Kehilangan yang Membahagiakan

12 Oktober 2018 lalu adalah hari ke-100 sejak saya memulai program #100HariBerlari. Meski status saya saat ini masih overweight (TB: 174 cm, BB: 76,5 Kg), saya cukup senang akhirnya bisa menulis perjalanan seratus hari ini dengan perasaan lega. Memang, tadinya, saya berniat menjuduli tulisan ini ‘Bagaimana Saya Kehilangan 20Kg dalam 100 Hari’. Pasti lebih bombastis! Namun, Rupanya, ternyata target saya meleset. Selama seratus hari ini, saya hanya mampu menurunkan 15,5 Kg berat badan.

Bagaimanapun, sebenarnya itu sudah cukup membahagiakan. Karena itu, saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman ini. Mungkin saja, kamu, atau orang yang kamu sayangi membutuhkannya.

Secara sederhana, apa yang saya lakukan secara konsisten selama 100 hari ini hanya dua: meningkatkan aktivitas fisik dan mengurangi asupan karbohidrat. Jadi, kalau kamu malas membaca lebih jauh lagi karena tulisan ini dirasa terlalu panjang, kamu bisa berhenti di sini dan langsung lakukan dua hal tersebut.

Mengapa Saya Menjalani Program Ini

Kira-kira dua minggu setelah lebaran, saya dibikin stres oleh sepasang angka. Setelah berminggu-minggu tak memantau berat badan karena saya menghabiskan separuh terakhir Ramadan di Lampung & libur lebaran di Gresik, sesampainya di Depok saya mendapat ucapan selamat datang yang fantastis: timbangan saya menunjukkan angka 92. Angka itu adalah rekor terbaru, karena sebelumnya, saya tak pernah sampai sana.

Di penimbangan sebelumnya, kira-kira awal Ramadan, berat badan saya masih 89Kg. Dengan tinggi badan 174cm, tentu kita bisa sama-sama menghitung, baik 89Kg maupun 92Kg, keduanya menunjukkan bahwa saya sudah mengidap Obesitas Tahap I. Kalau ada yang tak percaya berat badan saya pernah mencapai angka itu, saya harus katakan bahwa saya juga demikian.

Kira-kira, itulah momen awal dari program #100HariBerlari. Sebuah angka yang secara psikologis membuat saya tertekan. Tekanan semakin bertambah ketika pada hari Minggu tak lama setelah saya mendapati angka itu, saya dan keluarga berjalan-jalan di UI. Kami parkir motor di dekat pintu kukel dan tak lama setelah kami berjalan memasuki UI, kami melihat seseorang yang badannya besar sekali berlari terengah-engah. Saya perkirakan berat badan orang tersebut ada di angka 130 atau bahkan 150. Yang pasti, membayangkan saya akan jadi sebesar itu suatu hari nanti, adalah hal yang sangat lebih mengerikan. Kabar buruknya, bila saya meneruskan pola hidup yang sama, pelan tapi pasti saya akan menjadi seperti orang itu.

 

dreams.metroeve_fat-dreams-meaning-768x678
dreames.metroeve.com/fat

Saya juga melihat ekspresi istri saya ketika memandang orang itu, tampak sekali ketakutan yang sama ada di dalam dirinya. Kemudian, tiba-tiba saja terbersit di dalam pikiran saya, sekitar lima tahun lalu, bukan laki-laki 92 Kg ini yang dia nikahi. Bukan laki-laki gendut dengan lemak di sana-sini ini yang pada tanggal 10 November 2013 datang seorang diri ke Gresik untuk menemui ayahnya.

Tak Cuma itu. Saya pun mulai membayangkan bagaimana anak saya, Salman, akan memandang saya kelak. Terus terang, pikiran itu sangat mengganggu saya selama berhari-hari. Bagaimanapun, di dalam keluarga, saya akan jadi panutan bagi Salman. Dan seorang ayah yang obesitas, agaknya tak cukup layak diteladani. Terutama, ayah tersebut adalah seorang Sarjana Gizi.

 Bagaimana Saya Menjalani Program Ini

Ya, saya adalah seorang Sarjana Gizi, lulus dari Ilmu Gizi FKM UI tahun 2015. Meski saya tak terlalu cemerlang ketika kuliah, sedikit-banyak saya tahu bahwa urusan berat badan ini dipengaruhi pertama-tama oleh pola makan. Selanjutnya adalah aktivitas fisik. Keduanya barangkali bisa disimpulkan dengan istilah Pola Hidup. Artinya, akar masalahnya adalah selama bertahun-tahun saya menjalani pola hidup yang buruk. Saya makan apa pun—dan sebanyak apa pun—sesuka hati, dan saya hampir tidak pernah berolah raga. Sebagai penulis, aktivitas sehari-hari yang saya lakukan pun terhitung aktivitas sangat ringan. Lengkap sudah. Jalan saya menuju obesitas tahap berikutnya terbuka sangat lebar.

