Untuk Perempuan di Balik Senyuman

Kita bukan sepasang kekasih yang mengisi seluruh waktu bersama dengan saling memuji dan mengagumi. Kita juga bukan dua insan yang selalu bisa habiskan waktu dengan menyenangkan karena punya hobi serupa. Ya, kadang kita saling membenci. Aku membenci sikap diam dan perhatianmu yang berlebihan pada hal-hal kecil. Dan kau, barangkali begitu mengutuki sifat emosionalku yang seringkali meledak-ledak tak terkendali, atau, sikap dinginku yang selalu sukses menularkan kebekuan di antara kita.

Sayang, barangkali aku memang bukan kekasih yang baik. Sebagaimana hidup kita yang tak selalu berjalan baik. Kadang jiwa kita tenang tentram, kadang kita menjalani malam-malam yang penuh kekhawatiran. Kadang kita bisa makan apa saja yang kita inginkan, kadang kita membuka lemari pendingin kita dengan tarikan nafas panjang lalu memasak apa saja yang ada di sana.

Aku membawamu dalam ketidakpastian; kau menemaniku sehingga aku tak sendirian.

Terima kasih.

Darimu, aku belajar kesabaran
—keteguhan hati yang tak terperikan.

Darimu, aku belajar kerendahan hati.

Bersamamu, aku belajar mencintai.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

11 thoughts on “Untuk Perempuan di Balik Senyuman”

  1. kemarin dpt rekomendasi dari teman tentang buku tuhan maha romantis, dan teman saya lagi hunting buku seribu wajah ayah, katanya itu buku karya suami temannya, mba vidya ,, dan Alhamdulillah disini bisa silaturrahmi sama pengarangnya.. salam kenal mas azhar dan mba vidya..

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s