Meninggalkan Masa Lalu

Sebagian manusia hidup dalam masa lalunya, pura-pura nyaman hidup dalam angan-angan yang sudah jadi kenangan.  Tangannya yang layu mendekap tubuhnya sendiri. Kakinya melangkah, tapi kepalanya terus menoleh ke belakang, berjibaku melawan waktu yang terus berjalan ke depan. Tanpa ampun. Tanpa pengertian sedikitpun.

“Gelap akan berganti terang, terang akan disusul gelap. Apa bedanya?”, katanya suatu hari. “Kalau kehidupan manusia selalu berputar dan sejarah berulang, apa bedanya masa lalu dan hari ini? Bukankah itu artinya masa depan adalah masa lalu juga sebenarnya?”

Barangkali kehidupan memang berputar. Boleh jadi sejarah memang berulang. Tapi dunia ini punya akhir. Kehidupan punya batas. Dan nahasnya, berbagai hal yang terjadi dalam rentang waktu kehidupan yang terbatas ini akan dimintai pertanggungjawaban.

Itu sebabnya Ali bin Abi Thalib pernah berkata: “… Sesungguhnya saat ini adalah waktunya beramal dan tidak ada perhitungan, adapun besok (di akhirat) adalah saatnya perhitungan dan tidak ada waktu untuk beramal.”

Dalam keterbatasan waktu beramal ini, tidakkah begitu menyedihkan bila hanya kita isi dengan keluhan dan ratapan? Bukankah leher akan pegal bila terlalu sering digunakan untuk menengok ke belakang?

Jadi, tatap masa depan dengan harapan dan melangkahlah.

Sebab masa lalu tak ‘kan pergi ke mana-mana, kita lah yang akan beranjak pergi meninggalkannya.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Meninggalkan Masa Lalu”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s