Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal

Dulu, sebagaimana pandangan orang pada umumnya, saya percaya bahwa salah satu modal penting sebuah pernikahan adalah saling mengenal. Sebab, dari saling mengenal itulah bisa diukur kira-kira cocok atau tidak ketika si A menikah dengan si B. Dari saling mengenal itulah bisa lahir satu keyakinan bahwa si A dan si B bisa membangun rumah tangga yang harmonis. Putus-nyambung-putus-nyambung dalam sebuah hubungan yang disebut pacaran pun dianggap wajar sebagai ikhtiar untuk saling mengenal. Seolah sulit sekali mencari pasangan hidup yang—dirasa—tepat.

Setelah berbulan-bulan menjalani pernikahan, jatuh bangun membangun rumah tangga, saya rasa ide tentang ‘kewajiban saling mengenal sebelum menikah’ itu bukan satu hal yang mutlak. Apalagi sampai bertahun-tahun. Rasanya berlebihan sekali.

Dalam arti, saya kira hal itu sebenarnya bisa jadi urutan kesekian.

Saya pertama kali mengenal Vidia Nuarista di akhir tahun 2009. Saat itu, sekadar tahu nama, wajah, jurusan dan segelintir aktivitasnya di kampus. Lalu menjadi semakin kenal di tahun 2011, ketika kami sama-sama menjadi badan pengurus harian di sebuah organisasi. Saya wakil dan ia sekretaris. Tahun 2014, kami menikah.

Jadi, kalau dihitung-hitung, jarak yang terbentang dari jumpa pertama ke pernikahan lebih kurang lima tahun. Sementara jarak antara perkenalan yang lebih dalam ke pelaminan adalah tiga tahun.

Selama tiga tahun itu, ada banyak hal yang saya catat dari seorang Vidia Nuarista: bagaimana caranya bicara, bekerja, tertawa, menghadapi masalah, dan sebagainya. Termasuk jilbab warna apa yang membuatnya terlihat lebih anggun. Diam-diam dan sedikit demi sedikit saya mengumpulkan informasi itu. Hingga, akhir tahun 2013 bulatlah tekad saya untuk mendatangi ayahnya. Dalam proses itu juga kami berusaha untuk semakin mengenal lagi secara lebih terbuka. Sebagian informasi pribadi ditukar melalui tulisan, sebagian disampaikan secara lisan dalam pertemuan-pertemuan.

Semakin banyak informasi yang saya punya tentang Vidia Nuarista. Semakin saya percaya diri menghadapi pernikahan, karena merasa sudah sangat mengenalnya. Sampai ketika pernikahan telah berjalan beberapa minggu, kami sadar bahwa ada hal lain yang lebih penting dari saling mengenal: saling menerima.

Apa yang saya kenal dari seorang Vidia selama tiga tahun, rupanya tidak terlalu berarti. Berbagai catatan yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun ternyata tak terlalu membantu saat kami berumah tangga. Sebab pernikahan selalu begitu. Ia akan memaksa sifat buruk kita keluar satu persatu, membongkar aib-aib yang telah lama kita simpan, hingga pelan-pelan kita sadar kita tak punya apa-apa lagi untuk disembunyikan.

Kami benar-benar merasa seperti dua orang asing yang baru bertemu.

Maka saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Salim A. Fillah, pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal yang tak didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan sangat berbahaya.

Jadi, jika saya yang hina dan penuh dosa ini boleh memilih satu nasihat untuk disampaikan kepada teman-teman yang hendak menikah, barangkali pesan saya seperti ini:

Daripada kita habiskan waktu bertahun-tahun untuk saling mengenal, padahal itu tidak menjamin apa-apa kecuali peluang untuk melakukan dosa, lebih baik kita membangun kesiapan untuk menerima. Sehingga siapa pun yang kelak menjadi teman kita dalam membina rumah tangga, apakah kita sudah begitu mengenalnya atau baru sekadar tahu nama, ia akan bahagia karena kesediaan kita menerima ketidaksempurnaanya. Bahwa di dalam diri kita ada jiwa yang begitu lapang, yang siap menampung berbagai cerita, mimpi, amarah, keluh, kesah, luka dan air mata.

