggu. Sampai mulutku tak lagi gagu. Sampai bicaraku lancar tanpa harus fokus pada jantung yang dengan cepat berdebar. Aku tidak akan mengatakan kata-kata yang diucapkan kebanyakan orang: pasaran, bualan. Jadi biarkan aku berkreasi sambil membaca situasi. Dan selama itu, silakan kamu menunggu.

Barangkali kamu akan bertanya dalam hati: ‘Sampai kapan?’

Sampai kamu mengerti.

Bahwa matahari tiada pernah membenci bumi, ia hanya tidak ingin menyakiti. Kata yang satu tidak pernah membenci kata yang lain, mereka hanya ingin ada jeda, supaya mereka punya makna. Pucuk pohon tak pernah membenci akar, mereka hanya ingin bersinergi untuk jadi berdaya.

Jarak dicipta, tiada lain karena ia punya makna. Maka stop. Berhentilah di sana.

Adanya rasa bukan untuk diterka, jadi biarlah ia tetap indah sebagai sesuatu yang tidak disangka. Suka tidak suka.

Aku berusaha tegar. Atau pura-pura tegar. Bersikap seolah semua berjalan apa adanya dan baik-baik saja.

Aku berangkat ke kampus selama enam hari seminggu, masuk ke ruang kuliah, mengikuti berbagai kegiatan mahasiswa, dan sesekali bicara denganmu—kali ini dengan kata dan juga rasa. Bersama dengan yang lain, kita bicara tentang apa saja. Kadang hadir gelak tawa, kadang kita murung karena sesuatu.

Di tengah-tengah situasi itu aku selalu mencuri pandang ke arahmu, berharap mata kita bertemu untuk saling menatap. Tapi tak juga kau menangkap sinyal itu. Kita seperti dua radio yang berbeda frekuensi.

Sepertinya, bagimu semua memang berjalan apa adanya dan baik-baik saja.

Di dalam benakku mulai muncul pertanyaan-pertanyaan itu:

Apa hanya aku yang didera rindu? Apa hanya aku yang mendadak lupa cara bicara setiap kita bertemu? Apa selama ini tanganku hanya menepuk-nepuk udara?

Katanya, life is all about managing expectation. Ketidakbahagiaan hadir karena Continue reading Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 1)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)

Ada satu hal lagi yang kurasa perlu kau tahu.

Seandainya dulu aku pernah menulis, atau berkata bahwa jatuh cinta itu biasa saja, sebenarnya aku sedang berbohong. Walaupun aku suka betul lagu ‘Jatuh Cinta itu Biasa Saja’ yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca, bagian hatiku yang paling jujur tak pernah benar-benar menyepakati sebagian liriknya.

Ketika rindu
Menggebu-gebu
Kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja

—katanya.

Seandainya jatuh cinta semudah itu. Andai menjalani perasa-an jatuh cinta sesederhana itu.

Adalah gebu-gebu rindu itu justru yang tanpa ampun menyeretku ke batas kesadaran. Membuat kabur sekat mimpi dan realita. Menyamarkan beda siang dan malam. Hingga, pada kadarnya yang paling tinggi membuatku lebih rajin mengeja namamu daripada apa pun yang ada di semesta. Sampai kadang-kadang perasaan itu membuatku merasa bersalah.

Tapi tahukah kau, betapa kecilnya rasa bersalah itu ketika bersanding dengan perasaan mahadahsyat bernama jatuh cinta!

Perasaan yang entah bagaimana caranya selalu bisa membuat manusia tiba-tiba merasa begitu beruntung pernah dilahirkan ke dunia. Dan, untuk sejenak, berhenti mengutuki hidup yang sejak lahir hampir tak pernah disyukuri. Perasaan yang melipatgandakan energi, sehingga hari seolah selalu fajar dan matahari selalu bersinar dengan cahayanya yang menenangkan. Bilapun diizinkan datang, malam akan hadir bermandikan cahaya rembulan.

Barangkali seperti itulah cara orang-orang yang jatuh cinta memandang dunia: hari-hari yang mereka lewati selalu terasa indah.

