Kepergian-kepergian di Bulan Juli

Aku tak ingat persis sejak kapan kerutan-kerutan itu bermunculan di wajah teduhnya. Sel-sel pigmen pemberi warna hitam yang pernah membuat ia tampak gagah dengan rambut klimisnya telah mati sehingga sebagian rambut itu telah kembali ke warna asli; putih. Beruban, orang-orang bilang. Bila menuruni tangga, sesekali ia harus melangkahkan kakinya pelan-pelan… sembari duduk, ia menapaki satu demi satu anak tangga dengan susah payah…

Tapi ketika kebetulan istri tercintanya tak bisa mengantar dengan sepeda motor karena ada urusan penting lain, berjalanlah ia dengan hati-hati dua kilometer ke sekolah, demi menatap senyum murid-muridnya. Bajunya basah, kaki pegal sudahlah pasti, tapi pepatah itu memang nyata: cinta menaklukkan segalanya.

Laki-laki 76 tahun itu pergi tanpa permisi, tanpa basa-basi, meninggalkan kami yang hingga kini masih diselimuti rasa tak percaya. Benarkah ia telah meninggalkan kami? Benarkah ia begitu tega membiarkan kami sendiri, dalam kebingungan dan rasa tak percaya diri?

9 Juli 2017. Tepat satu bulan yang lalu. Tak ada satu peribahasa yang memadai untuk mewakili kesedihanku hari itu. Terlalu sakit… Terlalu menyesakkan…

20543716_1075201222610885_332252227314620664_o

Bagaimana rasanya menyaksikan orang yang begitu kau cintai menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukanmu?

Bagaimana rasanya melihat kekasihmu terbujur kaku, sementara dirimu tak bisa berbuat apa-apa kecuali mengeluarkan air mata yang sama sekali tak mungkin menghidupkannya?

Juli 2009. Dengan bekal seadanya, aku diantar ibu merantau ke Depok. Meninggalkan Bandar Harapan, kampung halamanku di Lampung Tengah yang telah lebih dari 16 tahun aku tinggali. Juga, meninggalkan orang tua, saudara, sahabat, dan semua kenangan yang tak mungkin bisa dirangkum dengan sederhana.

Itulah kali pertama aku jauh dari bapak… Dan jauh dari bapak artinya jauh dari nasihat-nasihatnya yang penuh kasih sayang. Tapi tak ada pencapaian tanpa pengorbanan. Maka kakiku terus melangkah, demi cita-cita yang—entahlah—saat itu masih begitu samar. Aku hanya tahu bahwa begitu banyak orang hebat lahir dari UI. Dan aku pura-pura yakin saja, bahwa aku barangkali bisa menjadi bagian dari mereka.

Di Depok, aku mendapat banyak teman baru. Mereka yang berasal dari Aceh sampai Papua. Dari anak petani hingga mereka yang kutebak di rumahnya terparkir mobil Alphard atau Camry. Dari kutu buku sampai yang gila organisasi. Aku juga bisa mencicipi hiruk pikuk kota dengan segala pesona yang tak pernah tersentuh olehku sebelumnya: internet gratis dengan ribuan film bajakan di dalamnya yang bisa kuunduh kapan saja, kerlap-kerlip lampu jalan, warung-warung makan dengan menu serba ada, mall-mall yang megah berdiri dan bisa kutelanjangi setiap hari. Hidup begitu menyenangkan dan penuh warna… betapa bahagia hidup di kota yang segala ada.

Bapak, entah dari sebagian uang pensiun, atau sumbangan dari kakak-kakakku yang sudah bekerja & berkeluarga, mengirimiku uang setiap bulan. 800,000 jumlahnya. 160,000 untuk biaya asrama, sisanya untuk makan dan keperluan foto kopi materi perkuliahan. Beberapa kali aku dapat beasiswa yang tak seberapa—dalam urusan ini, aku merasa kurang berbakat. Atau barangkali kurang giat. Entahlah.

Sesekali aku pulang. Tepatnya, setahun empat kali. Liburan Idul Fitri, Idul Adha, Liburan semester ganjil, dan liburan semester genap. Di tahun kedua, frekuensi itu berkurang karena aku mulai terlibat dan ikut sibuk dalam kepanitiaan menyambut mahasiswa baru.

Pada sebuah kepulangan yang aku tak ingat persis waktunya, aku melihat sesuatu yang berbeda dari bapak. Caranya menatapku, berubah. Caranya memperlakukanku, tak lagi seperti yang dulu-dulu. Ia, seperti memosisikanku, bukan cuma sebagai anaknya, melainkan teman diskusi. Selepas isya, usai makan malam bersama, kami membicarakan apa saja. Aku menceritakan hal-hal seru yang kualami di kampus, ia mendongengkan perjuangannya di masa-masa sulit. Beberapa permasalahan keluarga juga tak luput dari pembicaraan kami. Saking asyiknya mengobrol, tiba-tiba saja kami sadar sudah pukul tiga.