Maka, fokus utama saya adalah mengubah pola hidup. Saya tahu persis bahwa ini tidak akan mudah. Tetapi, bagaimanapun, saya harus memulai. Di awal Juli, saya mulai merencanakan semuanya.

 Pola Makan

Terkait pola makan, saat itu saya berencana untuk mengurangi porsi makan pagi dan siang (khususnya pada bagian karbohidrat/nasi) secara bertahap serta meniadakan makan malam. Pada awalnya, hal ini sulit bukan main. Saya yang biasa makan 3 kali sehari sebanyak-banyaknya sampai kenyang, tiba-tiba harus mengurangi frekuensi menjadi 2 kali sehari, ditambah lagi, porsinya pun berkurang.

Lalu, bagaimana saya melakukannya? Jawabannya adalah protein hewani, sayur, buah dan air. Saya banyak minum. Bangun tidur saya minum, sebelum lari saya minum, setelah berlari saya minum, sebelum makan saya minum, setelah makan saya minum, dan seterusnya. Saya minum segelas besar dan makan buah sebelum makan pagi dan siang sehingga ketika makan saya cepat merasa kenyang tanpa menghabiskan banyak makanan.

Ketika sarapan, saya hanya makan beberapa sendok nasi, selebihnya protein (telur, ikan, daging, tempe, dll) dan sayur. Di jam makan siang, saya biasanya makan dua butir telur rebus, sepotong roti, plus minum susu putih. Di malam hari, jika perut terasa lapar, saya makan buah. Biasanya semangka, mangga, jeruk, atau—yang paling sering karena murah dan selalu ada—salak. Pada awalnya memang terasa aneh, tapi lama kelamaan bahkan rasa lapar sama sekali tak mampir di malam hari. Saya juga jadi terbiasa makan dengan porsi sedikit.

Percaya atau tidak, di 50 hari terakhir program, saya hanya makan satu atau dua sendok nasi saat sarapan dan selebihnya adalah protein hewani, sayur dan buah. Di siang hari, saya hanya makan dua butir telur rebus plus susu.

Oh iya, saya juga menghindari asupan gula, terutama dari minuman kemasan. Padahal, saya sangat suka minum Pucuk Harum. Hiks. Paling-paling, saya masih menggunakan gula kalau sedang minum kopi. Tetapi, itu juga dalam jumlah yang sangat sedikit.

 Aktivitas Fisik

Menurunkan asupan makanan, sungguh jauh lebih mudah daripada meningkatkan aktivitas fisik. Ini lumayan panjang, karena saya akan ceritakan sedetil mungkin.

Di antara berbagai pilihan, saya memilih berlari karena beberapa alasan. Pertama, lari itu mudah dan murah. Tak butuh alat macam-macam. Tak juga butuh lawan seperti halnya bulutangkis. Asal ada sepatu lari dan lintasan, sudah bisa dilakukan. Kedua, lari membakar kalori dengan cukup baik. Ketiga, salah satu penulis favorit saya, Haruki Murakami, adalah seorang pelari. Saya membaca memoarnya yang berjudul ‘What I Talk About When I Talk About Running’, dan itu sangat membantu saya menjalani program ini.

Karena saya tak tahu banyak soal olahraga lari, termasuk sejauh mana kemampuan saya, saya hanya menargetkan bisa mencapai angka 8,000 langkah setiap hari—sesuai anjuran WHO. Langkah itu bisa ditempuh baik dengan berlari maupun berjalan. Untuk memantaunya, saya membeli sebuah Fitness Tracker merek Mi Band 2. Fitness Tracker ini akan memberikan info realtime mengenai jumlah langkah kita, dan akan memberitahu saat target 8,000 langkah sudah tercapai. Alat ini juga bisa berfungsi sebagai penunjuk waktu, pendeteksi kualitas tidur, dan alarm yang getarannya sangat efektif untuk membangunkan.

