Ketakutan

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita membuka kunci layar telepon genggam kita, sudah banyak notifikasi di sana. ‘You have a new tweets’, ‘3 new invites’, ‘Nani Wijaya likes your photo’, ‘memory usages is over 85%’, ‘you have 8 conversations 54 messages’, ‘Andi Budiman mengajak anda berteman’. Ah, siapa pula Andi Budiman! Mengapa pula dia mengajak berteman!

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita menghidupkan televisi: ada seorang perempuan dengan blues biru  berambut cokelat sedang membacakan berita politik dengan nada sok serius, sekelompok orang dengan wajah itu-itu saja membawakan lawakan yang tidak lucu, talkshow-talkshow yang dibuat semenarik mungkin padahal tak berguna, acara musik stereotipikal cuci-jemur-cuci-jemur yang tidak ada habisnya, sinetron serigala jadi-jadian yang sedang digandrungi para remaja—dan didukung penuh oleh ibunya, Marshanda yang tak lagi memakai jilbab, Syahrini jalan-jalan ke Italy, Cak Lontong dicomblangkan dengan Desy Ratnasari yang sudah bersuami. Oh ya, tak ketinggalan catatan hati mahadramatis seorang istri favorit ibu-ibu dan masih banyak lagi.

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita bekerja untuk hidup, hidup untuk bekerja. Akhir pekan kita tidur seharian di rumah atau pergi ke mall—melihat apa lagi gadget terbaru yang dirilis bulan ini: ‘Smartphone tercepat dengan processor sekian GHz’, ‘Layar dengan kerapatan sekian ppi’, ‘kamera depan pixel tinggi untuk kamu yang suka selfie’, ‘smartphone China dengan kapasitas baterai besar bisa sehingga digunakan sebagai Power Bank’, dan ‘ah, apa itu? Iphone 6 dirilis bulan depan?’

Apa yang sebenarnya sedang kita lakukan di dunia ini?

Kita membeli apa-apa yang sebenarnya tidak kita butuhkan, menonton apa-apa yang sebenarnya tak penting untuk kita tonton, mengatakan hal-hal yang sesungguhnya tak penting untuk dikatakan, mendengarkan suara-suara yang tak ada manfaat di dalamnya, dan—yang paling menyedihkan—menertawakan apa-apa yang sebenarnya tidak lucu.

Padahal hidup kita singkat. Sangat singkat. Waktu kita sedikit. Terbatas.

*

Dunia membuat kita begitu sibuk. Kadang sibuk bekerja, kadang sibuk bermalas-malasan. Kita belajar dan bekerja begitu keras karena khawatir kelak masa depan kita suram—tak sanggup membeli rumah besar dan mobil untuk bisa kita pakai ke kantor, mall, tempat wisata, atau keliling ke sanak saudara di hari raya. Kita begitu takut.

Ketakutan telah menggerakkan kita untuk bangun pagi setiap hari, Ketakutan telah membuat kita membeli apa yang tak penting dibeli. Ketakutan telah membuat kita mencari hiburan-hiburan di mall dan televisi. Lebih dari itu, ketakutan telah membuat kita bertahan hidup.

Jadi, akui saja bahwa Tuhan kita hari ini adalah ketakutan—ia telah menjadi penggerak hidup kita.

Akui pula bahwa ketakutan itu berakar dari kebergantungan kita pada isi dunia yang luar biasa menggoda.

Barangkali kita perlu merenungkan apa yang dipercaya oleh Kaum Sinis pengikut Socrates, bahwa kebahagiaan tak terletak pada kelebihan lahiriah seperti harta, kekuasaan, dan sejenisnya. Kebahagiaan, bagi mereka, justru berada pada ketidaktergantungan pada segala sesuatu yang mengambang—berbagai hal yang tak kekal.

Semoga hanya kepada-Nya lah kita menggantungkan hidup kita, sehingga kita bisa berteriak di dalam hati kita masing-masing: ‘Wahai ketakutan, aku tidak lagi takut!’.

~

*ditulis untuk diri saya sendiri, boleh jadi tulisan itu termasuk ke dalam apa-apa yang tak penting untuk dibaca.

foto oleh seppe123 DevianArt

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

14 thoughts on “Ketakutan”

  1. pas banget dengan kondisi dan perasaan saya saat ini. semua seperti tak ada artinya.
    ketakutan memang mengekang kita. tetapi, bukankah ketakutan membuat kita tetap taat.
    “Space dementia in your eyes and
    Peace will arise
    And tear us apart
    And make us meaningless again”

  2. Ketakutan yang menjadikan kitaa disiplin demii mewah nd indah Hidup kita di Masa Depan. Padahl ketakutan itu sendirii hanya sebuah perasaan! Tak lebih ~
    Tetapii ‘perasaan’ itu telah mampu mencurii ketenangan kita yang hakiki. Kita ingin istirahat sejenak ketika penat bekerja, takut bahwa kita belum maksimal dalam bekerja, kita tak jadi istirahat, dan terus memporsir tubuh kita agar Rasa Ketakutan itu tidak semakin menjadi ~

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s