Depok,
Azhar Nurun Ala

*kisah lengkap dari tulisan di atas sudah dibukukan dalam ‘Cinta Adalah Perlawanan

SaveSave

SaveSave

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

31 thoughts on “Catatan Pernikahan: Tentang Saling Mengenal”

  1. Mengharukan bang… sekaligus menginspirasi. Pengen deh baca secara lengkap kisah perjuangan cinta Kak Azhar & Mba Vidia, bisa dibaca di buku yang mana ya Kak? Cara pesennya gimana? Makasih Kak… :’)

    1. Halo Anita, alhamdulillah kalau bermanfaat. Kisah lengkap dari tulisan ini bisa dibaca di buku Cinta Adalah Perlawanan. Untuk info harga & cara pesan bisa dilihat di azharologia.com/koleksi atau langsung WA ke 0812-1234-0604 🙂

  2. Hmmm… Ini jadi inget sama buku Kak Azhar yang judulnya Cinta Adalah Perlawanan. Sebenernya nggak ada yang istimewa pada cerita di buku ini. Yang membuatnya berkesan adalah penyampaian kehidupan sehari-hari dari sudut pandang yang jarang terpikirkan. Mindblowing istilahnya. Ungkapan perasaan juga terkesan jujur dan dekat dengan kehidupan kita. Sederhana, tapi penuh makna. #Speechless

  3. Suka sama semua karya Kak Azhar! Buat yang mau beli karya Kak Azhar aku saranin langsung beli paket bundel lengkap. Karena kalau enggak, PASTI NYESEL! Hehehehe… *maaf ya kak Azhar malah jadi promosi. Abisnya emang nyess nyess banget tulisan Kakak. Bukan cuma galau-galau gak jelas, tapi ngasih banyak ilmu khususnya buat anak-anak muda jaman sekarang. Terus berkarya Kak Azhar!!!

  4. Maaf kak mau tanya sesuatu.
    Bagaimana kalau si lelaki yg lebih memilih egonya bahkan sampai gak memperdulikan perasaan sedikit pun, bahkan disini saya gak ada kesempatan untuk mengatakan apa yg ku rasakan.
    Dia ajak ngomong berdua baik-baik gak mau kalau jawab suka kasar giliran di kasari balik saya malah di hina-hina.
    Rasanya pengen banget ngelakuin sesuatu yang bisa bikin dia benar-benar menyesal dan Akhirnya tidak lagi mementingkan egonya, tapi apa?
    😥

  5. Catatan untuk saya yg akan melaksanakan pernikahan yg sebentar lg, yg blm dlm mengenal pasangan, mungkin inti nya baik buruk nya ttp hrs menerima calon suami Krn gambaran pasangan ada di duri kira, kekurangan dia ttp hrs di tutupi dg kelebihan kita, inspiratif sekali. ☺☺

  6. Jadi sebenernya pacaran itu ngga perlu ya kak? Lalu bagaimana dengan ta’aruf? Bagaiman caranya ta’aruf kak? 😊

    1. Islam tidak mengenal istilah pacaran. Kalau sudah jelas agama dan nasabnya. Dan sudah merasa cocok. Mw nunggu apalagi. Mslah rezeki udh dijamin, al quran surah an nur ayat 32. Bismillah 🙂

  7. Subhanallah.. Saya selalu suka tulisan mas Azhar, dan saya kagum sekali sama mas Azhar dan Mbak Vidia setelah baca novel Cinta adalah perlawanan. Inspiratif dan kalian manis 😀 Semoga bahagia selalu dan langgeng dunia akhirat. Aamiin

  8. Subhanallah.. Saya selalu suka dengan tulisan Mas Azhar. Dan juga kagum kagum sekali sama Mbak Vidia dan Mas Azhar setelah membaca novel Cinta Adalah Perlawanan. Inspiratif dan kalian manis sekali 😀

  9. Ka gimanaa yang pernah mrs akan sllu sakiti selalu di dia siakan oleh Cwo ,dsaaat kta suka sm sseorang dia lebih memilih teman sndri ,

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s