Mengganti Cita-cita

“Apa yang harus kita lakukan kalau jurusan yang sedang kita ambil ternyata tidak sesuai dengan cita-cita kita? Bagaimana kalau kita menetapkan cita-cita kita yang sesungguhnya belakangan setelah terlanjur memilih jurusan?”

Pertanyaan-pertanyaan semacam ini kerap saya temui dalam sesi-sesi sharing, terutama di acara-acara kampus yang pesertanya sudah tentu hampir semua mahasiswa. Barangkali kita juga pernah mengalami kegalauan semacam ini, ketika apa-apa yang sedang kita jalani tak pernah benar-benar kita nikmati. Ketika keindahan-keindahan yang kita impikan—atas nama masa depan—tergilas oleh beragam tuntutan yang lebih sering membuat kita kehilangan keseimbangan. Jadilah kita oleng, lantas terombang-ambing ke sana ke mari diseret-seret oleh tren yang tak lain dan tak bukan dibuat-buat manusia.

Pertanyaan tentang cita-cita, passion, dan sejenisnya memang akan selalu ada karena manusia dan zaman berubah. Sehingga upaya untuk mengenal diri dan lingkungan sejatinya adalah upaya yang tak punya akhir. Jadi bersyukurlah mereka yang hidupnya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan, bersyukurlah mereka yang tak pernah berhenti mencari.

Tentang cita-cita, saya menyisipkan pandangan saya lewat beberapa paragraf tulisan di dalam buku ‘Seribu Wajah Ayah’. Berikut saya hadirkan dalam postingan ini, semoga bisa jadi bahan diskusi dan renungan.

……………

Mengganti cita-cita karena kita sadar kita tak pernah menginginkannya, barangkali tak termasuk sebuah kepengecutan. Justru, boleh jadi, bertahan pada cita-cita yang tak sesuai dengan suara hatilah yang merupakan kepecundangan. Kita tak dewasa untuk mendengarkan nurani kita sendiri. Tak berani menapaki jalan yang kita percaya hanya karena takut pada orang-orang di sekeliling kita yang sudah terlalu mahir mencela yang-berbeda karena dilatih setiap hari.

“Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani,” kata Rhenald Kasali, “putar arah sekarang juga.”

Kalau di sebuah tempat ada dua buah jalan—katakanlah jalur satu dan jalur dua—dan kebanyakan orang berjalan di jalur satu, tentu mereka akan keheranan dan memandangmu dengan tatapan sinis ketika kau berjalan di jalur dua—terlebih kalau kau seorang diri. Tentu saja kau perlu bertanya dan memeriksa dirimu: apa yang salah? Tapi bila itu yang memang kau yakini dan kau tak temui kejanggalan di sana kecuali sebuah fakta bahwa jalan itu jarang dilewati orang, teruslah berjalan.

Mintalah fatwa ke dalam hatimu. Berjalanlah di atas keyakinanmu sendiri. Kita adalah manusia dan bukan itik yang bisa digiring ke sana kemari.

Bait-bait puisi Robert Frost berikut menggambarkannya.

Dua jalan bercabang di dalam hutan, dan aku…

Kupilih jalan yang jarang ditempuh,

Dan perbedaannya besar sungguh.

Tentu saja jalan yang jarang ditempuh belum tentu benar, sebagaimana jalan yang sering ditempuh belum tentu salah. Tapi setidaknya, kita punya keberanian untuk mencari kebenaran yang disuarakan oleh hati kita dan bukan hanya mengikuti orang lain. Setidaknya, kita bisa mati dengan tenang sebab di dunia yang singkat ini kita telah melakoni jati diri sampai puas.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

7 thoughts on “Mengganti Cita-cita”

  1. “Berjalanlah di atas keyakinanmu sendiri. Kita adalah manusia dan bukan itik yang bisa digiring ke sana kemari”.

    terimakasih kak telah menulis, semoga karya kakak dapat menginspirasi banyak orang..

  2. Tak peduli seberapa jauh jalan salah yang Anda jalani,” kata Rhenald Kasali, “putar arah sekarang juga.”

    Tulisan ka Azhar yang ini benar-benar menggambarkan dilema yg saya alami 😥 ….

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s