Hakikat

Dalam sujud-sujud malam itu kamu mengadu, seketika luruh semua jeruji yang selama ini menjebak dirimu tetap termangu di sana. Dunia tak pernah jadi penjara bagi jiwa-jiwa yang merdeka. Sayangnya, hatimu terlanjur lelah mendaki, maka biarkan saja ia jatuh. Ia akan sampai pada pengharapannya yang terdalam, bahwa tak ada yang lebih menenangkan dalam hidup selain ketakberdayaan yang diridhai-Nya: ketakberdayaan yang berjumpa mesra dengan kemahakuasaan-Nya pada sepertiga malam yang syahdu.

Masa lalu yang selalu kau sesali, masa depan yang terlalu kau khawatirkan, dan apa-apa yang sedang kau jalani dengan rasa ragu, memang sudah tak pantas lagi untuk terus kau dekap. Lihatlah, lenganmu terlalu hangat dan indah bila sekadar kau gunakan untuk memeluk ketakutan-ketakutan.

Kini maukah kau memejamkan mata, lalu dengarkan bisikan hati yang telah lama kau abaikan?

  Apa yang sebenarnya kau cari?

  Apa yang sebenarnya kau perjuangkan?

  Apa yang membuatmu bertahan untuk terus memelihara nafas?

  Ke mana langkah kakimu menuju?

  Untuk apa kau ada? 

  Untuk…

  apa

  kau

  diciptakan?

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

16 thoughts on “Hakikat”

  1. mas ini ngena sekali loh tulisannya -_-
    kita suka merasa terbebani karena terlalu menyesali yang telah lalu. khawatir dengan masa depan dan ragu sama yang dijalani sekarang. Padahal kalau diingat-ingat lagi, semua sudah ada yang ngatur dan memang sudah diatur.
    maturnuwun, tulisannya mencerahkan hehehe 🙂

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s