Jatuh, Jauh, dan Cinta

Foto: Dok. Langit Sastra
Foto: Dok. Langit Sastra

oleh @muhammadakhyar

Mari kita mulai dengan “Ada yang jatuh cinta padamu: aku”. Kalimat itu ada pada puisi (terus terang pada awalnya saya tidak cukup punya keberanian, melakukan kategori pada karya-karya di buku berjudul “ja(t)uh” ini) berjudul “Tertawan”. Puisi ini dimulai dengan baris-baris tentang sesuatu yang tak biasa, seperti: bibir yang beku, nafas yang tertahan, kelopak mata yang tak berkedip. Singkatnya momen jatuh cinta “aku” pada seorang “mu” tidak bisa dikatakan biasa, atau lebih jauh, bisa merobohkan alur hidup yang sudah ditetapkan.

Cinta seperti inilah yang benar-benar ingin dipercayai oleh Azhar. Hanya saja, meminjam Freud, keinginannya ini kemudian pada tulisan-tulisan yang lain dihalangi oleh super-ego-nya. Hasilnya jelas, pada tulisan-tulisan lain, nada cinta yang ingin disampaikan lebih dekat kepada pandangan Fromm, alih-alih cinta menurut Maslow. Fromm jelas-jelas menekankan (sejauh pemahaman saya) cinta tak bisa hanya tentang kegembiraan lepas-bebas tanpa arah, tentang darah yang “berdesir deras”, tentang sesuatu yang membuat angin “berhembus pelan”. Cinta bagi Fromm adalah sesuatu yang harus memiliki akhir, sebuah titik yang jelas di depan sana. Ujung itu diberi nama komitmen. Dalam komitmen berkelindanlah tanggung jawab yang pasti berasal dari suatu sistem hidup, suatu pandangan dunia. Dengan kata lain anda boleh tidak sengaja jatuh cinta, tetapi tidak boleh bermain-main di dalamnya. Bagi Fromm tidak ada frasa “bermain-main dengan cinta”.

Sementara pada Maslow, cinta tak boleh dijerat seperti itu. Cinta yang tertambat bukanlah cinta, tetapi hukum. Pada hukum yang perlu hanyalah kepastian. Urusan kegembiraan ataupun kebahagiaan boleh diletakkan di belakang, bahkan pada titik tertentu rasa, keadilan (yang kita anggap begitu mulia) diletakkan di prioritas berikutnya setelah kepastian hukum. Sementara itu, kegembiraan dan kebahagiaan bagi Maslow adalah variabel yang perlu diperhitungkan. Dalam pandangan ini, cinta mirip seperti laut, beriak-riak, tak berbatas.

 Saya teringat dengan sebuah puisi dari Rivai Apin:

tiada tahan

ke laut kembali, mengembara

cukup asal ada bintang di langit.  

lalu ditutup dengan:

apa di sini

batu semua!

Nada kebebasan seperti inilah yang hampir tak tampak pada tulisan-tulisan lain Azhar.

 Menariknya meskipun tak lagi mengeksplorasi cinta yang penuh kebebasan, seperti laut pada puisi Rivai Apin, Azhar ternyata pada juga menggunakan metafor laut, meskipun dengan warna yang begitu beda. Eksplorasi laut pada “Mengapa Belum Juga?” yang dilakukan Azhar begitu lain jika dibanding Asrul Sani:

            Pasir dan air seakan

            Bercampur. Awan

            tiada menutup

            mata dan hatinya rindu

            melihat laut terbentang biru

Atau Chairil Anwar yang menyebut dirinya sebagai “Kikisan laut” dan “Berdarah laut.” Tak sekadar itu, Chairil malah mengajak Dien Tamaela (mungkin juga kita) “Mari menari!”, “mari beria!”, dan “mari berlupa!”. Pada Azhar justru ada kesangsian meninggalkan pantai untuk menuju laut. Bagi Azhar pantai bukanlah garis demarkasi antara “batu semua!” dan “Sajak terakhir akan lahir dasar lautan.” tetapi pantai justru adalah sesuatu yang akan terus bersetia pada laut, yang terus dekat “Tak peduli kamu seberapa pekat,”. Saya tak melihat laut yang dilihat Azhar di sini sebagai sesuatu yang jauh di sana, sebuah metafor yang banyak dipilih oleh penyair-penyair kita di era 40-an untuk kebebasan yang tak diketahui batasnya. Pada Azhar, laut cukuplah yang berada di dekat-pantai-saja. Ada semacam kebebasan yang diberi jangkar bernama kepastian di sana.

