Ramadhan dan Kehampaan Jiwa

“Betapa banyak orang yang shaum namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari shaumnya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ath-Thabrani)

Ramadhan, bulan yang spesial. Kita sering mendengar istilah VIP (Very Important Person), istilah yang biasa digunakan untuk menyebut orang atau sekelompok orang yang biasanya memperoleh perlakuan-perlakuan khusus pada ruang dan waktu tertentu karena statusnya, maka bolehlah kita menyebut Ramadhan ini sebagai ‘Very Important Month’. Dengan berbagai hal yang ada di dalamnya, kita sepakat bahwa Ramadhan adalah ‘Very Important Month’, bulan yang harus kita perlakukan secara khusus.

Di Bulan ini lah, keresahan Muhammad bin Abdullah tentang ‘mana yang benar oh mana yang benar?’ ketika itu dijawab. Mulanya turun 5 ayat pertama Surat Al-‘Alaq, Allah berfirman bahwa ‘Allah-lah yang ciptakan manusia dan yang ajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.’ Di sini kita secara jelas dan tegas bisa melihat fungsi Al-Quran sebagai pembeda. Bahwa yang ciptakan manusia itu bukan berhala-berhala yang selama ini disembah, melainkan Allah. Maka menyembah berhala adalah salah dan hidup mengabdi menurut ajaran Allah adalah benar. Begitulah kemudian firman-firman Allah diturunkan melalui malaikat Jibril, sebagai pedoman hidup manusia.

Jadi, kira-kira peristiwa turunnya 5 ayat pertama Surat Al-‘Alaq ini adalah peristiwa ‘pemecatan’ batu, patung, ruh nenek moyang, dan berhala-berhala lainnya (dalam bentuk apapun) yang disembah dan dianggap Tuhan pada waktu itu, sekaligus pengukuhan (kembali) Allah (dengan penurunan Al-Quran) sebagai Pembimbing Hidup yang menurut ajaran-Nya kita hidup mengabdi.

Semoga tidak pusing membaca kalimat-kalimat di atas karena sejujurnya saya sendiri agak belibet menulisnya. Hehe. Pada intinya, saya kira kita tidak pernah bisa (dan tidak boleh) melepaskan Ramadhan ini dari peristiwa diturunkannya Al-Quran. Dan kita tidak bisa melepaskan peristiwa diturunkannya Al-Quran dengan satu kesadaran bahwa Al-Quran lah (tentu menurut Sunnah Rasul Muhammad) satu-satunya doktrin yang sah untuk kita jadikan pedoman dalam menjalani hidup ini.

Saya sendiri khawatir menjalani Ramadhan kali ini dengan jiwa yang hampa. Itu sebabnya saya menulis ini, sebagai bahan kotemplasi khususnya bagi saya pribadi dan siapa saja yang membaca tulisan ini. Jangan sampai kita menjadi ‘orang-orang yang shaum namun hanya dapatkan lapar dan dahaga’ seperti yang disabdakan Rasul. Ini, tentu saja mengerikan. Menjalani Bulan Ramadhan sebagai ‘Very Important Month’ dengan jiwa yang hampa adalah kenyataan yang sangat mengerikan.

Di zaman yang semakin edan ini, kita barangkali mewarisi keresahan Muhammad bin Abdullah. Tapi kita tidak boleh lupa bahwa kita juga mewarisi jawaban atas keresahan itu: Al-Quran. Dan Bulan Ramadhan adalah momentum yang tepat untuk kembali mengaji jawaban-jawaban itu, kemudian menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Teknisnya sudah Allah firmankan dalam Surat Al-Muzzammil: bangun sepertiga, setengah, atau dua pertiga malam. Nah, di Ramadhan kali ini saya pribadi bertekad (mohon doanya ya) untuk membiasakan diri untuk melaksanakan itu (sebelumnya gagal terus, kurang istiqomah, hehe). Di sepertiga/setengah/duapertiga malam itu lah kita mengaji Al-Quran, kemudian membawa ayat-ayat yang kita kaji ke dalam Shalat Tahajjud. Sehingga Shalat kita bukan hanya sekadar gerakan-gerakan duduk berdiri sambil mulut berkomat-kamit, melainkan benar-benar khusyuk menjiwai. Jangan sampai kita menjadi orang yang Shalat Tahajud namun tidak dapat apa-apa kecuali lelah dan kantuk.

Dengan itu, barangkali kita akan menjalani Ramadhan bukan dengan jiwa yang hampa, melainkan dengan jiwa yang penuh kesadaran. Dan cita-cita bahwa di akhir Ramadhan kita akan kembali ke fitrah sangat mungkin terwujud. Karena kembali ke fitrah, adalah kembali pada satu kesadaran bahwa kita adalah mahluk Allah yang harus tunduk patuh pada-Nya, tentu dengan hidup menurut pedoman-Nya yakni Al-Quran.

Oh iya, kadar kespesialan Bulan Ramadhan kali ini tentunya meningkat bagi saya, sebab ini pertama kalinya saya menjalani Bulan Ramadhan sebagai seorang suami. Ya, ini pertama kalinya saya menjalani Ramadhan bersama seorang istri.

Semoga kita dijauhkan dari kehampaan jiwa. 🙂

~

foto oleh chalidpix devianart

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

5 thoughts on “Ramadhan dan Kehampaan Jiwa”

  1. Kalau membacannya hanya 3 paragraf pusing jg bang azhar, karna ada penjelasan di paragraf selanjutnya jd faham maksudnya :),,benarlah dibulan Romadhon kan turunnya al-Quran (2:185) sbg petunjuk u/ manusia dan pembeda (dg umat lain) ? #greatforU» bangganya mba vidia menjadi istri bang azhar 😀

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s