Luka

Awalnya jumpa, lalu luka. Kita sama sadar, sama merasa, tapi diam-diam sepakat untuk tak menyembuhkannya sebab perih itu begitu kita nikmati. Sebab juga, katanya, pelangi hanya akan hadir setelah gerimis usai.

Konsekuensi dari kesemuanya adalah kini kita hidup berkawan rindu. Dalam bisu. Dalam keterdiaman. Dalam tepukan-tepukan sebelah tangan. Dan seindah-indah rindu, tampaknya tetap saja tak pernah lebih indah dari dua wajah yang bertatapan penuh makna—ketika dua pasang mata yang menyala dan bertemu sudah cukup membuat sepaket manusia saling mengerti.

Kita, apa adanya, dan bersepakat untuk membiarkan luka ini sembuh dengan sendirinya—bersama waktu, dalam penantian yang lugu.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

11 thoughts on “Luka”

  1. Reblogged this on My Imagination My Fiction and commented:
    Dan seindah-indah rindu, tampaknya tetap saja tak pernah lebih indah dari dua wajah yang bertatapan penuh makna—ketika dua pasang mata yang menyala dan bertemu sudah cukup membuat sepaket manusia saling mengerti.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s