Finding Ourselves (2)

……….

gambar dari http://activateaustin.com/
gambar dari http://activateaustin.com/

Setelah saya mem-posting tulisan tentang Finding Ourselves beberapa hari lalu dan mendapat respon yang cukup positif, saya jadi terpacu untuk sharing tentang ini secara lebih dalam. Meski tiap orang punya jalan dan cara masing-masing dalam ‘menemukan dirinya’, saya yakin ada pola-pola serupa—dari pengalaman saya pribadi dan pengalaman orang yang saya dapat dari berbagai sumber—yang bisa kita ambil hikmahnya, bahkan bisa jadi semacam panduan bagi siapa saja yang merasa belum menemukan dirinya.

Lima belas tahun yang lalu, pertanyaan tentang cita-cita adalah pertanyaan yang paling saya senangi. Setiap pertanyaan itu hadir, saya dengan lantang dan bangga akan selalu menjawab: ‘mau jadi guru.’ Pertanyaan hampir selalu disusul dengan kata tanya semacam ‘kenapa’ atau ‘biar apa’, kemudian saya akan jawab: ‘karena bapak sama ibu, dua-duanya guru’. Ya, saya selalu bangga karena saya punya cita-cita ingin menjadi guru, saat kebanyakan teman ingin menjadi dokter, polisi atau pilot. Dua belas tahun kemudian, entah bagaimana caranya pertanyaan tentang cita-cita justru berubah jadi momok—yang tentu saja menyeramkan.

Ya, tiga tahun yang lalu, saya benci pertanyaan tentang cita-cita: apa yang akan kamu lakukan lima tahun ke depan, sepuluh tahun ke depan, akan dikenang sebagai apa ketika kau mati, dan pertanyaan-pertanyaan serupa—lebih tepatnya saya bingung harus menjawab apa. Saya disorientasi. Cita-cita untuk menjadi guru yang saya pelihara sejak SD hingga saya SMA (ketika SMA saya berencana masuk Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung) harus dihadapkan pada sebuah realitas bahwa saya sedang berkuliah di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia dengan Program Studi Ilmu Gizi. Ini diperparah dengan gairah saya yang hampir tidak ada ketika belajar tentang gizi.

Saat itu juga saya disadarkan oleh kalimat di kover buku Change! (mahakarya Rhenald Kasali): ‘tak peduli berapa jauh jalan salah yang telah anda ambil, segera putar arah sekarang juga’. Kalimat itu berhasil membuat saya berpikir untuk segera pindah jurusan—pindah kampus kalau perlu. Tapi lantas saya berpikir, apakah ini jalan yang salah? Bukankah ada hal-hal yang tak baik menurut kita, padahal itu baik menurut Allah—juga sebaliknya?

Maka saya merenung, di dalam kepala saya, saya membuat list apa saja hal indah yang hadir bersama peristiwa ini dan list tentang apa saja yang membuat ini tidak menyenangkan. Hasilnya: banyak hal yang lupa saya syukuri, bahwa betapa banyak hal keren yang saya temukan di sini dan mungkin tidak akan ditemukan di tempat lain semisal teman-teman yang apa adanya dan luar biasa, senior-senior yang ramah, lingkungan yang kondusif untuk meningkatkan spiritualitas, orang-orang hebat yang bisa ditemui/dihubungi kapan saja, dan banyak hal lain. Adapun hal-hal yang tidak menyenangkan, ternyata menjadi-tidak-menyenangkannya mereka adalah karena sikap negatif saya, jadi ini cuma soal cara pandang.

Saya bertahan. Dan salah satu cara saya untuk bisa menjalaninya dengan bahagia adalah mencari apa-apa yang membuat saya merasa berarti, maka saya menenggelamkan diri dalam dunia organisasi—yang kemudian justru saya keasyikan berenang di dalamnya.

Pencarian semakin seru ketika saya dipertemukan dengan seorang mentor yang ‘memaksa’ saya untuk berpikir kembali tentang hidup, terutama tentang hakikat penciptaan manusia. Buat apa kita dicipta? Ibadah, hidup mengabdi menurut ajaran Allah. Kita dicipta untuk menjadi abdi-abdi Allah, bukan budak uang, seks, tahta, dan berbagai nafsu dunia lainnya. Saya makin bersyukur, dan berpegang pada kesimpulan: tak masalah siapa saya, di mana saya, gelar yang saya punya, karena pada akhirnya semua itu hanyalah sarana untuk beribadah pada Allah.