IMG_20180707_072353

Saya juga pergi ke toko sepatu untuk mencoba langsung beberapa sepatu lari dan berakhir dengan membawa pulang Sepatu Lari merek Specs Overdrive. Modelnya biasa saja, tapi sangat nyaman dan sampai sekarang masih bisa digunakan dengan baik.

Processed with VSCO with a6 preset

Rabu, 4 Juli 2018—saat itu berat badan saya masih di angka 92Kg, dengan mengenakan fitness tracker dan sepatu lari baru saya mulai berlari mengelilingi perumahan. Saya tak begitu yakin berapa jarak yang saya tempuh di setiap putaran, tetapi jika dihitung dengan aplikasi, hasilnya sekitar 700 meter. Saya juga tak punya strategi apa pun selain mencapai target 8,000 langkah sesegera mungkin.

Kira-kira pukul 05.20, sepulang salat subuh dari musala saya berganti baju, mengenakan sepatu dan mulai berlari. Ternyata, baru satu putaran saja rasanya sangat melelahkan dan saya hanya sanggup berlari dua putaran. Hasilnya, tak sampai 2,000 langkah. 6,000 langkah kekurangannya saya capai dengan berjalan dan target tercapai sekitar pukul 06.30. Lebih dari satu jam.

Keesokan harinya, saya mengelilingi komplek dengan berselang-seling. Putaran satu saya berjalan, putaran kedua saya lari, kemudian jalan cepat, kemudian lari, selebihnya berjalan cepat. Saya pikir, selama 10 hari pertama saya hanya perlu berlari sebanyak dua putaran dan sisanya berjalan cepat. Fokus utama saya adalah bagaimana agar program bisa berjalan konsisten, yakni mencapai 8,000 langkah per hari, baik dengan berlari maupun berjalan.

Dan begitulah saya mengawali hari saya setiap pagi, selama 10 hari. Hasilnya, pada tanggal 14 Juli berat badan saya menjadi 89,9Kg, turun 2,1Kg dalam 10 hari. Sebuah angka yang sangat memotivasi saya. Dari pengalaman itulah saya mulai menyusun strategi 10 harian. Saya pikir, kalau dalam sepuluh hari saya bisa menghilangkan 2Kg, maka dalam 100 hari saya bisa menghilangkan 20Kg dan kembali kepada berat badan saya 72Kg. Inilah berat badan saya ketika menikah lima tahun lalu.

Maka, saya mulai membagi program ini menjadi 10 tahap. Saya menamai tahapan pertama dengan ’10 Hari I’, tahapan kedua dengan ’10 Hari II’ dan begitu seterusnya. Setiap naik ke tahap berikutnya, saya menambah jumlah putaran berlari. Misal, jika ’10 Hari I’ saya hanya berlari dua putaran dan sisanya berjalan, di ’10 hari II’ saya berlari tiga putaran dan sisanya berjalan. Begitulah, di setiap tahapan saya meningkatkan jumlah putaran berlari, sehingga di ’10 Hari VI’ dan seterusnya, setiap pagi saya berlari 5 putaran non-stop dan berjalan 5 putaran. Urutannya begini: Jalan cepat 2 putaran – Lari 5 Putaran – Jalan cepat 2 putaran – Jalan santai 1 putaran. Saya kira, pola itu yang paling efektif bagi saya.

Processed with VSCO with a6 preset
Processed with VSCO with a6 preset

Kunci Keberhasilan

Terus terang, saya tak menyangka bisa melakukan dua hal di atas—mengubah pola makan dan meningkatkan aktivitas fisik—dengan cukup konsisten selama 100 hari. Saya bilang ‘cukup’ karena pada kenyataannya ada beberapa hari yang saya libur berlari. Ada pula, terutama di awal, yang saya merasa lapar dan akhirnya makan mie instan malam-malam. Saya kira, hal semacam itu tak bisa dihindari. Yang terpenting adalah, setelah itu segera bertaubat dan kembali lagi ke jalan yang lurus.

Processed with VSCO with a6 preset
Processed with VSCO with a6 preset
Processed with VSCO with a6 preset
Processed with VSCO with a6 preset

12 Oktober 2018, setelah melewati 100 hari, rupanya berat badan saya menjadi 76,5Kg. Cukup signifikan, tetapi memang tak sesuai target. Entah targetnya yang kurang masuk akal, entah saya yang kurang disiplin. Saya sih lebih curiga yang kedua. Meskipun, kalau dipikir-pikir, bisa kehilangan 15,5 Kg dalam 100 hari, hebat juga! Kira-kira, inilah beberapa hasil renungan saya, yang bisa dikatakan kunci keberhasilan.

