Kau dan Aku; Manusia Penuh Luka

Sebagai manusia biasa, kadang-kadang kau terluka. Kau tak tahu cara menyembuhkannya, tak tahu di mana bisa dapat resep untuk mengobatinya. Yang pertama-tama kau tahu dan yakini, ruang sendiri akan sedikit menenangkanmu. Maka kau mencari sudut terjauh yang bisa kau jangkau, lalu bersembunyi di sana. Menyepi dari keramaian.

Di sudut itu, tak ada yang bisa menemukanmu. Tak ada yang bisa mengajak dan diajak bicara. Tak ada yang terganggu oleh jerit-tangismu. Tak ada yang bisa menertawakan air matamu. Ini tempat yang tepat untuk memulihkan diri, batinmu.

Waktu seperti mengurangi kecepatan berputarnya, membiarkanmu menikmati kesunyian yang perih itu tanpa perlu terburu-buru. Batas antara siang dan malam mulai kabur. Gelap dan terang melebur. Waktu terus melambat … dan semakin lambat nyaris berhenti.

Kamu tersiksa. Tetapi, kamu pura-pura menikmatinya dengan satu keyakinan bahwa di luar sana, di dunia yang sebenarnya, hidup berjalan dengan jauh lebih menyedihkan karena kamu harus jadi ’yang sendiri dalam kerumunan’. Sebatang kaktus di tengah hamparan gurun pasir. Tak ada yang bisa mengerti dirimu. Tak ada yang tahu betapa perihnya luka di tubuhmu.

Maka kau memilih sendiri. Dan terus sendiri.

Sayangnya, kau lupa. Ketika kau merayakan satu kesedihan, boleh jadi kau sedang melewatkan berbagai momen bahagia. Sayangnya, kau lupa bahwa ketika kau menyendiri, kau juga sebenarnya sedang membuat orang-orang yang mencintaimu merasa sendiri dan terluka.

Kau juga barangkali lupa bahwa hidup harus dilanjutkan, arti harus dicari, dan cinta harus terus tumbuh.

Maka, kapan pun kau merasa siap, berjanjilah kau akan membawa tubuhmu yang penuh luka itu keluar dari ruang sendirimu, temui mereka yang kau cintai dan mencintaimu. Bicaralah dengan mereka apa adanya, menangis bersama, atau menertawakan apa saja sampai rahangmu pegal.

Kebersamaan barangkali tak kan menyembuhkan lukamu. Tetapi, setidaknya, ia melumpuhkan kesadaranmu atas waktu.

Hingga nantinya, tiba-tiba saja, kau akan tahu bahwa luka-luka di tubuhmu telah tak lagi terasa. Meski, tetap saja, bekasnya ‘kan tetap ada, sebagai pengingat bahwa kau hanyalah manusia biasa.ㅤㅤ

~

Depok, 30 Desember 2018
Laki-laki yang sedang belajar mencintai,
Azhar Nurun Ala

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s