Sejak hari itu, dipupuk dengan kepulangan-kepulangan berikutnya, aku merasa semakin dekat dengan bapak. Kedekatan yang bukan cuma tentang tukar menukar kewajiban antara ayah dan anak. Kedekatan sepasang sahabat yang saling mengisi. Obrolan-obrolan malam dengan bapak menjadi hal yang paling kurindukan setiap liburan.

Saat itu, bapak adalah seorang pensiunan guru yang sehari-hari bertani dan mengajar ngaji… Sementara aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang memilih untuk menulis novel daripada mengerjakan skripsi.

Pada bulan Maret 2014, atas izin Allah dan restu ibu-bapak, aku menikah dan memutuskan untuk menetap di Depok. Alamat di KTP diubah. Dan semakin tegaslah jarak pembatas ragaku dan bapak: sebuah selat dan jalan-jalan tak sederhana yang bisa ditempuh dengan waktu tak kurang dari sepuluh jam.

Tahun-tahun berikutnya adalah tahun yang padat. Selain berjuang menyelesaikan kuliah, terus menulis buku dan memenuhi undangan bedah buku di berbagai kota, aku juga mulai merintis perusahaanku sendiri di bidang penerbitan. Sementara bapak, di akhir 2015 juga sibuk untuk membangun sekolah di Bandar Harapan bersama teman-teman seperjuangannya di bawah Yayasan Doa Bangsa. Sebuah PAUD dan Sekolah Menengah Pertama.

Usianya sudah 74 saat itu, didampingi ibu, ia terus mondar-mandir mengurus ini itu demi menjamin pendidikan warga Bandar Harapan dan sekitarnya. Menyelamatkan generasi bangsa dari pengaruh rokok, narkoba, seks bebas, tawuran dan kekacauan-kekacauan lain yang terus melanda berbagai lapisan masyarakat, khususnya pelajar. Dengan Al-Qur’an—yang prakteknya dicontohkan Rasulullah—sebagai imam sekaligus ruhnya.

Tak cukup sampai di sana, di usianya yang sudah senja itu bapak masih membaktikan dirinya untuk mengajar Bahasa Indonesia. Tak banyak orang yang mau mengajar di dusun terpencil dengan gaji yang sekadarnya.

Setiap pertemuan kami di pengajian keluarga yang saat itu diadakan hampir setiap bulan, bapak seolah memberi kode padaku. Ia bilang beda sekali pelajaran Bahasa Indonesia masa sekarang dengan masa ketika ia masih aktif menjadi guru. Ia juga tak sekali-dua kali mengajakku ke kebun di depan rumah kami di Bandar Harapan, menunjukkan sebidang lahan kosong yang katanya cocok bila dibangun rumah di atasnya. Ia selalu berharap kami sekeluarga bisa hidup berdampingan.

Bila sudah begitu, aku yang durhaka ini akan pura-pura lugu… bertindak seolah tak mengerti arah perkataannya… dan mencoba mengalihkan pembicaraan. Aku yang tengah merintis perusahaan dan meniti karir di dunia kepenulisan, belum bisa membayangkan harus meninggalkan Depok, kota yang sudah lebih dari 7 tahun mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan.

Maka hingga tepat sebulan yang lalu, jalan itu yang kami tempuh: bapak dan ibu di Bandar Harapan mengabdikan diri sebagai pendidik di SMP Doa Bangsa, sementara aku terus mengembangkan perusahaan yang sebagian keuntungannya juga disumbangkan ke sekolah tersebut. ‘Panggilan’ bapak untuk pulang dan membangun kampung halaman tercatat dalam rencana hidupku sebagai cita-cita yang masih bisa kutunda… dan terus kutunda… hingga masa baktinya di dunia ini berakhir.

9 Juli 2017, perjuangan panjangnya ditutup dengan kepergian yang mudah. Pagi itu, di rumahku di Depok, dalam pelukan aku dan ibu, bapak mengucap tiga kalimat terakhirnya: Ya Allah… Ya Allah… Ya Allah… Lebih dari tiga tahun bapak menunggu kehadiran cucu dariku, rupanya hanya tiga malam bapak dan—anak kami—Salman dipertemukan.

Usai dilakukan pemeriksaan di rumah sakit, dimandikan dan dishalatkan, jenazah bapak langsung dibawa ke Lampung Tengah untuk dimakamkan di Bandar Harapan, sesuai wasiat almarhum.

Kepergian bapak telah menggerakkan kepergian-kepergian lain.

20449195_1075201225944218_1114686414555107435_o

Seminggu setelah peristiwa itu, aku—beserta keluarga kecilku—pindah ke Lampung Tengah untuk menemani ibu sekaligus menggantikan posisi bapak sebagai guru Bahasa Indonesia di SMP Doa Bangsa Bandar Harapan. Meninggalkan teman-teman, perusahaan, serta kehidupan di Depok.

Kehilangan bapak adalah pukulan yang sangat keras, bukan hanya bagi kami sekeluarga, melainkan juga warga Bandar Harapan. Ia bukan hanya seorang suami atau ayah, melainkan guru kami semua, yang di usianya yang ke-76 masih mendedikasikan pikiran, tenaga, dan materinya yang tak seberapa untuk turut meningkatkan pendidikan anak-anak bangsa.

