Tragedi Regina dan Ketidakjelasan Regulasi Rokok Indonesia

(Sekilas Rekam Jejak Aksi Tolak WTA di JCC, 19 September 2012)

Oleh Azhar Nurun Ala, Ketua BEM FKM UI

Image

“Waktu itu saya berdiri persis di belakang Regina. Saya dan Regina tahu betul gapura itu mau rubuh. Saya berlindung, tapi saya heran, Regina malah berusaha meindungi teman-teman di depan dengan menelungkupkan badannya ke arah depan. Akhirnya regina yang tertimpa terutama di bagian lehernya.”  Barangkali secara redaksional ada beberapa kalimat yang kurang sesuai, tapi kira-kira begitu penuturan Niken, mahasiswi FKM UI 2012 yang ketika kejadian berada tepat di belakang regina.

Seketika nafas tertahan, saya masih belum percaya. Begitukah? Demikiankah yang berlangsung? Namun begitu, seberapa tinggi pun kadar keraguan saya tetap saja tak mampu menyangkal sebuah kenyataan bahwa itulah memang yang terjadi. Regina adalah ksatria. Satu dari segelintir orang di Indonesia yang rela terluka demi membebaskan bangsa Indonesia dari candu nikotin dan pengaruh mahaburuk rokok.

Kalau ada yang bilang gerakan mahasiswa bisa diibaratkan seperti gumpalan bola salju yang makin lama makin besar, barangkali itulah yang terjadi. Saya ingat betul ketika beberapa minggu yang lalu BEM FKM UI diundang oleh Gempita (Gerakan Mahasiswa Indonesia untuk Pengendalian tembakau) ke Komnas Anak untuk rapat dalam rangka menyikapi World Tobacco Asia. Saya secara pribadi baru tahu sejak saat itu bahwa ada event seperti ini di Indonesia. Kegeraman makin menjadi ketika saya membuka website resmi WTA dan tak perlu berpikir dua kali untuk bilang: Ini Penghinaan!

Menyadari dengan kuat bahwa isu ini bukan isu yang familiar di mahasiswa UI, eskalasi isu dimulai dari internal FKM UI, ditambah kultwit-kultwit dan tulisan yang disebar lewat media sosial. Bola salju terus digulirkan. Diadakanlah Forum Rumpun Kesehatan untuk menyatukan kekuatan dan pemasifan isu sampai akhirnya dibawa ke forum BEM Se-UI dan tanpa debat panjang (seperti sebelum-sebelumnya) kami sepakat pada satu sikap bahwa kami, BEM Se-UI menolak diselenggarakannya World Tobacco Asia di Indonesia.

Bola salju terus membesar. Aksi simpatik digelar, diskusi-diskusi dan nonton bareng dilakukan, tulisan-tulisan dan kultwit terus disebar, bahkan rekaman tentang WTA diputar di Bus-bus Universitas Indonesia. Mesin-mesin propaganda terus bergerak meski kami menyadari bukan hal yang mudah membumikan isu yang kurang familiar dalam waktu yang tidak lama (bahkan hanya hitungan hari). Semua dilakukan untuk (dalam jangka pendek) menggagalkan penyelenggaraan World Tobacco Asia pada tanggal 19-21 September dan (dalam jangka panjang) mewujudkan regulasi rokok di Indonesia. Aksi menolak World Tobacco Asia di JCC (Rabu, 19 September) kemarin bukan puncak memang, tapi telah cukup untuk menunjukkan bahwa sudah banyak orang yang geram dengan ketidakjelasan regulasi rokok di negeri ini. Bahwa sudah terlalu banyak pecandu-pecandu nikotin yang jadi korban, dan kami punya sikap tegas: kami tidak ingin ada lebih banyak lagi.

Massa Aksi yang terdiri dari berbagai elemen dibagi ke dalam tiga titik. Sebagian melakukan aksi di luar pagar JCC, sebagian (dengan usaha yang cukup keras) berhasil menerobos pagar hingga berada dekat sekali dengan gedung, dan beberapa masuk ke dalam pameran untuk memastikan kondisi di dalam. Saya termasuk ke dalam sebagian yang ke-dua, yang ikut menerobos ke dalam. Di dalam sana kami harus berhadapan dengan pihak pengamanan, beberapa massa aksi bahkan sempat ditangkap sebelum akhirnya dilepaskan lagi. Di dalam, massa aksi langsung membentuk border. Sambil menunggu hasil negosiasi dengan pihak keamanan dan JCC untuk mengadakan aksi persis di depan lobby tempat WTA diselenggarakan, massa aksi terus dibakar dengan orasi dan lagu-lagu perjuangan.

Negosiasi tak kunjung membuahkan hasil, massa aksi tetap tidak diperbolehkan melakukan aksi di depan penyelenggaraan WTA dan terus ditekan keluar. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan dan atas nama kedaulatan Indonesia, dalam satu komando ratusan massa aksi berhasil menerobos maju ke depan lobby WTA. Di sana kami menggelar aksi pelepasan spanduk-spanduk yang berisikan sambutan untuk pengunjung WTA, dan menggantinya dengan spanduk pernyataan sikap kami.

