Tentang Kita dan Waktu

Akhir-akhir ini, entah mengapa aku selalu memikirkanmu.

Pak,

Tentang pesan-pesan yang kausampaikan padaku waktu itu, maaf  kalau aku belum mampu menjalankannya. Semua maupun sebagian.

Tentang nasihat-nasihat yang pernah kauucap padaku sejak dulu, ingin sekali kuikuti. Semua. Andai aku tak sebodoh ini. Menjalani hidup semau-mau. Lupa bahwa di pulau seberang sana ada seseorang yang dengan penuh kesederhanaan, entah bagaimana caranya selalu memastikan hidupku terjamin di sini. Yang boleh jadi dalam setiap shalat malamnya tak pernah khilaf memanjatkan do’a untuk kebaikanku. Yang selalu menjadi orang yang paling khawatir kala mendengar kabar diriku yang sedang sakit: dirimu, pak. Betul pak, manusia luar biasa itu adalah dirimu: bapak paling romantis sedunia. Aku barangkali kebalikannya. Durhaka. Durjana.

Lalu tentang masa kecilku yang kita habiskan bersama, masihkah kau mengingatnya, pak?

Saat kauantar aku sekolah dengan RX King merahmu yang katanya motor dinas.

Saat diam-diam kau tambahkan uang jajanku tanpa sepengetahuan ibu.

Saat kauambilkan rapor SDku yang membuatmu (semoga) tersenyum bangga karena aku selalu peringkat satu.

Saat kaubonceng aku ke Masjid dengan sepeda unta merk phoenixmu bila jum’at tiba.

Saat kauajak aku memancing di sungai, atau kadang di lebung. Waktu itu kita sering dapat ikan gabus yang besar-besar, pak. Masih ingat?
Continue reading Tentang Kita dan Waktu

Andai

Tiada perlu prosesi belah dada untuk percaya apa yang kurasa. Tiada pula perlu kuucap sumpah serapah. Kini semua sudah tak lagi samar, bukan?

Mari mendekat. Bukankah telah sejak lama aroma kerinduan ini merebak hebat? Dan kau masih saja pura-pura tak menciumnya. Mengapa kenaifan itu terus kaupelihara?

Dalam keluguan, kau terus diam tanpa kata yang bermakna. Memaksaku bisu tanpa aba-aba.

Tengoklah,
Di sini berdiri aku,
Yang setiap hari mencoba mencuri sekelebat bayanganmu
Memunguti sisa-sisa senyum yang kau lempar sebentar
Continue reading Andai

Bila Kau Percaya

Bila kau percaya:

Akan ada saat dalam hidupmu di mana menyerang menjadi strategi bertahan yang terbaik. Jangan langsung percaya, sebab ini mungkin bukan teori perang dari Sun Tzu. Sila kau alami sendiri. Terus membatu di balik tameng mungkin akan membuatmu terus hidup, tapi kau tidak benar-benar hidup. Sebagian nyawamu telah kau tukar dengan—barangkali—semacam anestesi yang membiusmu: membuatmu tak sadar bahwa bukan untuk itu sejatinya kau diciptakan dan hidup.

Akan ada masa dalam perjalanan panjang kehidupanmu ketika kau dipaksa untuk—mau tak mau dengan berbagai pertimbangan yang entah matang atau mentah sejadi-jadinya—menangis dan meringis, seberapa kuatpun dirimu—yang barangkali itu hanya anggapanmu. Karena membendung air mata adalah derita. Dan diam pura-pura menahan sakitnya luka adalah neraka.

Continue reading Bila Kau Percaya

Teruslah Membara Duhai ‘Tapak Dara’

Suatu hari nanti kita akan sadari. Melayani dan mengabdi adalah inti kehidupan. Kini kita belajar. Di sini. Di bawah langit ungu yang cerah karena matahari yang hadir malu-malu. Bersama waktu yang terus berlalu. Ya, kita belajar. Belajar merasa. Belajar berpikir dan memberi.

Tawa yang membuncah, tangis yang mengiris, dan keringat yang membanjir adalah teman perjalanan. Saksi perjuangan kita menemukan kesejatian.

Satu.. dua.. tiga.. Masih perlu puluhan angka untuk sampai seratus. Telah lama juga rupanya kita bersama-sama di dalam kereta ini. Kereta yang akan mengantarkan kita ke surga, insyaallah. Kita akan bahagia.

