Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)

Bunga-bunga mulai bermekaran, serupa sakura di musim semi. Puisi-puisi rindu ditulis dengan namamu tersirat di sana. Dan seperti adegan jatuh cinta dalam film-film bollywood, tiap detik kehidupan yang kujalani seolah punya musik latar dengan tema lagu-lagu cinta yang siang malam terus berputar. Kadang aku ikut bernyanyi, tentu dengan kesadaran penuh perihal kualitas suaraku yang menyedihkan. Tapi aku tak peduli, setiap orang yang sedang jatuh cinta selalu berhak untuk menjadi penyanyi, setidaknya untuk dirinya sendiri. Setiap orang yang sedang jatuh cinta berhak untuk bergembira.

Satu kejujuranku, kuingin jadi cicak.. di dindingmu. Cicak.. di dindingmu, kata Dee dalam salah satu lirik lagunya. Tiba-tiba saja aku jatuh cinta pada lagu itu, yang terus terngiang bersama perasaan ingin terus ada di dekatmu. Tapi aku tak senaif Dee. Aku tak ingin jadi cicak, yang keberadaannya barangkali tak kau hiraukan sama sekali. Aku tak ingin jadi cicak yang ketika berusaha mendekatimu justru membuatmu berlari. Menjauh. Atau berteriak memanggil siapa saja untuk menangkap dan membuangnya ke tempat paling asing. Bahkan terlalu asing untuk mengingat jalan pulang ke tempatmu lagi.

Aku ingin jatuh cinta dengan kesadaran penuh sebagai laki-laki sejati. Laki-laki yang bahunya bisa jadi tempat bersandar dan bukan cicak yang lemah.

Pengakuan ini jujur adanya, bahwa hadirnya perasaan itu merupakan satu pengalaman hati yang indah. Lalu kemungkinan-kemungkinan tentang jalur yang bertemu di persimpangan itu mulai hadir, setidaknya dalam khayalku: aku ingin melewati setiap episode kehidupan bersamamu, sudikah kiranya dirimu?

Akankah kita berjalan berdampingan, di jalur yang sama, dan bersepakat untuk menuju satu destinasi abadi yang tunggal tak terbagi? Itu pertanyaanku kemudian. Pertanyaan yang saat itu kusimpan sendiri. Di hati dan jangan sampai merambat untuk terucap. Sebab perempuan seindah dirimu tak pernah layak menjalani kebersamaan yang prematur. Dan sampai saat itu tiba, atas nama rasa tak berdaya, aku hanya bisa bicara dengan keheningan—bahasa hati paling sejati.  Atau pada halaman-halaman kertas kosong yang selalu setia mendengar setiap curhatku tentangmu. Tentang perasaanku padamu, yang terlalu dini untuk disebut ‘cinta’.

Puisi yang kutulis pada waktu itu, barangkali lebih mampu menggambarkannya.

Dalam Aksara

Kita berjumpa
Saling memandang dan menyapa
Meski jarang dan bukan sekarang
Setidaknya kita bisa bertegur sapa

Tapi aku,
Aku hanya merindumu dalam aksara
Aku hanya merindu bagian dirimu
yang hadir dalam rentetan kata-kata yang
kau tulis untuk kubaca

Menatap membuatku terkesiap tak siap
Menyapa memicu gejolak tak berupa
Jadi cukupkan jiwa kita
bercengkerama dalam aksara

Di hadapmu aku beku
Di dekatmu aku ragu

Hanya dalam aksara
aku bebas jatuh cinta
Dan di sana pula,
Aku bisa gila

Puisi, bagiku serupa foto.

Ia ada untuk mengabadikan kenangan. Dengannya aku membekukan yang cair, untuk kemudian mencairkannya kembali kapan saja sesuka hati. Sebab aku memang tak punya kuasa untuk memaku waktu, aku hanya bisa mengenang keindahan yang kujumpa dalam kata-kata. Pada setiap puisi yang kutulis, entah bagaimana caranya namamu hampir selalu tersirat di sana. Setia menjadi tema-tema yang tak habis untuk kubahas, atau, sesekali kupuja.

Barangkali aku berlebihan, tapi begitulah perasaan jatuh cinta. Ia seperti ditakdirkan untuk jadi perasaan paling berlebihan di dunia. Dan aku telah jatuh di sana. Meronta-ronta untuk menggapai tanganmu. Berharap hujan turun dari awan cintamu, membasahi hati yang telanjur dilanda kemarau panjang. Seolah tanpa ujung.

Detik itu, harus kuakui. Kau telah membuat hatiku tertawan. Sementara aku terlalu tak berdaya untuk merebutnya kembali. Maka aku membiarkannya tetap di sana, berharap kau mau merawat dan menjaganya dengan senang hati dan hati-hati.

*berlanjut ke Jumpa Pertama (bag. 4)
tulisan telah dibukukan dalam Cinta Adalah Perlawanan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

4 thoughts on “Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 3)”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s