Pencarian tak berhenti di sana. Kalau hidup adalah untuk beribadah pada Allah, maka saya pikir tugas besar saya adalah mencari tahu apa saja yang saya punya dan bisa lakukan untuk menjadi seberarti mungkin. Karena saya percaya tiap orang diciptakan untuk melakukan sesuatu, bukan melakukan semuanya. ‘Sesuatu’ itulah yang saya cari.

Saya merasa berarti ketika ikut organisasi dan melakukan sesuatu di sana. Tapi apakah itu cukup? Ternyata belum. Harusnya ada hal seru lain yang bisa saya lakukan, yang membuat saya menjadi lebih berarti. Harusnya ada hal bermanfaat lain yang bisa saya lakukan, yang membuat saya merasa kuat, merasa senang, merasakan berharganya hidup, dan ingin melakukan dan mengulanginya terus menerus—ketika itu saya belum terlalu kenal istilah passion.

bersambung ke Finding Ourselves (3)

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

26 thoughts on “Finding Ourselves (2)”

  1. mencoba bertahan, terkadang kita harus putar otak bagaimana mengalahkan ego dengan menunda mimpi untuk menyelesaikan sebuah awal yang sudah berjalan tanpa meninggalkan mimpi itu sendiri. Bertahan= belajar menikmati konsekuensi logis atas pilihan2 kita:)

  2. Untuk masalah ketiadaan passion di gizi, terinspirasi dari kata-kata dosen saya, bahwa setiap hal punya kelezatannya tersendiri. Kenapa ga coba mencari kelezatan itu? Temukan. Nikmati. Syukuri 🙂

  3. ” apakah ini jalan yang salah? Bukankah ada hal-hal yang tak baik menurut kita, padahal itu baik menurut Allah—juga sebaliknya?”

    kata-kata ini seperti tamparan halus buat saya..
    terjebak dalam suatu yg tak kita sukai memng tidak mengenakkan setidaknya bgtu yg saya rasakan..sma, sy ingin jadi guru bahasa asing dan keliling indonesia utk mengajar, tpi terhalang ijin ortu, kemudian ingin msuk fak. hukum/ ilmu politik. lgi2 tak di ijinkan. akhirnya, tanpa pikir panjang ketika ada snmpn undangan sy asal piih jurusan, ‘toh belum tentu luus” pikir sy wktu itu tpi. Tpi Tuhan berkata lain dan sy harus
    berhadapan dgn kenyataan : kuliah di Fakultas Kedokteran hewan yg bahkan tidak sy sukai, rasanya ingin cepat2 pindah dan keluar dr kampus ini..
    tapi, satu hal yg membuat sy bertahan, itu keluarga besar saya di organisasi yg sy ikuti..selalu mencoba mjd berarti di organisasi itu mjd hiburan dan kekuatan sendiri utk bertahan..namun terkadang, rasa hampa, malas, dan tidak bergairah menghadapi kuliah2 itu sering menerpa, seperti bebrapa wktu ini. saat2 uts dan seringkali tergoda utk tak belajar. ‘buat apa?” itu pikir saya.
    iseng2 mencri hiburan, sy menemukan tulisan ini..
    membacanya serasa mendapat tamparan halus..

    # maaf comentnya panjang dan tidak penting kak..
    tetapi sungguh ingin sekali berterimakasih pada kakak krna telah menulis tulisan ini..
    menemukan tulisan ini semacam angin segar buat saya..
    terimakasih :))
    sy percaya sy hanyalah 1 dari ribuan org lain yg terinspirasi dr tulisan ini 🙂 semoga Allah selalu memudahkan lngkah kakak, berkarya untuk menginspirasi ribuan bahkan jutaan orang di luar sana..

    1. Saya percaya bahwa ‘Sesuatu terjadi untuk sebuah alasan’. Kadang tugas kita hanya percaya bahwa itu yang terbaik dan menjalaninya sebaik mungkin.

