Finding Ourselves

Sudah lama rasanya tidak update blog, tulisan terakhir berjudul Hakikat saya posting pada 5 Oktober, itu artinya sudah tiga minggu yang lalu.  Selama tiga minggu itu, ada banyak sekali hal yang saya saksikan dan alami, yang saya pikir penting untuk saya rapikan dan bagikan melalui blog ini. Ya, malam ini saya tidak ingin berpuisi atau menulis prosa penuh metafora—hanya bercerita.

Ada satu kalimat bijak yang selalu saya percaya, bahwa apa yang membuat ‘kita beberapa tahun ke depan’ berbeda dengan ‘kita hari ini’ ada dua: orang-orang yang kita temui dan buku-buku yang kita baca. Itu pula yang ingin saya bagikan lewat tulisan ini, terutama pada poin ‘buku yang kita baca’.

Beberapa waktu lalu saya bersama sahabat sekaligus Chief Distribution Officer saya di Foodmorning! (insyaallah tidak lama lagi saya akan berbagi cerita tentang ini), Ibnu, mengubek-ngubek Gramedia dan TM Bookstore untuk berburu buku-buku Guy Kawasaki. Setelah sebelumnya membaca The Art of Start (salah satu buku Guy Kawasaki), kami sepakat bahwa Guy Kawasaki adalah salah satu orang keren yang diciptakan Allah di muka bumi ini. Perburuan pun kami lakukan, hasilnya, kami membawa pulang dua buah buku Guy Kawasaki untuk inventaris (dan sebenarnya panduan) Foodmorning!, sebuah perusahaan yang notabenenya baru dibangun dan membutuhkan banyak referensi. Dua buah buku tersebut berjudul ‘Reality Check’ dan ‘Enchancement’.

tumblr_muns43QODF1rmrfbgo1_500

‘Reality Check’ lebih banyak bercerita tentang bagaimana mengelola dan memaknai sebuah perusahaan, mulai dari membangun dari nol sampai bagaiamana bisa berkompetisi dengan yang lain. Bagi saya pribadi, yang lebih menarik adalah ‘Enchancement’, buku yang ditulis Guy Kawasaki di tahun 2011 ini bercerita tentang seni mengubah hati, pikiran, dan tindakan. Harus saya akui, buku ini banyak mengubah cara saya dalam memandang dan menjalani hidup. Saya tidak akan meresensi atau menuliskan resume buku ini, saya hanya ingin menyampaikan beberapa poin secara random yang saya harap bisa bermanfaat dan memperkaya cara kita dalam memandang hidup.

Mengenal Baik Diri Kita

“Ia yang mengenal pihak lain (musuh) dan mengenal dirinya sendiri, tidak akan dikalahkan dalam seratus pertempuran. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) tetapi mengenal dirinya sendiri memiliki suatu peluang yang seimbang untuk menang atau kalah. Ia yang tidak mengenal pihak lain (musuh) dan dirinya sendiri cenderung kalah dalam setiap pertempuran.” Sun Tzu dalam The Art of War

Suatu pagi saya pernah kultwit tentang fenomena drop out yang dialami orang-orang hebat semacam Steve Jobs (Apple), Mark Zuckerberg (Facebook), Bill Gates (Microsoft) dan Matt Mullenweg (WordPress). Dalam salah satu twit saya bertanya  mengapa fenomena semacam ini bisa terjadi, dan ada salah satu jawaban yang menarik datang dari @wahyuawaludin. Katanya, itu terjadi sebab orang-orang tersebut sudah tahu apa yang mereka mau, sehingga barangkali bagi mereka melanjutkan kuliah hanya akan ‘membuang’ banyak waktu dan kesempatan untuk menciptakan hal-hal yang keren. Frase ‘tahu yang dimau’, barangkali frase yang terdengar sederhana, tapi coba sejenak kita tengok sekitar: betapa banyak orang di muka bumi ini yang hidup sekadar menjalani rutinitas dan terjebak dalam siklus lahir-sekolah-bekerja-kawin-kemudian mati tanpa arti. Mereka tidak pernah benar-benar tahu dan menikmati apa yang mereka kerjakan. Menyedihkan.

