Membicarakan Masa Depan

Jurusan apa yang akan kita ambil? Di perusahaan mana kita akan bekerja? Rumah tipe berapa yang akan kita huni? Mobil macam apa yang akan kita beli? APV, Camry, Mercy?

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, barangkali pertanyaan-pertanyaan itu sudah tak lagi asing, bahkan barangkali begitu sering hadir di kepala kita.

Demi masa depan yang cerah, kita melakukan segalanya. Tentu saja, karena tiap-tiap kita ingin tenang hidupnya. Tiap-tiap kita ingin menjalani hidup dengan bahagia.

Atas nama ‘masa depan yang cerah’, kita semua berlomba. Berkejar-kejaran dengan waktu, menuntaskan segala macam targetan yang menjadi syarat agar masa depan kita bisa dimasukkan ke dalam kategori ‘cerah’. Bukan suram apalagi gelap.

Dalam pembicaraan-pembicaraan soal masa depan, seringkali kita mendadak menjadi perencana yang baik. 5 tahun lagi saya akan punya bla bla bla, 10 tahun lagi saya akan jadi bla bla bla, 15 tahun lagi saya sudah pergi ke tempat ini, ini, dan ini.

Kita merencanakan masa depan dengan begitu sempurna, sementara kita sering lupa hal yang lebih dekat dari masa depan: kematian. Hal yang lebih dekat sekaligus lebih pasti.

Sudahkah kita punya jawaban untuk 3 pertanyaan sederhana ini:

Dalam kondisi apa kita ingin mati?
Apa yang akan kita bawa dan tinggalkan ketika mati kelak?
Sudahkah kita siap jika kita mati lusa, esok, atau bahkan hari ini?

Mari, kita merenung bersama.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

8 thoughts on “Membicarakan Masa Depan”

  1. Kalau menurut saya, idealnya jawabannya adalah:
    Dalam kondisi khusnul khotimah,
    membawa amal ibadah, meninggalkan amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh.
    Dan tentu saja kita harus siap jika memang harus mati besok, atau bahkan hari ini.

    tapi ya itu idealnya. Kenyataannya, yah, mari merenung

  2. Reblogged this on Aku dan Sebuah Cerita and commented:
    Ya Allah, ampuni kami. Jika kami masih sering lupa masih sering terlalu percaya diri membicarakan masa depan yang belum pasti, namun luput memikirkan dan merenungkan hal yang pasti dialami setiap makhluk yang bernyawa : kematian.
    “Ya Allah berikanlah kami akhir yang baik ‘Husnul Khotimah’ , Amin.”

  3. Reblogged this on dyahluckyfebyantina and commented:
    Lalu kau mau apa, jika apa yang ingin kau pastikan tidaklah pasti. Manusia bukanlah makhluk kepastian. Sebab satu-satunya yang pasti adalah Dia Yang Maha Pasti. Silahkan kau berangan-angan hingga terbang melayang, silahkan kau bermimpi ditemani otakmu yang penuh imajinasi, silahkan kau bekerja keras seolah kau hidup selamanya di dunia ini. Tapi jangan lupakan apa yang pasti akan terjadi pada dirimu, dan pada seluruh makhluk. Evey soul shall taste death.

  4. Setidaknya, apakah kata2 ini cukup atau tidak. Berbuatlah seakan akan kau akan hidup selamanya, dan beramallah seakan kau akan mati esok..
    Kepedulian kita pd hari ini akan memberikan perbedaan berarti pd masa depan

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s