Kembali ke Fitrah

“Semoga kita kembali ke fitrah, semoga kita kembali ke fitrah.”  Doa seberat itu diucapkan tanpa desah—tanpa air mata. Bagaimana bisa?

Awalnya dicipta alam semesta. Lalu manusia sebagai khalifah, abdi Allah yang diciptakan untuk memenej bumi ini. Lalu ilmu-Nya sebagai pedoman bagi manusia yang tentu sesuai dengan masa masing-masing: mulai dari Al-Asma, Zabur, Taurat, Suhuf Ula, Injil, dan hingga kini Al-Quran. Jadi itulah fitrah kita: menjadi khalifah yang hidup dengan pedoman-Nya.

Pada hakikatnya setiap ciptaan Allah itu athaina tha’iin, yaitu tunduk patuh pada ketentuan Allah. Matahari yang terbit dari timur dan terbenam di barat, bumi si planet biru yang berotasi dan berevolusi, bahkan darah dalam nadi kita yang terus mengalir meski tak kita perintah. Jadi itulah fitrah kita: menjadi mahluk yang athaina tha’iin, sehingga ketika kita sedang bermaksiat sebenarnya kita sedang memerkosa tubuh kita sendiri—yang pada hakikatnya tunduk patuh pada ketentuan Allah. Ketika kita mencuri kita sedang memerkosa tangan kita, ketika mengumpat kita memerkosa lidah dan bibir kita, dan betapa banyak pemerkosaan-pemerkosaan keji lainnya.

Itulah fitrah kita: abdi Allah yang athaina tha’iin, yang hidup sesuai ajaran-Nya. Tapi itulah juga manusia, Allah memang menguji kita dengan kemampuan untuk memilih. Dalam surat Al-Balad ayat 10 Allah berfirman: ‘Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan kejahatan)’. ‘Sungguh, kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus’, firman Allah dalam surat Al-Insan ayat 3, ‘ada yang bersyukur ada pula yang kufur.’

Yah, sebagian kita syukur (memilih jalan yang baik sesuai dengan pedoman-Nya: Al-Quran yang dipraktikkan Rasulullah), sebagian kita kufur (memilih jalan yang buruk, hidup semau-mau). Sementara fitrah kita adalah athaina tha’iin, sementara fitrah kita adalah abdi allah yang hidup syukur—fitrah kita adalah memilih jalan yang baik.

Jadi kembali ke fitrah adalah: kembali menyadari bahwa diri ini adalah mahluk yang dicipta untuk hidup mengabdi menurut ajaran Allah (Az-Zariyat: 56). Menjadi abdi Allah yang taat, bukan abdi harta, bukan abdi seks, bukan abdi tahta, bukan abdi-abdi lain apapun.

Jadi kembali ke fitrah adalah: kembali hidup berpedomankan Al-Quran, bukan isme-isme lain apapun. Dan ‘jauh panggang dari api’ rasanya, bila kita ingin hidup berpedomankan Al-Quran sementara ia tidak pernah kita baca, tidak pernah kita kaji—jangan lagi bicara mengamalkannya.

Barangkali memang sudah terlalu jauh kita berjalan di track yang tidak sesuai dengan hakikat penciptaan kita. Sudah terlalu lama kita berjalan di jalan yang—mungkin terasa ringan dan menyenangkan—padahal membawa kita pada kehidupan jahannam. Jadi kembalilah, belok kanan, belok kiri, putar arah, atau lakukan gerakan apapun untuk kembali berjalan di jalan yang seharusnya.

“Semoga kita kembali ke fitrah, semoga kita kembali ke fitrah.” Semoga kita bisa lebih khusyuk dalam membaca doa ini.

~

Photo by mashat DevianArt

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s