Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 1)

Akhir-akhir ini, hampir setiap week-end saya habiskan di luar kota untuk menjadi pembicara, baik dalam acara bedah buku maupun talkshow tentang motivasi dan kepenulisan. Hampir di setiap acara yang saya isi selalu ada pertanyaan—baik dari moderator maupun peserta—‘Apakah Mas Azhar sejak kecil sudah suka menulis? Apakah menjadi penulis adalah cita-cita Bang Azhar sejak kecil?’, dan ‘apakah’-‘apakah’ lainnya yang senada. Saya ingin mencoba menuliskan jawaban pertanyaan-pertanyaan itu di sini, karena talkshow atau bedah buku tak pernah cukup untuk menjelaskan bagaimana akhirnya saya kini berada dalam dunia kepenulisan ini.

Terus terang, saya lahir dari latar belakang keluarga yang tidak memungkinkan saya bahkan untuk sekedar membayangkan bagaimana menjadi seorang penulis, terlebih menjadikannya sebagai profesi. Saya lahir di daerah Lampung Tengah, di sebuah desa yang bahkan sampai saya SMP belum tersentuh listrik. Saya jarang bersentuhan dengan buku, terlebih buku fiksi. Satu-satunya jenis buku yang berlimpah di rumah saya adalah ‘Panduan Menanam Cabai’, ‘Memeberantas Hama Wereng’, dan sejenisnya karena waktu itu kakak saya adalah mahasiswa pertanian di Universitas Lampung. Bahkan, setika SMP hanya tahu segelintir penulis fiksi yang kebetulan dibahas dalam pelajaran Bahasa Indonesia semacam Marah Rusli dan.. ah, bahkan saya tidak lagi ingat.

Bapak-ibu saya adalah guru, dan saudara-saudara juga banyak yang berprofesi guru. Seingat saya, tidak ada saudara atau kerabat yang berprofesi penulis, atau mungkin ada tetapi tidak terkenal, entahlah. Sehingga sejak TK tidak ada cita-cita lain dalam kepala saya kecuali ‘menjadi guru’. Itu sebabnya, dalam salah satu tulisan sebelum ini saya bercerita bahwa pada awalnya saya berniat untuk masuk Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung—yang akhirnya kandas karena saya tergiur formulir untuk masuk UI tanpa tes.

Sampai dengan saya kuliah di semester awal, saya tidak suka membaca dan setulusnya saya selalu bingung bin penasaran setiap kali melihat teman dengan novel tebal di tangannya dan anehnya lagi, novel itu… novel itu ia baca sampai habis! Saya geleng-geleng kepala.

Adalah sebuah permasalahan yang kemudian membuat saya dekat dengan buku dan dunia organisasi. Apa masalah itu? Pergaulan. Saya mengalami semacam ‘kegagapan sosial’, entah istilah ini tepat atau tidak. Yang jelas, saya yang tak terbiasa berorganisasi (ketika SMA saya hanya ikut Taekwondo, tidak OSIS tidak juga Rohis apalagi Rokris) ‘kaget’ ketika masuk UI. Saya tiba-tiba dihadapkan dengan begitu banyak orang dengan latar belakang yang begitu beragam dan saya dituntut untuk bersosialisasi dengan mereka karena kalau tidak saya bisa mati dalam kesendirian—oke ini berlebihan. Ketika itu saya ingin sekali menjadi lebih supel dalam bergaul, lebih berani tampil di depan umum, lebih asyik ketika mengobrol, dan sebagainya. Tapi bagaimana caranya?

……….

berlanjut ke Menulis Sebagai Cita-cita? (bagian 2)

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

5 thoughts on “Menulis sebagai Cita-cita? (bagian 1)”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s