Seperti Hujan

Sore ini hujan turun lagi. Bukan hujan deras, tetapi tidak juga bisa dibilang gerimis. Yang pasti, cukup untuk menahanku meringkuk sendiri di dalam ruang mungil ini, menatap kosong ke luar jendela yang tirainya kubiarkan terbuka.

Hujan turun perlahan, sesekali meliuk serentak ditabrak angin. Di tiap-tiap rintiknya, aku melihat wajahmu, berjatuhan menyerang bumi. Sebagian dari mereka jatuh menabrak genting, menimbulkan bunyi yang juga terdengar seperti bisikanmu. Aku masih ingat bagaimana suara itu terdengar, ketika dulu kau bilang, “Aku sepertinya tak bisa menunggu.”

Kupikir-pikir, kamu itu memang seperti hujan, yang turun ketika ingin turun. Dan pergi jika sudah waktunya pergi. Hujan bisa datang dengan atau tanpa tanda-tanda, dengan atau tanpa aba-aba.

Tidak salah lagi. Kamu betul-betul seperti hujan, yang barangkali masih punya kerendahan hati untuk memberi tahu, tetapi tak bisa menunggu. Hujan tak pernah mau menunggu.

Hari semakin gelap. Aku bangkit, menutup tirai, lalu menyalakan lampu dan kembali meringkuk di ranjang. Dari luar, terdengar sayup-sayup suara azan.

Hujan sore ini mungkin akan panjang. Seolah ingin bertahan lebih lama untuk menyaksikan matahari ditelan malam. Atau, ia hanya sedang berbaik hati, memberiku alasan untuk tetap di sini. Termenung sendiri mensyukuri kita yang tak sempat saling berjanji.

Sejak dulu, aku sadar betul bahwa pada akhirnya, memang ada yang harus pergi: apakah kesunyian, atau dirimu.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s