Bukan Apa-apa

Dapatkah kita membayangkan malam-malam kesepian macam apa yang dihadapi Muhammad setelah kedua orang yang amat dicintai dan mencintainya pergi?

Sanggupkah kita membayangkan kepedihan macam apa yang mendera Muhammad ketika di masa-masa dakwah yang sulit, justru ia ditinggalkan paman dan istri tercintanya—yang ketika masih hidup selalu ada untuk melindungi dan menguatkannya?

Barangkali di sana ada ketertekanan, kesendirian, juga kehilangan yang amat dalam. Sampai-sampai para sejarawan menyebut tahun wafat paman dan istri tercintanya itu sebagai Amul Huzn—Tahun Kesedihan.

Saat itulah Allah melalui Malaikat-Nya menghibur Muhammad, membawa beliau ‘jalan-jalan’, untuk melihat kebesaran-Nya. Ditunjukkan-Nya berbagai kebesaran, seolah mengingatkan beliau: “Hey Muhammad, lihatlah, betapa kecilnya masalah yang tengah kau hadapi itu.” Dibawa-Nya Muhammad melintasi dimensi ruang dan waktu, diperlihatkan kebesaran-kebesaran-Nya. Oh, betapa kecil Muhammad, dunia, dan seisinya.

Lalu bagaimana dengan diri kita, pernahkah kita menghadapi masalah yang besar? Pernahkah kita merasakan ketertekanan yang sangat, yang bahkan ketika kita mampu menyembunyikannya di depan banyak manusia, tetap saja membuat kita diam-diam meneteskan air mata kala sendiri? Pernahkah kita merasa begitu takut, sendiri, sementara satu-satunya yang kita punya hanyalah sebuah ketakberdayaan?

Dalam ketertekanan itu, luangkanlah sejenak waktumu. Pergilah keluar untuk ‘jalan-jalan’. Tak perlu jauh-jauh. Pergilah ke pasar, terminal, atau bantaran rel menuju Tanah Abang. Bila kau tak punya waktu untuk itu, masuklah sesekali ke dalam kereta ekonomi di siang hari. Lihatlah: betapa banyak manusia lain yang punya masalah yang tak lebih kecil dari yang tengah kita rasakan—kesendirian, ketakutan, dan ketakberdayaan kita ternyata belum apa-apa.

Lihatlah, kemudian rasakan. Pelan-pelan kita akan sadar: betapa masalah yang kita hadapi belum seberapa. Betapa selama ini kita begitu terampil mendramatisasi. Betapa masih banyak alasan bagi kita untuk bersyukur.

Momentum peringatan Isra Mi’raj ini—terlepas dari segala perdebatan tentang kapan sebenarnya ia berlangsung—, semoga menjadi pengingat bagi kita: betapa Allah dengan pedoman hidup yang diturunkan-Nya begitu menyayangi kita. Betapa kita bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

3 thoughts on “Bukan Apa-apa”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s