Saya jadi teringat tentang perseteruan Sutan Takdir Alisjahbana dengan Chairil Anwar, yang menyebut hal-hal yang ditulis Chairil seperti rujak, menyegarkan tetapi tak bisa dijadikan saripati kehidupan. Pada Takdir ada semacam tujuan yang harus dicapai. Dan itu butuh aturan. Cinta, sastra, ataupun kata, semua harus punya arah dan jalur yang jelas, habis perkara. Karena itulah saya kira tokoh “Aku” yang diceritakan Azhar, tak terlalu kuat untuk memperjuangkan cintanya. Ia lebih memilih kenyataan adanya “rasa yang belum sempat terkembang menjadi kata”. Tentu saja ini terjadi, karena sudah begitulah seharusnya. Ia bahkan beberapa kali membela tipologi cinta seperti ini dengan:

Tapi percayalah, di sana matahari dan bulan dengan mesra saling bertatapan. Saling mengisi. Saling memberi dan menerima. Saling menguatkan. Mereka berkedip-kedipan. Saling menggoda. Saling beradu canda. Saling membahagia. Dan tetap, saling merindu. Dan mungkin akan selamanya seperti itu.

Atau:

 Kita tak bicara. Hanya saling menerka. Lebih tepatnya, kita saling menjajah dalam diam.

Dan pada cinta model ini, Azhar bahkan memberi nasihat kepada yang mengalaminya dengan begitu dingin, “stop. Berhentilah di sana.. Cinta bukan sekadar tentang sesuatu yang jauh dan lalu saling merindu, cinta bukanlah tentang sesuatu yang membutuhkan jarak untuk kemudian memberontak, bagi Azhar cinta adalah tentang jatuh.

Apapun penyebabnya, jatuh berarti meluncur pada sesuatu yang jelas, memiliki tujuan yang tegas. Saya kurang paham sebenarnya apakah jatuh itu adalah sebuah keadaan yang memang telah berkesudahan, ataukah jatuh adalah proses makin mendekatnya (minimal) dua entitas. Menariknya jika pikiran pertama yang kita pilih, jatuh berarti sesuatu yang telah selesai. Jatuh bukanlah hal yang perlu ditanggapi terlalu serius. Hidup tak perlu jadi begitu dilematis karena perkara-perkara seperti itu. Ada ikhtiar untuk menghindar dari ketidakpastian yang terbaca pada “Kunci”, “Kalaupun aku tahu, satu-satunya hal yang akan kulakukan adalah pura-pura tidak tahu”. Ia tidak ingin terjebak pada sebuah jatuh yang terlampau melankoli sehingga ia sampai pada simpulan “Aku takut kalau sampai kau takut”.

Lalu jika penjelasan kedua yang dipilih oleh Azhar sebagai jatuh, yang justru kemudian membuat saya makin bertanya-tanya, apakah jatuh itu selalu tentang perkara kecil menuju ke hal yang besar, sebagaimana sehari-hari kita melihat bahwa benda-lah yang menuju ke Bumi, bukan sebaliknya. Lalu pada jatuh cinta, mungkin Azhar, jika memilih definisi ini, melihat cinta adalah entitas yang begitu besar, dan kitalah yang akhirnya jatuh ke dalamnya. Pada jatuh yang seperti ini, meskipun kondisi sudah terjerembab, Azhar tetap mengingatkan kita, jangan lupa diri. Dalam diam setelah jatuh, kita ditugaskan olehnya untuk “merekam”, untuk “mengalami”. Namun, di sini juga titik problemnya,  dalam bayangan kita sesuatu yang lebih besar akan diam di tempat, yang lebih kecil-lah yang tersedot ke dalam pusaran yang besar. Kita tak pernah membayangkan bahwa dua entitas tadi saling mendekat satu sama lain, saling menarik satu sama lain, intinya jatuh adalah perkara semakin tiada jarak antar entitas tanpa perlu melihat apa yang mendatangi apa. Lalu apakah perkara cinta yang berhubungan dengan Tuhan, adalah tentang jatuh yang pertama, yang kecil yang mendekat, atau yang kedua, kedua entitas saling mendekat, saya tidak tahu, mungkin Azhar sudah membaca juga tentang masalah ini, “Bukan. Kamu bukan ‘tidak habis pikir’. Kamu justru belum mampu berpikir.”

Pada akhirnya, jatuh, cinta, jauh, sastra, kata, agak sulit kita temukan suatu jawaban tunggal padanya. Pada perkara-perkara itu kita hanya diberi tawaran kemungkinan. Mungkin kita hanya bisa tersenyum, sebagaimana yang ditawarkan Azhar sebagai “bentuk penghayatan paling dalam yang bisa kita lakukan.”

~

Tulisan ini dibuat untuk keperluan Musyawarah Buku yang diselenggarakan Komunitas Langit Sastra pada Minggu, 6 Oktober 2013. Dalam “membaca” buku Azhar Nurun Ala Ja(t)uh ini saya banyak terbantu oleh “Puisi dan Antipuisi” Goenawan Mohamad.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Jatuh, Jauh, dan Cinta”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s