Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)

Inilah hidup: betapa banyak peristiwa romantis yang tak pernah benar-benar kita rencanakan. Seperti, barangkali perjumpaan kita. Dan sampainya kita di titik ini.

Suatu hari di bulan Oktober 2009.

Di ruang kelas mungil itu, pertama kali aku mendengar namamu, sekaligus mengambil satu kesimpulan kecil: wajah yang indah selalu bersanding dengan nama yang indah. Itu adalah saat-saat yang mendebarkan bagiku. Dan kamu, dengan wajah yang tampak susah payah menutupi kegugupanmu duduk di depan. Seingatku, di kursi sebelah kiri dari arahku. Detik itu, aku tengah menanti giliran untuk kau panggil.

Kira-kira itulah ingatan tentang jumpa pertama kita yang mampu kugali dalam memoriku.

Perjumpaan pertama kita memang bukan tabrakan tak sengaja a-la sinetron di koridor kampus yang membuat buku-buku yang kau bawa di tanganmu jatuh berserakan, kemudian aku yang merasa bersalah setengah mati meminta maaf sambil bantu membereskan, diikuti dengan dua pasang mata yang dengan lekat saling menatap. Perjumpaan pertama kita bukan juga tarik menarik sebuah buku yang sama di ruang perpustakaan secara tak sengaja, seolah kita ditakdirkan untuk punya kegemaran serupa.

Perjumpaan pertama kita dalam ingatanku, berlalu begitu saja. Serupa angin yang berhembus pelan, atau baliho kampanye calon anggota dewan di musim pemilu yang datang dan hilang begitu saja, tanpa kita hiraukan.

Setelah perjumpaan itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Meski sejak dulu aku selalu mengagumi konsep itu, nyatanya aku tak mengalaminya—aku tak jatuh cinta pada pandangan pertama. Tak ada bunga yang tiba-tiba mekar, tidak juga puisi cinta. Tak kutulis nama indahmu di buku harianku, apalagi kusebut dalam mimpi-mimpiku.

Kau berlalu, aku berlalu. Kita berjalan di atas jalur masing-masing.

Sesekali kita saling menyapa, dengan kata dan tanpa rasa. Juga tanpa motif apa-apa. Demi kedalaman hati yang selalu jujur bersuara, hanya sebuah kenyataan bahwa kita saling mengenal yang membuatku tergerak melakukannya. Barangkali kau pun begitu, aku tak pernah benar-benar tahu. Bahwa kau punya paras yang menarik, kukira adalah sebuah fakta. Fakta lain yang baru kusadari, ternyata tak semudah itu aku jatuh cinta.

Kita terus berjalan di jalur masing-masing, tanpa sedikit pun melihat adanya kemungkinan untuk bertemu pada satu persimpangan, apalagi memutuskan untuk berjalan berdamping-an. Pikiranku tak pernah sejauh itu. Apakah itu pernah ada di pikiranmu, aku juga tak pernah benar-benar tahu. Tidak juga ingin menanyakannya. Biar hal itu jadi rahasia. Kadang-kadang rasa penasaran lebih indah dari jawaban atas rasa penasaran itu sendiri.

Selain itu, setiap manusia memang berhak punya rahasia.

*berlanjut ke Jumpa Pertama (bag. 2)
tulisan telah dibukukan dalam Cinta Adalah Perlawanan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

3 thoughts on “Catatan Pernikahan: Jumpa Pertama (bag. 1)”

  1. Ini berkesan banget, percis seperti apa yang saat ini sedang saya rasakan, “Kadang-kadang rasa penasaran lebih indah dari jawaban atas rasa penasaran itu sendiri.”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s