Pertama, baik soal mengurangi asupan makanan maupun soal beralri, yang terpenting adalah konsisten dan bertahap. Sedikit dulu di awal, tapi lakukan terus menerus. Lalu, pelan-pelan tingkatkan.

Kedua, ajak tubuhmu untuk berkompromi. Buat lambungmu pelan-pelan mengerti bahwa kamu sedang berusaha mengurangi porsi makan. Ketika terasa lapar, tahan. Jika masih lapar, ganjal dengan buah dan air putih. Latih—dan paksa—ototmu untuk terbiasa bekerja lebih keras dari biasanya. Pelan tapi pasti, mereka akan mengerti. Mereka pasti mengerti.

Ketiga, jangan terpacu pada metode dan keberhasilan orang lain. Masing-masing kita punya kondisi tubuh yang berbeda. Saya mungkin cocok dengan olahraga lari, kamu belum tentu. Saya mungkin termasuk orang yang mudah kehilangan berat badan, kamu belum tentu. Lagipula, itu juga berarti bahwa saya mudah menjadi gemuk lagi. Artinya, coba-coba saja mana yang paling cocok. Ciptakan formula untuk programmu sendiri.

Processed with VSCO with a6 preset
Processed with VSCO with a6 preset

Akhir kata, saya mohon maaf kalau tulisan ini panjang dan membosankan. Bila ada yang ingin didiskusikan, langsung tulis di kolom komentar saja. Semoga bermanfaat! 🙂

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

11 thoughts on “Kehilangan yang Membahagiakan”

  1. Woww, amazing sekali
    Patut di coba dan diterapkan di kehidupan nyata. Dan bukan sekedar khayalan saja
    Semangat para pejuang menurunkan BB

  2. Baaaang selamat!!
    Gue baru mulai setelah baca tulisan lu nih.
    Sekarang 107,2 target turun 20kg dalam 100 hari. Bismillah mulai dr 16 Okt.
    Nuhun tos ngainspirasi.!

    1. Sikat, Maaar. InsyaAllah bisa. Luangin waktu 45 menit aja abis salat subuh buat jalan-jalan & lari sekuatnya. Banyakin aktivitas di luar, soalnya kalau di rumah bawaan pengen buka kulkas terus.

  3. Selamat, Bang Azhar. Sangat memotivasi, tapi lari pagi-pagi sendirian untuk “perempuan single” kayaknya gimana gitu,haha
    Dulu saya setiap hari skipping di rumah, soalnya malu kalau olahraga outdoor. Pelan-pelan tapi memang terasa fresh di badan, namun kesalahan saya pola makan belum bisa konsisten. Kemudian saya merasa gagal dan berhenti. Setelah beberapa waktu, saya kembali menjalani diet dg metode lain (Metode DKAH ala Dewi Hughes) sudah konsisten 2 minggu tanpa hambatan, badan memang terasa lemas awalnya karena didiet ini kita hanya makan “realfood” tapi saya hanya bertahan 2 minggu. Emang untuk beberapa saat ada beberapa BB yg lost, tapi karena saya tidak konsisten akhirnya saya kembali dg pola hidup yg tidak sehat.
    Sekarang ini, saya sedang menyiapkan niat dan menguatkan hati serta perasaan agar bisa menjalani lagi diet secara konsisten dan Insya Allah berhasil (semoga). Aamiin
    Doakan saya, Bang.
    2 hari kemarin saya merampungkan Novel Serial Maharani, saya pikir hanya sampai 2 buku, ternyata masih belum kelar perjuangan Salman, haha jadi geregetan!
    Terima kasih inspirasinya, titip salam untuk Salman dan Mbak Vidya 🙂

  4. yaampun kak aku juga pengen menerapkan program ini ke suamiku hahaha karna aku merasa bersalah membuat bb nya naik sekian kilo setelah menikah hahahaaa. semoga bisaa, akupun juga akan melakukan (walau ngga over tapi demi biar sehat ajaa)

  5. Terima kasih, Pak. Sudah tak terhitung konten youtube, zumba, workout, sampai kiat-kiat diet artis korea sudah coba saya lakukan. Alhasil yoyo, minggu ini turun, minggu depan naik lagi. Seperti yang Bapak katakan, alasan paling rasional kegagalan adalah ketidaksiplinan diri. Haha. Cerita Bapak sudah menampar saya, selalu marah dengan metode diet yang gagal dilakukan. Padahal yang salah itu saya sendiri. Mari hidup sehat!

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s