Frase ‘tahu yang dimau’, meskipun terdengar sangat sederhana ternyata bukan sebuah kondisi yang mudah untuk kita capai—setidaknya itu yang saya rasakan. Proses perjalanan hidup saya menemukan gairah (barangkali kita lebih familiar dengan istilah passion) dalam dunia sastra dan marketing misal, adalah proses dinamis yang bahkan sampai sekarang belum berhenti. Tapi percayalah, ketika kita menemukannya, menjalaninya, hidup seketika menjadi taman bermain yang indah dan menyenangkan, yang selalu kita syukuri kehadirannya. Karena di sana kita menjadi begitu berarti—percayalah, tak seorang pun yang senang ketika menyadari dirinya tak berarti.

Kita perlu mengenal baik diri kita, untuk kemudian menganggapnya menjadi bagian dari kita, atau menganggapnya musuh yang perlu kita taklukkan. Kita perlu mengenal apa-apa yang membuat kita merasa kuat, apa-apa yang membuat kita begitu lemah. Kita perlu mengenal jelas apa tujuan hidup kita, apa yang membuat kita terus mempertahankan hidup, dan berbagai hal yang berkaitan erat dengan diri kita sampai hal-hal yang detail: model rambut apa yang cocok dengan bentuk wajah kita, warna baju apa yang cocok dengan warna kulit kita, dan lain-lain.

Pengenalan yang baik terhadap diri kita akan membuat kita tahu apa yang kita mau, tahu bagaimana melakukannya, dan tahu bagaimana mengajak orang lain dan semesta untuk membantu kita mewujudkannya.

Berpikir Positif

Berbagai dinamika hidup yang saya jalani—beserta berbagai interaksi yang terjadi di dalamnya—mengantarkan saya pada sebuah keyakinan bahwa ‘semua orang itu baik sampai mereka terbukti jahat’.

Sikap positif kita dalam menilai orang lain, akan membuat kita mudah masuk ke dalam ruang-ruang personal kemudian menemukan hal unik yang menarik di dalamnya. Ingat, pada prinsipnya, setiap orang selalu lebih hebat dari kita dalam satu hal. Sikap positif kita dalam menilai orang lain, juga akan ‘memaksa’ orang lain untuk bersikap positif pada kita. Percaya Law of Attraction? Saya sangat.

Sampaikan Ide/Nilai dengan Kisah

Kegagalan kita dalam mewujudkan mimpi, kadang bukan karena ketakberdayaan kita dalam menghasilkan ide-ide brilian, melainkan karena kegagapan kita untuk menyampaikannya pada orang lain. Akhirnya ide ini hanya berputar-putar di kepala, tak pernah diketahui orang lain sehingga pada akhirnya tak pernah terwujud—tak ada satupun manusia yang bisa mewujudkan mimpinya sendirian. Menyampaikan ide dengan berkisah (storytelling), adalah metode yang—menurut pengalaman saya—cukup efektif.

keynote4_2

Misal, cara untuk menyampaikan alasan ‘kenapa saya suka menulis’ dengan berkata bahwa ‘saya ingin menjadi orang yang bermanfaat dan menginspirasi’, tak lebih kuat dari cerita: ‘banyak hal dalam hidup saya yang berubah secara signifikan ke arah yang lebih baik ketika saya membaca buku, oleh sebab itu penting bagi saya membalas jasa berharga para penulis. Dan saya rasa, cara terbaik membalas jasa para penulis adalah dengan menulis juga.’ Story membuat orang lebih mudah mengingat sebuah ide, dan membantu orang-orang untuk mudah juga menyampaikannya, sehingga ide kita dengan mudah dan cepat bisa berkesan dan dipahami oleh banyak orang. Untuk storytelling ini, saya kira kita bisa belajar banyak pada Steve Jobs.

Sekian hal random yang ingin saya bagikan, semoga di lain kesempatan saya bisa berbagi hal random lain. (:

bersambung ke Finding Ourselves (2)

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

10 thoughts on “Finding Ourselves”

  1. terimakasih..
    membaca tulisan kakak, membaca tulisan kakak membuat saya menemukan referensi buku yang bagus utk menambah koleksi bacaan..
    jadi penasaran dg bukunya guy kawasaki.
    # sepertinya bgus utk refreshing di tengah-tengah materi uts..
    🙂

  2. ditengah kebuntuan menuliskan tugas akhir, menemukan secarik tulisan random ini dan semacam mendapatkan pencerahan, makasih ya 🙂

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s