Kami telah mengalami satu peristiwa yang begitu menyesakkan dada… melalui hari-hari yang penuh air mata…

Tapi hidup harus dilanjutkan. Mimpi-mimpi harus diwujudkan. Dan senyum demi senyum harus terus dihadirkan.

Sekarang, aku tinggal di Bandar Harapan, Lampung Tengah. Meneruskan perjuangan bapak di dunia pendidikan, dan insyaAllah akan terus menulis.

20507014_1075201229277551_6310729200108588936_o

Sejauh ini, aku sangat menikmati aktivitas baruku. Selain bahagia bisa menemani ibu, aku juga beruntung bisa bertemu murid-murid yang menyenangkan. Mereka yang tak selalu serius, tapi begitu penuh semangat. Aku merasa, sebagai guru, justru aku yang banyak belajar dari mereka.

Bahkan, beberapa hari yang lalu, ketika mengajar aku diingatkan kembali oleh Allah melalui seorang murid yang memilih novel ‘Konspirasi Semesta’ untuk tugas membuat sinopsis. Sinopsis itu ia ceritakan di depanku dan teman-temannya di dalam kelas. Sebagai penutup ceritanya, ia membaca salah satu kutipan di bagian akhir novel:

“…maka sebenarnya ada hal penting yang perlu kita lakukan dalam pemaknaan sebuah peristiwa. Bukan hanya tentang kenapa dan bagaimana peristiwa itu terjadi, melainkan isyarat apa yang ingin Allah tunjukkan melalui peristiwa tersebut.”

Allahummagfirlahuu, warhamhuu, wa’aafihii, wa’fu’anhuu

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

17 thoughts on “Kepergian-kepergian di Bulan Juli”

  1. Saya terharu baca tulisan ini, Mas. Semoga selalu dikuatkan oleh Allah dalam mengemban amanah baru.
    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu

  2. Tulisan ini mengingatkan saya kembali atas kehilangan orang-orang yang berarti di kehidupan saya. Namun, hidup harus berlanjut meski saya masih ragu apakah saya akan sanggup dengan kehilangan-kehilangan yang selanjutnya. Terus menginspirasi ya, kak! Tulisanmu begitu meneduhkan.

  3. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.. Insyaa Allah mimpi dan cita-cita lain segera terwujud dgn senyum beliau yang indah melihat byk sekali ladang pahala yg beliau tinggalkan ya, Mas. Sy menunggu tiap-tiap tulisan yang nyatanya, dr awal konspirasi hingga pertanyaan ttg kedatangan membuat sy takjub & tidak berhenti menunggu karya mas Azhar & mbak Vidi (juga) yg selanjutnya. Barakallahulakum wa lana..

    1. Diedit, sy mulai membaca buku Mas Azhar dr konspirasi, br mundur ke yg sebelumnya, Tuhan Maha Romantis, hingga saat ini jd penikmat hingga pertanyaan ttg kedatangan. Hehehe

  4. Semoga amal ibadah bapak dari ka Azhar diterima Allah, ditempatkan di tempat yg terbaik, dan dilapangkan kuburnya. Aamiin. Ma Sya Allah tulisannya begitu menginspirasii kaak dan mengharukan 🙂 Tetap semangat ka Azhar dan ka Vidia! Semoga segala yg diimpikan terwujud. Terus menginspirasi lewat tulisan yaa kaa. Ditunggu karya2 selanjutnya😃

  5. Kamu hebat. Bisa menulis tentang pemergian insan terhebat dlm hidup kamu. Aku, walau sudah setahun berlalu tetap saja menitiskan air mata ketika ingin menulis tentangnya. Sungguh aku rindu. Al fatihah buat nenda…..

  6. Kepergian memang mengajarkan banyak hal, terlebih kepulangan seseorang untuk selamanya menghadap Illahi. Kita atau barangkali aku mungkin tak akan pernah siap untuk di tinggal tapi kematian tak pernah bisa di tawar. Sudah lebih dari satu tahun Ibuk (rahimahullah) berpulang tapi aku masih saja diam-diam menangis karena kerinduan yang tak tahu kapan akan terbayar. Benar, ini berat tapi aku yakin mereka yang telah lebih dulu berpulang tak ingin menyaksikan kita terpuruk karena merindukannya. Bagaimanapun kita harus tetap hidup untuk menghidupkan mimpinya. Tetap meraih mimpi walaupun orang yang diharap menemani tak lagi disisi. Selamat berjuang menghidupkan mimpi ayah Kak Azhar, semoga Allah selalu melindungi keluarga kalian (Kak Azhar, Kak Vidia juga Dek Salman).


    Allahummagfirlahuu, warhamhuu, wa’aafihii, wa’fu’anhuu

    Salam dari penikmat sekuel TMR 🙂

  7. “hidup harus dilanjutkan. Mimpi-mimpi harus diwujudkan.”
    kata-kata yang tiba-tiba membuat saya sadar setelah sekian lama saya juga merasakan kepergian. terimakasih mas Azhar sudah selalu menginspirasi lewat tulisan-tulisannya. semoga Ayahanda mas Azhar diterima disisiNya. Amin

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s