Mengartikan Senja

Aku selalu berpikir apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Ia hadir sejenak membawa keindahan, untuk kemudian pergi menyisakan ketiadaan.

Apakah senja ada, untuk sekadar menjadi metaforabahwa di muka bumi ini segala bentuk keindahan yang kita kagumi selalu fana? Bahwa dalam setiap kata hadir selalu terkandung janin perpisahan  yang bisa lahir kapan saja tanpa pernah kita tahu persis waktunya?

Adakah yang tahu apa yang dimaksudkan Tuhan ketika menciptakan senja?

Kita menantinya, menikmati pesonanya, tapi pada akhirnya kita selalu terperangkap oleh gelap yang mengikutinya.

Aku tak pernah tahu pasti apa yang dipikirkan Tuhan ketika menciptakan senja.

Satu hal yang aku tahu, darinya aku belajar bahwa perpisahansedramatis apapun ia berlangsungtak selamanya getir. Kadang ia berjalan begitu manis. Tapi perpisahan, semanis apapun ia berlangsung, selapang apapun hati kita menerimanya, tetap saja menyisakan kehampaan.

Sebab itu barangkali Jalaluddin Rumi menghibur mereka yang mengalami tragedi keterpisahan lewat potongan sajaknya. Keterpisahan ini, kata Rumi, hanyalah tipu daya waktu. 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

6 thoughts on “Mengartikan Senja”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s