Finding Ourselves (4)

………..

Tahun ini adalah tahun yang sangat seru—ini adalah bahasa positif dari ‘berat’—buat saya, ketika saya dihadapkan pada keputusan-keputusan besar dalam hidup. Saya banyak bertemu dengan hal-hal yang benar-benar baru dan mengejutkan, saya merasakan berbagai tekanan, juga ‘dipaksa berpisah’ dengan orang-orang terdekat. Yah, semua terasa berat. Hal positif dari ini semua adalah, berbagai tekanan ini mendorong semua potensi saya untuk keluar, saya menjadi begitu jujur dengan diri sendiri dan berusaha tampil apa adanya di depan banyak orang. Saya menjadi merasa begitu bodoh karena itu saya kembali banyak belajar dengan bertemu orang dan membaca buku. Dan syukurnya, saya tetap bisa menulis dan bisa menjalani semuanya dengan gembira.

Saya bertemu orang.

Camera 360

Hal paling berharga yang bisa saya petik dari bertemu (dalam hal ini berbincang/mendengarkan cerita) orang adalah sebuah kesadaran bahwa orang-orang yang kita anggap hebat itu sebenarnya adalah orang biasa juga—sama seperti kita—tapi melakukan hal-hal yang tidak biasa. Atau setidaknya, banyak bertemu orang menyadarkan saya bahwa saya tidak sendiri, dan pada titik tertentu membangun rasa syukur karena pada faktanya banyak orang yang tidak seberuntung saya.

Rene Sudarhono, seorang career coach sekaligus salah satu orang keren yang saya kagumi dalam bukunya ‘Your Job is not Your Career’ menyarankan kepada siapapun yang mau hidup dengan passion untuk ‘Meet your Rockstar’. Temuilah orang yang anda kagumi. Berbincang-bincanglah dengan orang yang kita-begitu-ingin-seperti-dia, atau bahkan lebih. Alhamdulillah, beberapa bulan lalu saya berkesempatan bertemu dan ngobrol dengan salah satu Rockstar saya, Fahd Djibran (seorang penulis muda kreatif), bahkan hingga dua kali. Perjumpaan itu juga yang menguatkan saya untuk menerbitkan buku secara self publishing pada Bulan April 2013.

Jadi, meet your rockstar as soon as possible! Bila kita suka fotografi, temui dan ngobrol lah dengan fotografer favorit kita. Bila kita senang sociopreneurship, temui orang yang mendalami bidang itu dan kita kagum padanya. Dan seterusnya. Percayalah, itu akan terasa begitu menyenangkan. (:

Saya membaca buku.

buku-buku

We are what we read. Katanya, ‘buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita. Orang-orang yang dekat dengan kita akan membentuk kepribadian kita.’ Saya tidak menyangkal dua kalimat ini, karena saya merasakannya sendiri. Belakangan ini saya lebih suka membaca buku-buku pengembangan diri, dan itu sukses membuat saya selalu berpikir positif.

Ingat betul saya di awal masa kuliah, saya tidak begitu suka membaca. Bahkan saya sempat bertanya pada seorang senior, ‘gimana sih supaya kita bisa betah baca?’. Apa yang beliau jawab? ‘mulai aja membaca tema-tema yang kita suka, nanti juga akan coba baca-baca yang lain dan jadi kebiasaan’, kurang lebih begitu. And it works. Kredo ‘mulailah dari apa yang kita suka dan apa yang kita tahu’ bahkan berlaku bukan hanya dalam urusan membaca, tapi juga ketika menulis, bicara di depan umum, memulai usaha, dan lain-lain.

‘Reading brings knowledge, writing brings wisdom’, tulis Rene dalam UltimateU2. Membaca saja tak pernah cukup. Kita perlu sebuah sarana untuk mengeksplorasi kedalaman pemikiran dan perasaan kita, dan itu bisa dilakukan dengan menulis. Kadang saya merasa, menulis adalah cara saya menasihati diri saya sendiri. Menulis seperti menciptakan ‘sosok saya’ pada bentuk lain, kemudian membiarkannya bicara apa saja tentang saya dan pada saat-saat tertentu menegur kelalaian-kelalaian saya. Tulisan itu hidup, ia bernafas, bicara, bahkan denyut nadinya bisa kita rasakan.

Say NO to Comfort Zone.

Saya teringat perkataan seorang dosen ketika saya mahasiswa baru: ‘satu-satunya cara menghilangkan rasa takut adalah menghadapinya’. Saya percaya. Saya adalah orang yang terlambat bersepeda hanya karena takut jatuh. Momen di mana saya menjadi bisa menggunakan sepeda adalah momen di mana saya tak peduli lagi dengan rasa sakit ketika jatuh, karena saya begitu ingin bisa bermain sepeda seperti teman-teman lain yang bisa bersepeda lebih dulu dari saya.

Zona nyaman adalah ilusi—tempat kita merasa hebat padahal tidak. Tempat kita merasa berarti padahal belum apa-apa. Dan pastinya, mengurung diri di zona nyaman hanya akan membuat kita menjadi orang yang begitu-begitu saja. Tidak jatuh dan tidak merasa sakit adalah zona nyaman bagi saya ketika kecil, tapi hal itu tidak akan pernah membuat saya bisa naik sepeda.

Tanpa keluar dari zona nyaman, kita tidak akan pernah tahu potensi diri kita yang sebenarnya. Kalimat ‘saya merasakan berbagai tekanan’ di awal tulisan ini, artinya sama saja dengan ‘saya sedang diberi kesempatan berkembang oleh Allah’. Jadi berbahagialah kita yang sedang memiliki masalah/ujian, sebab Allah sedang memberikan kita kesempatan kita untuk ‘naik kelas’. Ingat: Allah itu memberikan beban sesuai kemampuan kita menanggungnya. Jadi kalau masalah kita kecil atau itu-itu saja, berarti memang kapasitas kita memang kecil atau begitu-begitu saja.

Hadapi. Nikmati. Jangan pernah takut jatuh karena ketika kita mengeliminasi resiko-resiko kegagalan, sebenarnya kita juga sedang mengeliminasi kesempatan-kesempatan untuk sukses.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

16 thoughts on “Finding Ourselves (4)”

  1. kayanya tulisannya penuh isnpirasi banget ya 🙂 mengalir dan mudah dicerna dan maknanya luas jadi kalo buat saya pribadi baca tulisannya azhar sama aja belajar hal yang sebenernya ada disekeliling kita tapi ngga pernah kita liat padahal secara sederhana kita tau tapi kita kurang sadar sama hal itu 🙂 dan yang paling saya suka adalah jangan takut untuk bertanya sama orang2 yang bisa membangun inspirasi buat kita contohnya kaya azhar jadi bisa sukses menulis 🙂 semangat ya nulisnya jangan samapi putus InsyaAllah saya jadi pembaca tulisan2 anda hhe2

    1. Makasih Ratna udah baca tulisan saya. Tentang belajar dari hal-hal kecil di sekitar kita, saya percaya: kadang kita tak butuh sesuatu yang baru, hanya perlu memaknai sesuatu dengan cara yang baru. 🙂

  2. setuju sekali dengan ini ‘buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita. Orang-orang yang dekat dengan kita akan membentuk kepribadian kita.’ dan saya percaya dengan kalimat itu :”)

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s