Ketika pagi datang dan bunga-bunga sibuk menegakkan mahkotanya, orang-orang yang jatuh cinta akan keluar dari rumah dengan hati yang tak diisi kecuali oleh perasaan gembira. Sepanjang jalan mereka akan menari bersama kupu-kupu, duduk sebentar di sebuah bangku taman, mengagumi indahnya pagi ciptaan Tuhan, lalu berjalan lagi menuju keramaian.

Di tengah keramaian itu, dengan terburu-buru, orang-orang berlalu-lalang sambil berkejar-kejaran dengan waktu. Tapi bagi mereka yang jatuh cinta, waktu berjalan dengan begitu pelan dan mesra. Seolah bumi takluk, menurunkan kecepatan berputarnya, demi ikut merayakan perasaan-perasaan jatuh cinta itu.

Mereka yang sedang jatuh cinta selalu bisa memaknai indahnya takdir lebih dari siapa pun. Bagi mereka, setiap perjumpaan tak sengaja adalah cara Tuhan untuk memper-temukan. Bagi mereka juga, jika ada kesamaan, sekecil apa pun itu, adalah Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)

Bunga-bunga mulai bermekaran, serupa sakura di musim semi. Puisi-puisi rindu ditulis dengan namamu tersirat di sana. Dan seperti adegan jatuh cinta dalam film-film bollywood, tiap detik kehidupan yang kujalani seolah punya musik latar dengan tema lagu-lagu cinta yang siang malam terus berputar. Kadang aku ikut bernyanyi, tentu dengan kesadaran penuh perihal kualitas suaraku yang menyedihkan. Tapi aku tak peduli, setiap orang yang sedang jatuh cinta selalu berhak untuk menjadi penyanyi, setidaknya untuk dirinya sendiri. Setiap orang yang sedang jatuh cinta berhak untuk bergembira.

Satu kejujuranku, kuingin jadi cicak.. di dindingmu. Cicak.. di dindingmu, kata Dee dalam salah satu lirik lagunya. Tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada lagu itu, yang terus terngiang bersama perasaan ingin terus ada di dekatmu. Tapi aku tak senaif Dee. Aku tak ingin jadi cicak, yang keberadaannya barangkali tak kau hiraukan sama sekali. Aku tak ingin jadi cicak yang ketika berusaha mendekatimu justru membuatmu berlari. Menjauh. Atau berteriak memanggil siapa saja untuk menangkap dan membuangnya ke tempat paling asing. Bahkan terlalu asing untuk mengingat jalan pulang ke tempatmu lagi.

Aku ingin jatuh cinta dengan kesadaran penuh sebagai laki-laki sejati. Laki-laki yang bahunya bisa jadi tempat bersandar dan bukan cicak yang lemah.

Pengakuan ini jujur adanya, bahwa hadirnya perasaan itu merupakan satu pengalaman hati yang indah. Lalu kemungkinan-kemungkinan tentang jalur yang bertemu di persimpangan itu mulai hadir, setidaknya dalam khayalku: aku ingin melewati setiap episode kehidupan bersamamu, sudikah kiranya dirimu?

Akankah kita berjalan berdampingan, di jalur yang sama, dan bersepakat untuk menuju satu destinasi abadi yang tunggal tak terbagi? Itu pertanyaanku kemudian. Pertanyaan yang saat itu kusimpan sendiri. Di hati dan jangan sampai merambat untuk terucap. Sebab perempuan seindah dirimu tak pernah layak menjalani kebersamaan yang prematur. Dan sampai saat itu tiba, atas nama rasa tak berdaya, aku hanya bisa bicara dengan keheningan—bahasa hati paling sejati.  Atau pada halaman-halaman kertas kosong yang Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 2)

…..

Begitu pula pada bulan-bulan berikutnya. Pesonamu belum juga berhasil menawanku.

Jumpa pertama denganmu kala itu adalah gerbang menuju aktivitasku yang baru sebagai anggota lembaga legislatif di kampus. Aku menjalani keseharianku sebagai mahasiswa yang datang ke kampus bukan untuk sekadar kuliah. Waktu-waktu di luar kuliah kugunakan untuk rapat, mengerjakan beberapa program kerja, bertemu berbagai jenis orang, dan aktivitas lainnya.

