Prolog Seribu Wajah Ayah

Tidak mungkin ada sesuatu yang muncul dari ketiadaan.’ Konon pemikiran itu lah yang ribuan tahun lalu berputar-putar di kepala para filosof alam di Yunani. Sementara Thales beranggapan segala sesuatu berasal dari air, Anaximenes punya pemikiran lain: segala sesuatu berasal dari udara atau uap. Entah pergulatan pemikiran macam apa yang terjadi antara para filosof pada zaman itu, pada hakikatnya mereka sepakat bahwa ada ‘sesuatu’ yang selalu ada, yang merupakan asal muasal semua hal yang kini ada dengan segala dinamika perubahannya serta ketimbul-tenggelamannya.

Apapun yang ada di alam raya ini, semua berasal dari ‘sesuatu’ yang kekal itu. Maka kelahiran dan kematian manusia sejatinya hanyalah permainan waktu. Dan oleh karena itu, kepergian orang-orang yang kita cintai tak perlu berlebihan kita tangisi sebab dia tidak akan ke mana-mana.

Kamu juga percaya itu, tapi memang itulah manusia: tak semua yang kita yakini berani kita jalani.

Malam itu, beberapa detik sebelum pergantian hari hitungan masehi, kamu terbangun. Sendiri. Pipimu basah, mungkin karena keringat, atau air mata, atau keduanya—entahlah. Yang pasti, kamu gelisah. Sebuah mimpi membawakanmu potongan-potongan masa lalu: tentang masa kecilmu, kampung halamanmu, dan tentu saja tentang seseorang yang tak hanya darahnya yang mengalir dalam darahmu, tapi juga gagasannya. Siapa lagi kalau bukan ayahmu, sebab kau sama sekali tak punya kenangan tentang ibu—bagaimana mungkin kau memimpikannya?

Sejak kecil, kamu selalu percaya bahwa sebenarnya ibumu tidak mati. Ia hanya terlalu mencintai ayahmu sehingga tak pernah mau berpisah darinya. Itu sebabnya, ruhnya keluar dan kini menyatu dalam tubuh ayah. Jadilah ayahmu juga punya sifat keibuan, ia tak hanya jadi pembimbing yang tegas, tapi juga pengasuh yang penuh kasih sayang. Kamu juga selalu yakin bahwa khusus bagimu, surga juga ada di telapak kaki ayah. Di setiap langkah yang ia ambil untuk bisa terus menyambung nafas dan menumbuhkanmu, ada surga.

Semakin lama kamu bertumbuh, kamu mulai sadar bahwa cerita yang kamu reka tentang menyatunya ruh ibu dengan ruh ayah di dalam tubuh ayah adalah pemikiran yang sama sekali bodoh—bila bukan gila. Tapi tentang keyakinanmu akan adanya surga di telapak kaki ayah, belum ada hal yang membuatmu punya keraguan sedikitpun di dalamnya. Itulah yang membuat dadamu sesak ketika menyadari bahwa suaranya tak lagi bisa kau dengar, keningnya tak lagi bisa kau kecup, dan tatapan tulusnya tak lagi bisa menenangkanmu. Ia pergi bukan hanya saat kamu tak di sisinya, bahkan saat kamu mencoba untuk melupakan dan tak memedulikannya.

Memang terlalu banyak hal yang lebih menyenangkan di dunia, dan kita manusia adalah mahluk yang terlalu mudah terbuai. Hidup terlalu sering menunjukkan pada kita begitu banyak hal yang membuat kita takjub tak terkendali. Ia menjebak kita untuk terpaku padanya, padahal di balik hal yang menakjubkan itu, ada sumber kekaguman abadi.

Apa yang kita lihat tak selalu seperti apa yang sebenarnya.

Maka Muhammad pun dengan kerendahan hatinya berdoa ‘Ya Allah, tunjukkanlah kepadaku hal-hal sebagaimana adanya!”.

Ayahmu pergi dalam kesendirian, menyusul ibumu yang sudah pergi duluan duapuluh tahun lalu ketika usiamu baru hitungan detik. Kamu, yang barangkali menjadi satu-satunya obat bagi kesedihan ayahmu atas kepergian orang yang teramat dicintainya waktu itu, ternyata tak hadir menemani saat-saat terakhirnya.

Katanya, ‘menyesali perbuatan’ adalah salah satu syarat mutlak dari taubat. Syarat lainnya adalah bertekad tidak mengulanginya. Di dalam kepalamu bertengger sebuah pertanyaan: ‘bagaimana mungkin aku mengulanginya sementara ia sudah tiada?’, yang kemudian kamu sadari bahwa pertanyaan itu tak lebih penting dari pertanyaan ‘lantas apa yang bisa aku perbaiki di saat ia sudah tiada?’. Di tengah malam itu, kamu menangis. Tersedu dalam ruang yang hening. Hanya ada detak jam dinding kesayangan ayahmu yang mengiringi derasnya air mata yang tak juga habis. Malam itu kamu tidur di kamar ayahmu yang telah setahun lebih tidak kamu kunjungi.

Tak banyak yang berubah di sana, sejak setahun yang lalu. Letak jam dinding, lemari tua berbahan kayu jati yang sudah terlalu penuh oleh buku, foto ibumu ketika muda—ah iya, ia memang tak sempat tua. Di meja baca ayahmu, tergeletak sebuah benda semacam buku dengan kover biru tua berukuran kira-kira tigabelas dikali sembilanbelas centimeter yang tidak terlalu tebal, tua, tapi terlihat sangat terawat. Kamu, sebelumnya tak mengira bahwa itu adalah album foto.

Sejak kecil, salah satu kegemaranmu adalah berulang-ulang kali membuka beberapa album foto di rumahmu sampai kamu hampir hafal semua foto yang ada di dalamnya. Tapi, album foto ini seperti tidak pernah kamu lihat. Tak banyak foto di dalamnya, hanya ada sepuluh, tidak kurang tidak lebih. Dan setiap foto punya karakteristik yang sama: hanya ada kamu dan ayahmu di dalam foto itu. Hanya kalian berdua.

Malam itu kau dipaksa untuk menengok ke belakang sampai lehermu pegal. Kau dipaksa untuk berkejar-kejaran dengan waktu untuk kembali memunguti potongan-potongan masa lalu yang tak kau kira sama sekali akan berakhir sedramatis ini. Ada sesal di sana, tentang ketulusan yang kau campakkan. Tentang rindu yang dibawa pergi. Tentang budi yang tak sempat—dan memang tak akan pernah—terbalas.

Seribu wajah ayah sekalipun yang kau kenang dan ratapi malam itu, tak ‘kan pernah mengembalikannya.

~

Halo. 🙂

‘Seribu Wajah Ayah’ adalah judul dari buku ke-3 Azhar Nurun Ala yang insyaAllah akan dirilis tahun ini (2014). Bila banyak yang men-share prolog ini di media sosial (FB & Twitter), insyaAllah akan dirilis beberapa bab dari Novel ‘Seribu Wajah Ayah’ dalam bentuk E-Book yang bisa diunduh secara cuma-cuma sebagai teaser.

Salam,
Azhar Nurun Ala

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

15 thoughts on “Prolog Seribu Wajah Ayah”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s