Memelihara Kenangan di Bandar Harapan

Alhamdulillah, pagi ini (1/7/14) saya dan istri tiba di kampung halaman saya di daerah Lampung Tengah, tepatnya di Dusun VI Bandar Harapan, Kelurahan Terbanggi Besar, Kec Terbanggi Besar, Lampung Tengah. Bus yang kami naiki berangkat jam 20.00 dari Gambir dan–alhamdulillah Allah berikan kelancaran–sekitar jam 6 pagi kami sudah tiba di Bandar Harapan. Kami dijemput ibu di pinggir jalan raya karena untuk sampai ke rumah masih harus menempuh jarak kurang lebih dua kilometer. Karena motor hanya cukup membonceng satu orang (tentu saja kami anti cabe-cabean), maka istri saya ‘diangkut’ duluan, sementara saya berjalan untuk menikmati udara sejuk Bandar Harapan yang segar, sambil mengenang masa-masa kecil. Halah… Pencitraan. Padahal pengen memperbaiki berat badan. :p

Sudah menjadi rencana saya dan istri, kami akan menjalani Ramadan tahun ini di beberapa tempat berbeda demi keadilan sosial bagi saya, istri, dan keluarga kami. Pasalnya, tahun ini untuk pertama kalinya saya tidak menjalani Idul Fitri di Bandar Harapan, melainkan di Kencong, Jember, tempat keluarga besar istri. Maka kami putuskan kami akan menjalani awal Ramadan di Bandar Harapan, pertengahan Ramadan di Depok (seperti biasa, ada beberapa agenda buka bersama), dan akhir-pasca Ramadan di Gresik dan Jember. Bagi teman-teman yang jodohnya berasal dari daerah yang cukup jauh jaraknya dengan asal daerah teman-teman, tentu pernah/kelak akan merasakan.

Sesampainya di rumah, setelah ngobrol-ngobrol beberapa saat, kami istirahat dan baru keluar rumah siang hari. Rupanya bapak saya sedang di kebun depan (sebenarnya samping, nanti kita lihat fotonya), istirahat di bawah saung sederhana. Sebenarnya, dulu kebun di depan rumah kami ini diisi oleh beberapa pohon rambutan, mangga, dan sawo yang besar-besar, tapi karena beberapa tahun terakhir kurang bagus buahnya, dan karena beberapa waktu ada selametan pernikahan, jadi pohon-pohon besar itu dirapikan (baca: ditebang habis). Jadi, sekarang kebun depan rumah lebih bersih dan ditanami beberapa tanaman di antaranya
kacang pisang, hijau, labu, dan pepaya.

Rumah Bahara 2
Ini tadi yang saya maksud kebun depan rumah sebenarnya adalah kebun di samping rumah. Rumah saya nggak menghadap ke jalan.
Kebun di depan rumah. Dulu, di lahan ini tumbuh pohon rambutan, mangga, dan sawo yang besar-besar.
Kebun di depan rumah. Dulu, di lahan ini tumbuh pohon rambutan, mangga, dan sawo yang besar-besar.
Tanaman Kacang Hijau Junior
Tanaman Kacang Hijau Junior
Tanaman Kacang Hijau
Tanaman Kacang Hijau

Meski usia beliau sudah di atas 70-an, bapak masih suka ‘main’ di kebun. Pertama, karena memang bapak gemar berkebun, kedua, karena mungkin setelah pensiun, bapak punya waktu cukup luang. Tanaman yang ditanam di kebun juga biasanya tanaman yang tidak perlu repot perawatannya, serta untuk dikonsumsi sendiri. Percaya atau tidak, meski pasar cukup jauh dari rumah kami, kami hampir tak kesulitan untuk dapatkan sayuran. Pohon singkong, katuk, dan berbagai lalapan kegemaran orang sunda lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu karena begitu banyak, ada di sekitar rumah kami. Konon, orang Sunda ini makan semua daun kecuali daun pintu dan daun telinga. Hehe…

Yah, di sini dan dengan kondisi ini lah saya menghabiskan masa kecil saya hingga SMA. Sangat menyenangkan. Dulu waktu kecil, hampir setiap sore saya dan teman-teman di sini main bola, memancing, main layangan, kelereng, dan lain-lain. Salah satu permainan favorit saya itu ‘Ingkling’, kalau kami biasa menyebutnya ‘Main Sondah’. Sejujurnya saya nggak tahu apa istilah bakunya. Ada yang tahu? Ah, Bandar Harapan memang menyimpan banyak kenangan.

Matahari Terbenam di Langit Bandar Harapan
Matahari Terbenam di Langit Bandar Harapan

Bagi teman-teman yang pernah merasakan tinggal di desa dan di kota, saya yakin juga merasa bahwa di desa, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Sementara di kota, waktu seolah tak berhenti mengejar-ngejar kita. Itu sebabnya, saya selalu suka Bandar Harapan. Inilah tempat yang nyaman untuk berkontemplasi, berpikir ulang tentang apa-apa yang telah dan akan kita kerjakan. Inilah tempat yang nyaman untuk menyegarkan kembali pikiran, menyingkir sejenak dari polusi perkotaan, baik udara maupun suara. Inilah tempat yang sempurna untuk memelihara kenangan. (:

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

5 thoughts on “Memelihara Kenangan di Bandar Harapan”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s