      Syukur kalau bermanfaat, sebar seluas-luasnya. (:

  4. “apakah ini jalan yang salah? Bukankah ada hal-hal yang tak baik menurut kita, padahal itu baik menurut Allah—juga sebaliknya?”

    di tahun ketiga di teknik sipil brawijaya, saya masih berpikir, “kalau saja saya keterima di arsitektur ITB mungkin saya akan lebih berprestasi dan mendapat IP baik serta membahagiakan ummi abi saya karena masuk sesuai kegemaran saya yaitu menggambar dengan imajinasi, tidak harus terjebak dengan pilihan kedua snmptn tulis 2011”
    untuk apa saya disini?tujuan dan cita-cita apa?passion saya apa?
    tapi,saya yakin pasti ada alasannya, aktif di organisasi rohis fakultas, mamupun ngaji di luar, di bem teknik, dan di lembaga pers mahasiswa membuat banyak ‘arti’, yaitu belajar keikhlasan dan rasa syukur. banyak yang bilang juga kepada saya, aktif berorganisasi, menjadi aktivis semacam pelarian buat saya. entahlah.

    membaca tulisan akhi, membuat saya menyadari saya tidak sendiri, masih ada orang lain yang hampir mengalami kejadian seperti saya, korban jurusan. dan saya beruntung saya mempunyai abi ummi yang selalu memberikan support untuk selalu yakin,semangat dan bahagia. kata abi saya, senang karena kebahagiaan orang lain adalah iman yang sangat luar biasa.
    wallahu’alam

  5. setelah membaca tulisan k azhar sy jd semakin yakin, mendekat terus mendekat terus kepada sang pencipta, karena dgn begitu kt akan semakin yakin segala sunatullah yg dirancangnya, dengan mensyukurinya semua akan terasa indah…

  6. “Setiap pertanyaan itu hadir, saya dengan lantang dan bangga akan selalu menjawab: ‘mau jadi guru.’ Pertanyaan hampir selalu disusul dengan kata tanya semacam ‘kenapa’ atau ‘biar apa’, kemudian saya akan jawab: ‘karena bapak sama ibu, dua-duanya guru’.”.

    ini persis sekali dengan saya saat itu, dan well sekarang saya sudah berpijak di UPI menjadi calon guru. tapi entah kenapa? saya merasa bimbang. ragu untuk kedepan nya. orang bilang orang tua sukses, ketika anaknya lebih tinggi dari mereka. dan jika saya menjadi guru lalu dimana letak lebihnya.

    tapi ini tulisan keren, setidaknya saya masih beruntung. barangkali bersyukur itu modal utama. terimakasih :’)

  7. Good post kak. Enggak mungkirin kalo hal itu juga saya alami. Meski enggak sejalan dengan apa yang didamba tapi Alloh tau yang pas buat hambaNya. Terlebih apa itu lebih mendekatkan atau menjauhkan.

  8. Kak, saya tertarik dengan ilmu gizi bahkan bercita-cita bakalan presentasi internasional bidang gizi, menyelesaikan permasalahan seputar gizi dan ‘menyuntikkan’ tambahan gizi bagi seluruh anak di dunia, tapi kok di tulisan kakak kayaknya belajar gizi itu kurang menyenangkan? maaf, ini cuma sebagai bahan pertimbangan aja kak sebelum akhirnya hal yang saya pikirkan seputar gizi justru berbalik dan menjadi nightmare sendiri buat saya. Makasih sebelumnya.

  9. setelah om Andrea Hirata, kak Azhar mungkin adalah ‘my secondman obsession’, wkwkwk
    saya tergugah kembali, terlebih ketika menemukan kata yang kakak cipta ‘ Dan salah satu cara saya untuk bisa menjalaninya dengan bahagia adalah mencari apa-apa yang membuat saya merasa berarti,’
    dan ini benar” merubah pola pikir saya terhadap cara memandang pelajaran matematika dan kimia , hehe….

  10. Ini tamparan buat saya. Saya harus sampai menangis dengan keegoan diri. Menjalani sesuatu yg bukan kehendak itu tak mudah, ada pertentangan dalam hati, apakah ini yang terbaik dari Allah, atau harus lari mengikuti passion dalam diri. Kadang ini yg membuat saya termenung apa yg harus saya lakukan. Tetapi saya lebih memilih untuk bertahan dengan sabar. Semoga ini yang terbaik bagi saya menurut Allah.

    Btw, bagaimana kak azhar bisa masuk gizi?

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s