Di waktu yang agak senggang aku membaca buku, menonton film, atau mendengarkan lagu-lagu Radiohead. Meski aku bukan pecinta musik, aku selalu menyukai band asal Inggris itu. Lewat lirik dan musiknya, Radiohead seperti punya daya magis yang selalu mampu menghisapku ke dalam pusaran emosi yang mereka ciptakan, ikut berputar-putar di dalamnya, sampai akhirnya berhenti di satu titik perenungan yang sunyi untuk menanyakan kembali makna cinta, hidup, dan kemanusiaan.

I’m a creep. I’m a weirdo.
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here.

Jiwaku masih saja bergetar setiap mendengar Thom Yorke menyanyikan lagu ‘Creep’ itu dengan begitu lirih. Ada semacam kejujuran yang menyeruak ke luar, seolah ingin bercerita pada dunia bahwa jauh di dalam jiwanya ada luka yang menganga. Perih, menyakitkan, tapi seperti tak mau diobati. Aku tak pernah tahu di dunia ini sungguh ada kesedihan macam itu, sampai aku jatuh cinta padamu.

Setahun setelah jumpa pertama itu, Tuhan mulai menampak-kan keromantisan-Nya. Atau, barangkali aku yang tak tahu diuntung ini yang baru menyadarinya. Entahlah, aku lebih yakin pada kemungkinan kedua.

Kita dipertemukan dalam satu lembaga eksekutif yang memaksa kita untuk—mau tidak mau—bertemu dan saling bicara hampir setiap hari. Aku diamanahkan sebagai wakil ketua dan kau sekretaris. Terlalu indah untuk disebut kebetulan. Kita berkenalan satu sama lain dan aku mulai tahu banyak tentangmu. Kau bercerita tentang berbagai hal yang berkaitan tentang dirimu. Tidak banyak memang, tapi bahkan yang sedikit itu sudah cukup membuat sepasang kelopak mataku rela menahan nalurinya untuk berkedip.

Kini aku sadar aku selalu merindukan momen itu—detik-detik ketika kau bercerita apa saja tentangmu.

Aku selalu suka mendengar nada bicara dan suaramu ketika mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku selalu ingin merasakan kembali indahnya dunia saat waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka, hanya untuk mendengarkanmu bicara—aku, tak terkecuali.

Aku menyerah. Diam-diam aku mulai Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 2)

Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Inilah hidup: betapa banyak peristiwa romantis yang tak pernah benar-benar kita rencanakan. Seperti, barangkali perjumpaan kita. Dan sampainya kita di titik ini.

Suatu hari di bulan Oktober 2009.

Di ruang kelas mungil itu, pertama kali aku mendengar namamu, sekaligus mengambil satu kesimpulan kecil: wajah yang indah selalu bersanding dengan nama yang indah. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan bagiku. Dan kamu, dengan wajah yang tampak susah payah menutupi kegugupanmu duduk di depan. Seingatku, di kursi sebelah kiri dari arahku. Detik itu, aku tengah menanti giliran untuk kau panggil.

Kira-kira itulah ingatan tentang jumpa pertama kita yang mampu kugali dalam memoriku.

Perjumpaan pertama kita memang bukan tabrakan tak sengaja a-la sinetron di koridor kampus yang membuat buku-buku yang kau bawa di tanganmu jatuh berserakan, kemudian aku yang merasa bersalah setengah mati meminta maaf sambil bantu membereskan, diikuti dengan dua pasang Continue reading Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Aku Tanpamu, adalah…

Apa yang bisa menahan manusia, dari keinginan untuk memiliki setiap hal yang memukau di dunia? Apa yang bisa membunuh berahi manusia untuk mengoleksi setiap inci keindahan yang membentang di semesta? Apa yang bisa memaku waktu, untuk berhenti beberapa detik saja, demi mencipta satu ruang untuk merayakan satu perasaan sunyi, tanpa teriakan dan tepuk tangan, tanpa hujatan juga makian?

Apa yang bisa melakukan berbagai hal magis itu, jika bukan cinta yang hadir bersama seorang perempuan lugu. Didekapnya cinta itu seraya bibir tipisnya tersenyum lalu dengan lembut berbisik: kita akan baik-baik saja.

Dan semua memang baik-baik saja.

Perut kita kenyang dengan sepiring cinta yang kita makan berdua, kau menyuapiku seperti Continue reading Aku Tanpamu, adalah…