Berbahagialah, Saudaraku!

Malam ini, atau lebih tepatnya tengah malam ini, aku ingin sekali bercerita. Tentang apa-apa yang entah bagaimana caranya begitu membuatku bahagia. Pernahkah kau merasa demikian: ada bahagia yang tetiba membuncah dalam dada, seperti padang rumput di kemarau panjang yang tiba-tiba diserang hujan. Ada tunas-tunas kehidupan yang tumbuh di sana. Ada kedamaian yang tak tersampaikan di sana. Saat semua rahasia menjadi obrolan ringan warung kopi, atau saat rahasia bahkan tak pantas lagi untuk disebut rahasia: adakah lagi yang perlu ditutup-tutupi oleh dua hati yang saling mengerti?

Dulu ketika aku mahasiswa baru, aku diceritakan oleh seorang senior tentang seorang mahasiswa baru yang begitu berani, membela puluhan pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya pada sebuah pintu bernama: Barel. Ada decak kagum, tak percaya, dan barangkali iri yang sulit dimengerti.

Ketika aku tingkat dua, dalam beberapa kesempatan aksi aku melihat seorang teman yang juga mahasiswa tingkat dua, dengan gagahnya berorasi di depan massa aksi. Rupanya bukan itu saja, seorang teman ini juga begitu berani untuk bertemu dan melobi birokrat bahkan pejabat pemerintah sekalipun.

Ketika aku tingkat tiga dan berkesempatan memimpin lembaga eksekutif, aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang juga memimpin lembaga eksekutif, yang di setiap forum selalu vokal dan punya cara berpikir yang berbeda: strategis, rasional, dan menggebu-gebu. Sampai ada saat-saat di beberapa forum dimana keadaan begitu menekan, diam-diam hati ini bicara: “ah, untung ada dia…”. Begitu aku menaruh harap dan percaya padanya.

Dan mahasiswa baru, mahasiswa tingkat dua, juga pemimpin lembaga eksekutif itu adalah orang yang sama yang malam ini telah menarik semua beban dalam hati, lalu membuangnya jauh entah kemana. Orang yang telah memberikan banyak makna dan pelajaran tentang kehidupan, keluarga, dan perjuangan. Orang yang malam ini telah hadir utuh dengan ‘hebat-hebat’ yang dulu selalu menyertainya. Orang yang malam ini telah memaksa diri ini untuk berkata tegas pada dunia: INI BARU ALI ABDILLAH!

Ya, cerita ini adalah cerita tentang Ali Abdillah, entah sebagai bentuk terima kasih atau ucapan selamat: bahwa api itu kini telah menyala kembali, biarkan ia berkobar dan mengusir segala ketakutan kita. Tak ada yang pantas dilakukan terhadap sebuah kepasrahan selain membakarnya sampai sirna. Lalu kita akan membuang abunya ke samudera terjauh yang bahkan tak pernah kita percaya dapat kita jangkau, agar ia tak lagi membayangi segala langkah kebaikan yang kita lakukan.

Berjanjilah, jangan pernah biarkan sejarah hidup kita ditulis oleh tangan orang lain. Diri kitalah yang paling berhak menulis sejarah hidup kita sendiri.

Dan yang paling penting: berbahagialah! Beban berat ini diletakkan di pundakmu tentu karena Allah (Yang Maha Tahu) itu tahu bahwa hanya kau yang pantas dan sanggup menanggung beban ini. Berbahagialah! Karena kau telah menjadi orang kepercayaan Allah, untuk memimpin kami, untuk memimpin keluarga yang tentu sangat engkau cintai. Berbahagialah!

aliazhar

Teruntuk Ali Abdillah, saudaraku yang malam ini telah bersedia menjadi teman curhat. Saudaraku yang malam ini telah menjadi Ali Abdillah yang sejak dulu selalu aku kagumi. Saudaraku yang tak ada kalimat lain yang lebih indah untuk dikatakan kepadanya selain: Ana uhibbuka fillah. Berbahagialah! 🙂 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Berbahagialah, Saudaraku!”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s