Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 2)

…..

Begitu pula pada bulan-bulan berikutnya. Pesonamu belum juga berhasil menawanku.

Jumpa pertama denganmu kala itu adalah gerbang menuju aktivitasku yang baru sebagai anggota lembaga legislatif di kampus. Aku menjalani keseharianku sebagai mahasiswa yang datang ke kampus bukan untuk sekadar kuliah. Waktu-waktu di luar kuliah kugunakan untuk rapat, mengerjakan beberapa program kerja, bertemu berbagai jenis orang, dan aktivitas lainnya.

Di waktu yang agak senggang aku membaca buku, menonton film, atau mendengarkan lagu-lagu Radiohead. Meski aku bukan pecinta musik, aku selalu menyukai band asal Inggris itu. Lewat lirik dan musiknya, Radiohead seperti punya daya magis yang selalu mampu menghisapku ke dalam pusaran emosi yang mereka ciptakan, ikut berputar-putar di dalamnya, sampai akhirnya berhenti di satu titik perenungan yang sunyi untuk menanyakan kembali makna cinta, hidup, dan kemanusiaan.

I’m a creep. I’m a weirdo.
What the hell am I doin’ here?
I don’t belong here.

Jiwaku masih saja bergetar setiap mendengar Thom Yorke menyanyikan lagu ‘Creep’ itu dengan begitu lirih. Ada semacam kejujuran yang menyeruak ke luar, seolah ingin bercerita pada dunia bahwa jauh di dalam jiwanya ada luka yang menganga. Perih, menyakitkan, tapi seperti tak mau diobati. Aku tak pernah tahu di dunia ini sungguh ada kesedihan macam itu, sampai aku jatuh cinta padamu.

Setahun setelah jumpa pertama itu, Tuhan mulai menampak-kan keromantisan-Nya. Atau, barangkali aku yang tak tahu diuntung ini yang baru menyadarinya. Entahlah, aku lebih yakin pada kemungkinan kedua.

Kita dipertemukan dalam satu lembaga eksekutif yang memaksa kita untuk—mau tidak mau—bertemu dan saling bicara hampir setiap hari. Aku diamanahkan sebagai wakil ketua dan kau sekretaris. Terlalu indah untuk disebut kebetulan. Kita berkenalan satu sama lain dan aku mulai tahu banyak tentangmu. Kau bercerita tentang berbagai hal yang berkaitan tentang dirimu. Tidak banyak memang, tapi bahkan yang sedikit itu sudah cukup membuat sepasang kelopak mataku rela menahan nalurinya untuk berkedip.

Kini aku sadar aku selalu merindukan momen itu—detik-detik ketika kau bercerita apa saja tentangmu.

Aku selalu suka mendengar nada bicara dan suaramu ketika mengenalkan diri: siapa namamu, dari mana kau berasal, apa yang kau suka dan yang tidak. Aku selalu ingin merasakan kembali indahnya dunia saat waktu seketika berhenti, dan semesta seolah menghentikan semua aktivitas yang ditakdirkan pada mereka, hanya untuk mendengarkanmu bicara—aku, tak terkecuali.

Aku menyerah. Diam-diam aku mulai mengagumimu. Aku mulai menyukai bagaimana caramu bicara, tersenyum, atau sekadar melamun—ketika kau memandang dunia dengan tatapan paling kosong. Sadarkah kau, tatapanmu seperti sebatang pohon yang rimbun di tengah padang rumput, langka dan meneduhkan. Dan betapa aku rela jadi penggembala, orang tersesat, atau apa saja demi bisa bersandar di sana.

Aku jatuh pada pandangan yang kesekian, setelah menyadari keteduhan itu. Umar bin Khattab pernah berujar, salah satu hak calon anak kita kelak adalah dicarikan ibu yang baik, dan aku telah menemukannya. Maka aku bersyukur: aku tak perlu repot-repot jadi Arjuna yang mencari cinta sebab ia sudah ada di depan mata. Juga, aku merasa tak butuh aji-ajian atau panah pasopati yang dikoleksinya. Satu-satunya yang ingin kuwarisi dari Arjuna adalah kemampuannya memanah, agar panah cintaku melesat dengan cepat dan tepat.

Kira-kira begitulah. Episode pertama kisah cintaku dimulai dari perasaan jatuh cinta itu. Jangan tanya bagaimana itu bisa terjadi. Bahkan benda sekeras batu di sungai sekalipun takluk pada tetesan air yang jatuh berkali-kali dengan setia.

Kau adalah tetesan itu, yang turut jatuh bersama rintik hujan yang romantis, dijatuhkan oleh langit yang tak pernah berhenti merindukan bumi. Aku, bocah kecil tanpa payung yang berlari-lari di bawah hujan, mencoba untuk menangkapmu demi mengungkap rahasia dari cinta sejati sang langit untuk bumi.

*berlanjut ke Jumpa Pertama (bag. 3)
tulisan telah dibukukan dalam Cinta Adalah Perlawanan 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s