Cinta, Beban & Kebutuhan

“Ridha dengan ketetapan Allah yang tidak menyenangkan adalah tingkat keyakinan yang paling tinggi.” Ali bin Abi Thalib

Kalau Allah menetapkan manusia untuk hidup berkecukupan, kalau Allah memberikan berbagai kemudahan dalam setiap usaha yang kita lakukan, kalau Allah jauhkan kita dari berbagai penyakit yang menyengsarakan kita, siapa yang tidak rela? Siapa yang akan protes?

Kalau setiap apa yang kita inginkan terpenuhi, kalau dengan duduk manis nonton TV semua persoalan hidup tuntas, kalau dengan diajak jalan-jalan ke mall setiap hari anak-anak tumbuh menjadi manusia-manusia yang berguna dan berbakti pada orangtua, kalau dengan mendengarkan musik setiap pagi kita mendadak khusyuk dalam shalat, betapa indahnya dunia. Betapa indahnya hidup.

Sayangnya sejarah mencatat hidup tak berjalan dengan cara semacam itu. Allah berfirman, “Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan mengatakan ‘kami telah beriman’, sedang mereka belum diuji?”

Apabila untuk bahagia dunia-akhirat kita perlu beriman, dan untuk jadi beriman kita perlu diuji, maka hidup sejatinya hanyalah ujian.

Pada titik ini kita mestinya menyadari bahwa ujian bukan cuma tentang penderitaan, bukan cuma soal kemiskinan. Ujian adalah kemiskinan, juga hidup yang berkecukupan. Ujian adalah ketidakmengertian, juga ilmu pengetahuan. Ujian adalah kesendirian, juga kebersamaan. Ujian adalah kesakitan, juga kesehatan. Ujian adalah kecacatan, juga kesempurnaan.

Orang yang buta diuji, apakah dengan ketidakmampuannya untuk melihat ia bersabar, atau terus menerus mengutuki hidupnya. Orang yang matanya sehat juga diuji, apakah dengan kemampuan melihatnya itu ia akan lebih khusyuk dalam melakukan kebaikan, atau justru semakin khilaf karena terbuai berbagai keindahan dunia yang semu.

Kita seringkali iri pada mereka yang selalu terpenuhi kebutuhannya karena banyak harta, padahal mereka posisinya sama dengan kita: sama-sama sedang diuji. Tiap-tiap kita diuji dengan persoalan-persoalan yang mampu kita selesaikan. Jadi, bila kita tidak diuji dengan banyaknya harta, barangkali kita memang belum punya kapasitas untuk menaklukkannya.

Tak perlu juga menyalahkan siapa-siapa. Sebab Allah hanya akan menguji sesuai dengan kemampuan manusia, dan hanya akan memberi sesuai kebutuhan manusia. Itu kaidahnya.

Cacing-cacing yang hidup di dalam tanah tak diberi mata dan telinga, karena mereka memang tak butuh itu—buat apa? Seandainya cacing-cacing itu diberi mata dan telinga, justru itu akan jadi beban bagi mereka.

Kalau kita memberikan peralatan bengkel pada seorang dokter untuk memudahkan pekerjaannya, si dokter akan terbebani karena dia tak butuh itu. Apa yang ia butuhkan untuk melakukan pekerjaannya adalah peralatan kesehatan.

Apa-apa yang kita miliki tapi sebenarnya tak kita butuhkan hanya akan menjadi beban.

Maka pantaslah jika Allah membutakan hati dan pandangan kita dari jalan-Nya, kalau kita tidak merasa membutuhkan petunjuk dari-Nya. Sebab itu hanya akan jadi beban bagi kita. Bukankah kita semua ingin hidup senang—melayang-layang tanpa beban?

….

Azhar Nurun Ala
dikutip dari Novel ‘Seribu Wajah Ayah‘ hal 97-99

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Cinta, Beban & Kebutuhan”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s