Manusia & Masa Depan yang Suci

Pagi tadi, saya diundang berbagi cerita tentang pernikahan di sebuah acara yang diadakan oleh mahasiswa Universitas Gunadarma, Depok. Pada sesi tanya jawab, seorang peserta bertanya. Ia punya sahabat dengan masa lalu yang buruk, katanya, yang kini merasa telah berada di lingkungan yang baik. Namun, katanya lagi, masa lalu itu terus menghantui, dan ia jadi minder dibuatnya. Perserta itu bertanya apa yang baiknya ia sampaikan kepada sahabatnya itu agar ia kembali ‘hidup’.

Saya tidak tahu apa yang terjadi pada sang sahabat, dan kalaupun saya tahu saya tidak yakin pengalaman hidup saya memadai untuk memberikan solusi atas permasalahannya. Maka saya menjawab sekenanya saja, dan di akhir kalimat saya hanya menjawab: …masa lalu memang tidak akan pergi ke mana-mana, kita yang harus beranjak pergi meninggalkannya. Hanya itu yang saya tahu. Hanya itu pelajaran tentang masa lalu yang bisa saya ambil dari umur pendek yang pernah saya jalani.

Ketika membuat tulisan ini saya tengah merenung, mengingat kembali pertanyaan itu. Saya memang tak mengerti persoalan spesifik yang dialami sang sahabat, tapi saya seperti bisa—lebih tepatnya pernah—merasakannya: penyesalan, rasa malu, juga rasa benci pada diri sendiri yang terus mendera.

Masa lalu yang tidak terlalu baik seringkali menelan rasa percaya diri kita dalam menghadapi hidup. Tiba-tiba saja dunia menjadi tempat yang gelap, dan kita mulai berhalusinasi tentang orang-orang di sekitar yang sedang mencibir kehinaan kita. Hingga akhirnya, kita menjadikan cibiran-cibiran—hasil imajinasi kita—itu untuk melegitimasi kebrutalan kita: ‘Aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan karena tak ada seorangpun yang mengerti aku’.

Maka, andai saya punya kekuatan untuk memperbudak waktu dan bisa kembali ke sesi taya jawab pagi tadi, saya ingin menjawab: temuilah sahabatmu itu dan katakan bahwa kau, juga orang-orang di sekitarnya begitu mencintainya. Katakan bahwa sebanyak apapun luka yang pernah ia cipta di masa lalu, masa depan akan selalu suci dan setia menantinya dengan tangan terbuka.

Dan cinta adalah harapan. Adalah perlawanan.

Depok, 11 Juni 2015
Azhar Nurun Ala

gambar dari ErinBird DevianArt

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Manusia & Masa Depan yang Suci”

  1. Manusia, namanya juga manusia. Bila diambil dari bahasa arab ‘insun’ yang artinya pelupa. Meski kadang tidak benar-benar lupa secara harfiah, bisa jadi lupa secara maknawi, artinya kalau kita masih manusia masih besar kemungkinan untuk terpengaruh pada perangkap syethan.

    Setiap manusia punya masa lalu dan masa depan, masa lalu adalah pembelajaran. Masa depan adalah impian. 🙂

    Salam.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s