Mengelilingi Matahari 22 Kali

Hidup ini lucu. Begitu banyak hal menyenangkan yang membuat kita seperti ingin hidup selamanya, juga tak sedikit hal menyebalkan yang diam-diam membuat kita berharap tak pernah dilahirkan. Kadang jadi anugerah, kadang dirasa musibah. Kadang kita menjalaninya dengan senyum optimisme, kadang kita hanya ingin melewatkan semuanya—saat tiap detik terasa begitu menyiksa.

Kadang-kadang kita hanya ingin menyendiri dan tak berpartisipasi dalam kehidupan ini. Menjalani sisa umur—yang tak pernah kita tahu waktu habisnya—tanpa melukai dan dilukai, tanpa dibenci atau membenci. Tanpa harapan, tanpa rasa takut kehilangan.

Tapi, untuk itukah kita dicipta?

Beberapa hari yang lalu, saya menggenapkan perjalanan mengelilingi matahari sebanyak 22 kali. Banyak, ya? Iya, banyak dan tak terasa. Entah bagaimana caranya hari ini saya sudah berada di titik ini—titik yang tak pernah saya duga, apalagi rencanakan. Ah, saya memang bukan perencana yang baik.

Dalam beberapa kesempatan saya sangat suka membuka foto-foto lama, membaca tulisan-tulisan lama, atau mendengarkan musik yang dulu sering saya putar. Rupanya telah banyak hal yang saya lewati. Betapa banyak orang yang pernah saya temui. Tak terhitung lagi luka yang pernah saya cipta, pada orang lain maupun diri saya sendiri. Tapi mengapa semua ini seperti baru kemarin?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya merayakan cinta dengan seorang bidadari bernama Vidia Nuarista Annisa Larasaty?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya berkumpul dengan teman-teman di BEM UI, BEM FKM, dan teman-teman kampus lainnya untuk rapat, demo, atau sekedar saling bercerita tentang apa saja yang bisa membuat kami tertawa, atau menangis…

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya tinggal di Asrama Indonesia Quran Foundation dengan berbagai manusia unik di dalamnya?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya melangkahkan kaki dari rumah, diantar ibu, untuk daftar ulang di UI lalu melihat-lihat asrama UI untuk kemudian tinggal di sana untuk beberapa bulan?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya memanjat pagar belakang sekolah karena terlambat, lalu masuk kelas di tengah pergantian jam pelajaran?

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya harus berjalan kurang lebih dua kilometer—ditambah naik perahu saat banjir—untuk bisa sampai ke SMP di kampung sebelah?

Mengapa rasanya baru kemarin saya, ibu, bapak, adik-adik dan kakak-kakak berkumpul dan bercengkerama di rumah, sambil menyantap ketupat sayur. Momen yang mungkin hanya terjadi sekali setahun.

Mengapa rasanya seperti baru kemarin saya dan beberapa teman membuat rumah-rumahan di tengah kebun singkong yang batangnya sudah tinggi-tinggi, lalu kami mendengarkan bualan salah seorang teman bahwa di sebuah tempat yang ia tunjuk waktu itu ada Pedang Anglingdharma yang belum ada seorangpun yang bisa mencabutnya—bahwa pedang itu bisa memberikan kekuatan yang dahsyat.

Mengapa rasanya baru kemarin…

Mengapa rasanya baru kemarin?

Betapa waktu berjalan begitu cepat tanpa bisa ditawar.

Betapa penyesalan selalu dirasakan belakangan, bahkan kadang jauh setelah peristiwa yang disesalkan terjadi. Dan betapa saya begitu bodoh untuk melakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi—berulang-ulang kali.

Betapa saya ingin punya mukzizat untuk memperbudak waktu. Dan betapa saya menyadari begitu mustahilnya hal itu. Sebab bagaimanapun, kita harus menjalani hari ini dengan kegembiraan, sambil menatap masa depan dengan penuh harapan.

Bagaimana dengan masa lalu? Biar ia tetap di sana untuk sesekali kita tertawakan ketika kita muak dengan dunia yang sudah semakin gila ini. Biar ia tetap di sana, menjaga diri kita yang bodoh agar tak ikut hadir hari ini, atau, masa depan. Agar semakin hari tawa kita bisa semakin besar ketika mengingat masa lalu.

Depok, 24 Maret 2015

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s