Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 4)

Beberapa hari setelah saya memutuskan untuk menerbitkan buku secara self-publishing, ada salah satu editor dari penerbit nasional yang menghubungi saya. Beliau menyampaikan ketertarikannya terhadap tulisan-tulisan saya dan menawarkan saya untuk menulis buku untuk kemudian diterbitkan lewat penerbitnya. Saya yang waktu itu hanya punya draft buku Ja(t)uh (antologi prosa pertama saya) lantas mengirimkan saja draft itu. Seperti telah saya duga, pihak penerbit merasa tulisan saya terlalu random, baik dari tema maupun bentuk tulisan. Saya pun kembali pada rencana awal: self-publishing.

Hal yang saya cari tahu pertama kali adalah tentang urusan percetakan, terutama tentang kualitas dan biaya cetak. Untuk pembuatan kover, saya punya sahabat di Bandung yang ahli dalam urusan desain. Soal editing, saya punya sahabat juga mahasiswa Sastra Indonesia UI yang tentu saja sudah banyak belajar tentang penyuntingan. Saya kira tantangan terbesar saya waktu itu adalah bagaimana menutup biaya cetak yang tidak sedikit.

Dari hasil beberapa kali pembicaraan saya dengan tim (kami menyebutnya tim azharologia), bulat sudah tekad kami: cetakan pertama kami akan mencetak 500 eksemplar buku Ja(t)uh. Satu-satunya alasan rasional kenekatan kami itu adalah statistik pengunjung blog yang berkisar antara 500-800 views setiap harinya. Tentu saja keputusan itu diambil dengan rasa khawatir yang tidak juga kecil. Biaya cetak 500 eksemplar dengan kualitas buku sekelas penerbit nasional waktu itu hampir mencapai 10,000,000. Bahkan saya tidak pernah punya uang pribadi sebanyak itu.

Bagaimana menutup biaya itu? Kami memutar otak, merumuskan strategi dan berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi. Kami memutuskan untuk membuka Pre-Order, dengan harapan uang yang terkumpul dari pemesan cukup untuk menutup biaya percetakan, sehingga PR selanjutnya adalah bagaimana agar sisa buku habis terjual. Modal kami waktu itu hanyalah keberanian, doa dan sedikit ilmu marketing yang kami pelajari secara otodidak dari buku-buku. Hasilnya? Peserta Pre-Order mencapai lebih dari 200 orang, dan itu cukup untuk menutup biaya percetakan, bahkan waktu ada sisa uang yang kami pakai belanja dan jalan-jalan. Sekedar menghadiahi diri kami sendiri.

Pola penerbitan yang sama kemudian saya lakukan juga untuk buku-buku selanjutnya, Tuhan Maha Romantis & Seribu Wajah Ayah. Tentu dengan berbagai inovasi, perbaikan sistem, strategi-strategi marketing dan peningkatan oplah (ini istilah untuk eksemplar buku yang dicetak). Kalau pada awalnya saya mencetak 500 eksemplar, kini sudah ribuan eksemplar setiap kali cetak. InsyaAllah dalam waktu dekat Ja(t)uh akan masuk cetakan ke-4, Tuhan Maha Romantis cetakan ke-3, dan Seribu Wajah Ayah akan masuk cetakan ke-2. Tentu ini tidak mungkin terwujud tanpa adanya apresiasi dari pembaca sekalian yang setia mempertanyakan dan menanti karya-karya saya selanjutnya.

Menutup tulisan ini, saya mohon doa, insyaAllah saya sudah mulai menggarap buku ke-2 dari Serial Tuhan Maha Romantis dengan judul โ€˜Konspirasi Semestaโ€™.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

18 thoughts on “Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 4)”

  1. emm,,,, luar biasa mas,,
    sepertinya mas itu sudah menjadi salah satu tokoh yang bisa membuat saya jatuh bangun, setelah Bapak Chairul Tanjung,,,
    hehe…
    terus berkarya mas,,,

    #salam kreatif…:)

    ( Aceh )

  2. Wah… benar2 inspiratif mas…
    saya jadi ikut dan tambah bersemangat utk menulis…
    sukses selalu mas…
    semoga karya terbarunya juga sukses dan lebih sukses tentunya…
    amiin…

  3. Saya gk suka baca. Tapi saya suka banget sama sampul2 bukunya bro Azhar. hehe.. Meaningful, simple, and it’s looked pricy.. truslah berkarya bro, krna berkarya adalah ciri utama dari manusia ๐Ÿ˜€ (sok puitis) Wassalamu’alaikum.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s