Continue reading Teruslah Membara Duhai ‘Tapak Dara’

Ditawan Sariawan

Merana adalah saat flu dan sariawan hadir bersamaan. Menyerangmu tanpa perasaan. Untuk beberapa hari kamu akan benci bicara dan makan. Tubuhmu melemah, kepalamu pusing tidak karuan. Bersamaan dengan itu, untuk kesekian kalinya kamu akan jatuh cinta pada kasur. Kamu mendamba untuk selalu ada bersamanya. Saat itu juga semua list hobbymu akan berganti jadi: berbaring. Ya, hanya itu yang benar-benar ingin kamu lakukan.

Kamu memang anti obat flu. Abothyl masih mau. Namun apa yang bisa dilakukan abothyl pada sariawan yang bertengger tenang di sisi lidah bagian belakang?

Continue reading Ditawan Sariawan

Lekas Cerah

Ini siang. Kita masih berhimpun dalam rumah yang katanya suci namun jarang dihuni. Ada tawa, ada lelah, ada jiwa yang berbunga. Ada rasa yang beragam, tapi kita sepakat bahwa hari ini adalah hari yang indah.

Waktu memang seringkali menipu kita dengan bahagia sesaat yang dibuatnya. Tapi ia tak akan berhenti. Terus berjalan memisah-misahkan. Jadilah kita berserakan. Jadilah kita punya jawaban berbeda untuk kata ‘dimana’.

Continue reading Lekas Cerah

Katanya Surga

Surga dunia adalah pisang cokelat plus secangkir cappuccino hangat pukul sepuluh malam. Setelah kau tanggalkan tas dan semua beban yang berhimpun di dalamnya. Setelah kau cuci muka dan kaki tapi bukan mandi. Sehabis kau ganti bajumu yang sedikit basah akibat resapan sisa-sisa hujan yang mengiringimu sepanjang perjalanan. Sesederhana itu.

Continue reading Katanya Surga

Dear Bumi

Dear Bumi…

Katanya, hari ini adalah punyamu. Satu dari tiga ratus enampuluhan hari dalam satu tahun yang didedikasikan untuk menghormatimu. Memanjakanmu. Aku bilang begini, khawatir kamu belum tahu. Tapi mudah-mudahan sudah.

Sebenarnya sulit bagiku menebak apa di pikiran Gaylord Nelson saat mengusulkan supaya hari ini diberikan saja padamu. Apalagi diminta menebak isi kepala dua puluh jutaan demonstran yang memadati Fifth Avenue di dua puluh dua April empat puluh dua tahun silam. Tapi sudahlah, aku percaya saja. Toh, orang-orang pun begitu. Di era demokrasi, kebenaran ditentukan banyaknya suara bukan? Spesial untuk hal ini, biar kuredam ketidaksepakatanku akan konsep tersebut.

Katanya hari ini adalah punyamu. Seperti aku yang bebas melakukan apapun pada sepatuku: menyemir, merendam, atau membuangnya. Mestinya kamu pun bebas melakukan apa saja yang kamu mau di hari ini. Meletuskan gunung-gunung, menanduskan ladang-ladang, atau barangkali menggetarkan dirimu hingga terjadi sesuatu yang biasa disebut gempa. Kamu bebas melakukan apapun di hari ini, karena hari ini punyamu.

Continue reading Dear Bumi

Satu

Kita tak bicara. Hanya saling menerka.

Lebih tepatnya, kita saling menjajah dalam diam. Aku merudapaksamu untuk diam dengan tatapan. Kamu membuatku bisu dengan raut wajah yang sendu. Kita sadar betul kondisi ini membuat kita menyadari bahwa hubungan kita ini tidak lagi mutualisme. Kita saling menyudutkan, entah istilah apa yang tepat dalam ilmu biologi.

Cerita apa yang bisa kita bagi dengan mulut bungkam? Bicara dengan hati? Utopis.

Pelan-pelan matamu mulai keringatan. Jiwamu yang katanya bebas itu kini hilang dalam selaput kabut. Ke mana perginya?

Jangan paksa aku buat mencari.

Bila itu yang kamu lakukan, aku yang panik ini barangkali akan Continue reading Satu