Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)

Ada satu hal lagi yang kurasa perlu kau tahu.

Seandainya dulu aku pernah menulis, atau berkata bahwa jatuh cinta itu biasa saja, sebenarnya aku sedang berbohong. Walaupun aku suka betul lagu ‘Jatuh Cinta itu Biasa Saja’ yang dinyanyikan oleh Efek Rumah Kaca, bagian hatiku yang paling jujur tak pernah benar-benar menyepakati sebagian liriknya.

Ketika rindu
Menggebu-gebu
Kita menunggu
Jatuh cinta itu biasa saja

—katanya.

Seandainya jatuh cinta semudah itu. Andai menjalani perasa-an jatuh cinta sesederhana itu.

Adalah gebu-gebu rindu itu justru yang tanpa ampun menyeretku ke batas kesadaran. Membuat kabur sekat mimpi dan realita. Menyamarkan beda siang dan malam. Hingga, pada kadarnya yang paling tinggi membuatku lebih rajin mengeja namamu daripada apa pun yang ada di semesta. Sampai kadang-kadang perasaan itu membuatku merasa bersalah.

Tapi tahukah kau, betapa kecilnya rasa bersalah itu ketika bersanding dengan perasaan mahadahsyat bernama jatuh cinta!

Perasaan yang entah bagaimana caranya selalu bisa membuat manusia tiba-tiba merasa begitu beruntung pernah dilahirkan ke dunia. Dan, untuk sejenak, berhenti mengutuki hidup yang sejak lahir hampir tak pernah disyukuri. Perasaan yang melipatgandakan energi, sehingga hari seolah selalu fajar dan matahari selalu bersinar dengan cahayanya yang menenangkan. Bilapun diizinkan datang, malam akan hadir bermandikan cahaya rembulan.

Barangkali seperti itulah cara orang-orang yang jatuh cinta memandang dunia: hari-hari yang mereka lewati selalu terasa indah.

Ketika pagi datang dan bunga-bunga sibuk menegakkan mahkotanya, orang-orang yang jatuh cinta akan keluar dari rumah dengan hati yang tak diisi kecuali oleh perasaan gembira. Sepanjang jalan mereka akan menari bersama kupu-kupu, duduk sebentar di sebuah bangku taman, mengagumi indahnya pagi ciptaan Tuhan, lalu berjalan lagi menuju keramaian.

Di tengah keramaian itu, dengan terburu-buru, orang-orang berlalu-lalang sambil berkejar-kejaran dengan waktu. Tapi bagi mereka yang jatuh cinta, waktu berjalan dengan begitu pelan dan mesra. Seolah bumi takluk, menurunkan kecepatan berputarnya, demi ikut merayakan perasaan-perasaan jatuh cinta itu.

Mereka yang sedang jatuh cinta selalu bisa memaknai indahnya takdir lebih dari siapa pun. Bagi mereka, setiap perjumpaan tak sengaja adalah cara Tuhan untuk memper-temukan. Bagi mereka juga, jika ada kesamaan, sekecil apa pun itu, adalah tanda bahwa cinta berpihak pada kemiripan. Tapi perbedaan, sebanyak apa pun, adalah tanda bahwa cinta tak utuh tanpa pekerjaan saling melengkapi. Perasaan jatuh cinta hampir selalu disertai pembenaran-pembenaran yang tak masuk akal macam itu.

Sebagaimana aku yang saat itu selalu membayangkan betapa serasinya kita ketika jalan berdua. Bergandengan tangan.

Betapa dunia telah selayaknya menyaksikan tiap langkah kita yang seirama—menghayati derap langkah kita dengan hati-hati. Keserasian yang begitu kudamba saat itu, kuabadikan dalam sebuah tulisan. Semoga kau bisa tersenyum saat membacanya, sebagaimana aku yang tersenyum saat menuliskannya.

Apa definisi yang kamu punya untuk kata serasi?

Bagiku, serasi adalah aku dan kamu. Dua langkah kecil yang menapak pelan-pelan. Kadang temu. Kadang rindu. Kebersamaan tak melulu butuh restu dari ruang dan waktu.

Dalam perspektif yang kita punya, keserasian adalah tentang kesepakatan-kesepakatan yang indah. Tentang perbedaan yang tak pernah bikin gundah. Jadi, tiada yang perlu mengalah. Karena kita telah bersepakat untuk berserah pada keyakinan yang searah. Pada kebersamaan yang bercita-cita, dan keluhuran yang bukan cuma berujung pada manisnya kata.

Kita adalah dua arus yang mengalir berdampingan. Sendiri dan kadang berpilinan. Yang dicipta bukan untuk saling meniadakan. Karena ternyata, kita juga telah bersepakat untuk seiring. Bukan saling menggiring.

Meski aku sadar diri ini begitu gagap mengakuinya, aku harus jujur: aku tak punya definisi untuk kata serasi selain ‘aku dan kamu’. 

Udara tak pernah pahami rasa. Sementara purnama nyatanya tak selalu ada. Maka aku menyimpan perasaan itu sendiri. Andai kau tahu bagaimana rasanya.

Cinta yang tak terkatakan, tersimpan rapat dalam hati seperti bara api yang dilempar ke dalam setumpuk sekam. Pada mulanya semua terasa baik-baik saja, tapi pelan-pelan ia membakar habis apa saja yang ada di dekatnya. Merambat menghabisi sampai tepi. Hingga kemudian, kita akan menyadari bahwa kita tak punya apa-apa lagi selain ketiadaan.

Akan habis semua asa. Sementara rasa akan dipaksa menyerah pada masa.

Dan aku tetap bisu menahan kata.

Pada akhirnya, aku memang manusia tak berdaya yang terlalu akrab berkawan dengan rasa sepi. Laki-laki yang gemar berlari dari kerumunan untuk mencari tempat menyendiri. Di sana aku menulis puisi, atau surat untukmu.

Surat-surat yang tak pernah sampai (?).

Aku sedari dulu selalu merasa cukup memandangmu dari sudut sini. Dari balik dinding hatiku yang kadang runtuh diterpa sapa, atau sekadar senyum. Menghayati sesosok bidadari dengan cara yang paling sulit dimengerti. Kala kau menatap, itulah kala kuharus terpejamaku tak sanggup. Kala kau bersuara adalah kala kuharus menutup telinga, atau menjauh, atau bersembunyi di balik dinding paling kedap suara yang bisa kutemui. Engkau adalah sejumput keindahan dari milyaran anugrah tuhan, representasi keteduhan abadi tak terperi.

Aku ingin bertengger di batas kesunyian. Menikmati kepecundangan ini sendirian. Biar tak ada yang tahu. Jiwaku berhamburan tak teratur. Aku makin ngelantur. Hanya ingin tidur, dan bermimpi, kalau saja aku tiba-tiba mati dan masuk surga. Melewati semuanya tanpa harus merasa pedih. Adakah kamu di sana merasakannya? Getaran-getaran yang berbicara: “Aku ingin ada kamu di sini. Bercerita, bercanda, atau sekadar bertatapan.

Aku selalu memandangmu teduh, tanpa tahu kau pandang apa aku. Tanpa tahu hitam atau putihkah aku di matamu. Dan kini semua berujung pada perjanjian suci antara aku dan huruf-huruf—agar tetap tiada yang tahu.

bersambung ke Catatan Pernikahan: Kebohongan yang Indah (bag. 1)

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

4 thoughts on “Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 4)”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s