Disandra Rendra

Disandra Rendra: membuka tirai ‘maksud baik’ para penguasa

Kenapa maksud baik tidak selalu berguna
Kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?
Orang berkata: “kami punya maksud baik.”
Dan kita bertanya: “maksud baik sodara, untuk siapa?”

Entah kecamuk pikiran macam apa yang memenuhi benak Rendra tiga puluh lima tahun yang lalu. Saat penyair kehidupan ini meneriakkan sajaknya di depan ratusan mahasiswa baru Universitas Indonesia angkatan 1977. Sebuah sajak yang membadai, menerpa semua cerita tentang pembodohan dan pengkhianatan di negeri ini: Sajak Pertemuan Mahasiswa. Sebuah kumpulan huruf-huruf yang beku, tapi tulus bercerita.

Lupakan sejenak cerita tentang heroisme para pahlawan-pahlawan kemerdekaan. Maksud baik mereka kini telah terkubur–atau mungkin dikubur–dalam-dalam oleh imperialisme modern: penjajahan melalui berbagai sektor, dengan para wakil kita di gedung-gedung megah sana sebagai kumpeninya, atau kaki tangannya. Kita memang tidak dipaksa membangun jalan dari Anyer sampai Panarukan. Tidak juga dipaksa menanam kopi atau tebu di tanah air kita sendiri. Tapi kita selalu coba dikelabui, dibodohi, dan Continue reading Disandra Rendra

PARIPURNA PURA-PURA

“DPR kok seperti anak TK” –Gus Dur

Perkenankan saya untuk tidak sepenuhnya sepakat dengan argumen ini. Anak TK, mereka bertengkar, saling mengejek, bercanda, dan kadang bertingkah semaunya, oleh sebab mereka belum tahu. Mereka hanya belum mengerti. Namun kalau ada orang sudah tua, sudah tahu mana baik buruk, sudah mengerti mana yang pantas dilakukan mana yang tidak, sudah dipercaya rakyat, masih bertingkah seperti itu, hipotesa saya ada dua: mereka tidak pernah sekolah, atau memang dicipta tanpa otak. Lalu, di negeri nan kaya raya namun tiada sejahtera ini, siapa lagi yang bisa kita percaya?

Continue reading PARIPURNA PURA-PURA

Lupakanlah Cinta!

Hati itu nampaknya terlalu dalam untuk diselami. Sepertinya segala daya dan upaya yang telah dipersiapkan untuk misi membongkar misteri keluguan itu harus dihentikan di sini. Terlalu ambisius mempertahankan cinta jiwa yang tak jelas muaranya. Yang ada sekarang hanya rasa ingin tahu yang harus dikubur oleh realitas ketidakpastian. Semua tiba-tiba sirna, atau kalaupun masih ada, anggap saja itu sudah sirna. Itu resiko, resiko cinta jiwa. Karena jiwa tak selalu bertemu dengan jiwa. Kadang ia harus berbenturan dengan kenyataan hidup yang dalam subjektivitas pecinta itu begitu tidak adil dan menyakitkan. Kadang dia juga sengaja dipertemukan dengan bentuk lain, akhirnya cinta tidak dapat menyatu.

Cinta sudah membara, obsesi sudah menggelora, tapi takdir tidak mampir di sini. Ia terlalu sombong. Realitas ini begitu sadis… Gairah kehidupan seperti dikungkung oleh kekejaman takdir. Tidak ada lagi senyum terlempar, kini diri ini seperti perahu tanpa layar. Termangu di tengah laut lepas. Tidak tahu arah. Kalaupun tahu, tidak tahu bagaimana mengikuti arah itu. Serat-serat jiwa kembali mengerut, seluruh katup-katup hati tertutup. Cinta selalu berakhir dengan derita, kata Jenderal Tien Feng.

Itulah yang dirasa, kalau kita terlalu serius memaknai cinta jiwa. Karena cinta jiwa terlalu instan, tidak dibangun dengan fondasi yang kokoh. Karena kadang cinta jiwa hanya dibangun di atas obsesi kebanggaan, atau mungkin penetrasi kegelisahan. Sebab itu Anis Matta mengajak kita melupakan cinta jiwa yang tidak berujung di pelaminan. Itu terlalu menyakitkan. Karena hanya Continue reading Lupakanlah Cinta!