Semakin siang massa aksi terus bertambah, massa aksi yang sebelumnya di luar pagar, kini bergabung dengan massa aksi di depan lobby. Massa aksi dari UI, UIN, dan UMJ pun terus berdatangan menambah kuat barisan aksi. Dengan jumlah massa aksi yang cukup besar dan nekat itu, kami yakin betul kami punya posisi tawar yang cukup tinggi untuk menghentikan acara WTA saat itu dan menggagalkan penyelenggarakan WTA di dua hari setelahnya.

Diwakili oleh sekitar lima orang, kami bertemu dengan Ian Faux dkk (penyelenggara WTA) untuk melakukan negosiasi (lebih tepatnya menyampaikan sikap tegas kami bahwa kami ingin WTA tidak dilanjutkan). Adu argumen terus berlangsung dan (hingga waktu negosiasi habis) tidak juga ditemui satu titik kesepakatan. Kami kembali ke massa aksi dan membuat strategi selanjutnya.

Kami memutuskan untuk menaikkan lagi posisi tawar dengan cara melakukan aksi di dalam gedung, kali ini tepat di depan pintu masuk WTA. Pihak WTA memperketat pengamanan. Massa aksi terus dibakar. Ada dua pintu masuk gedung di sana yang keduanya tidak terpaut jauh. Strategi dilancarkan: sekitar dua puluhan massa aksi pria mencoba menembus pengamanan untuk masuk lewat pintu satu. Massa aksi lainnya yang lebih besar tetap berada di pintu dua. Strategi cukup berhasil, massa aksi yang coba menerobos di pintu satu berhasil mengalihkan fokus pihak pengamanan. Pengamanan di pintu satu diperketat bahkan dengan bantuan polisi, sementara pintu dua tidak terlalu ketat. Momentum yang kita rencanakan itu tidak kami sia-siakan, massa aksi besar di pintu dua akhirnya berhasil menerobos pengamanan dan berhasil masuk ke dalam gedung tepat di depan pintu pameran. Massa aksi di pintu satu lantas kembali bergabung dengan massa aksi yang telah masuk ke dalam.

Di dalam, massa aksi langsung membentuk border. Pengamanan terus ditambah dan berbaris di depan massa aksi. Tensi yang sudah tinggi, pihak keamanan yang makin emosi, dan tuntutan yang belum dipenuhi membuat dinamika di dalam gedung makin memanas. Orasi-orasi dan lagu perjuangan terus diteriakkan.

Tensi memuncak ketika beberapa massa aksi yang berada di bagian paling depan ditarik-tarik oleh petugas keamanan. Beberapa massa dibelakang terprovokasi dan mendorong ke arah depan membuat kondisi massa tidak stabil. Pihak keamanan di depan makin panik dan makin represif. Dinamika ini akhirnya membuat (entah bagaimana caranya) salah satu properti pameran yang cukup besar dan tinggi rubuh dan menimpa massa aksi. Beberapa massa aksi yang terluka langsung dibawa keluar. Saat itulah saya, melihat Regina memegang bagian lehernya, namun ketika saya ajak dia untuk dibawa ke tim medis di belakang dia menolak. “Saya masih mau aksi ngelawan orang-orang (WTA) itu, Kak” Katanya waktu itu. Fokus saya kembali ke massa aksi yang lain dan mengajak semua massa aksi untuk duduk.

Selang beberapa lama, massa aksi mulai kondusif meski beberapa masih dalam kondisi shock. Beberapa massa aksi menangis dan coba ditenangkan.

Keberadaan massa aksi yang besar di dalam gedung membuat posisi tawar kami makin tinggi. Kami meminta pihak penyelenggara WTA keluar dan menyatakan bahwa mereka akan menghentikan WTA dan tidak akan menyelenggarakan lagi WTA di Indonesia. Pada awalnya penyelenggara WTA tidak mau keluar dan merasa negosiasi yang dilakukan sebelumnya sudah cukup. Kami terus mendesak, akhirnya penyelenggara WTA (Ian Faux dkk) bersedia keluar dan berargumen asalkan kami menjamin ketertiban masa aksi. Kami meng-iyakan.

Di depan kerumunan massa aksi, beberapa perwakilan dari kami menyampaikan tuntutan itu. Dengan berbagai dalih dan pengalihan fokus, Ian Faux dkk hanya menerima satu tuntutan. “We promise. We will never again hold this event in (World Tobacco Asia) in Indonesia)” katanya. Belum puas, kami membuat gentlement agreement tersebut ke dalam pernyataan tertulis untuk ditandatangani oleh Ian Faux dkk. Mereka tidak bersedia. Tak lama setelah itu mereka kembali masuk ke dalam gedung.

Kami meminta untuk dipertemukan kembali dengan Ian faux dengan ancaman massa aksi akan menginap di dalam gedung. Akhirnya beberapa perwakilan kami dipertemukan lagi dengan Ian faux. Di sana kami kembali menyampaikan dua tuntutan: WTA tahun ini dihentikan dan tidak dilanjutkan besok, serta mereka menandatangani perjanjian tertulis bahwa mereka tidak akan mengadakan World Tobacco Asia di Indonesia lagi. Adu argumen kembali berlangsung. Mereka tetap tidak bersedia menandatangani, tidak juga bersedia menghentikan pelaksanaan WTA. Salah satu argumen yang saya ingat adalah: “We are legal here. If you wanna protest, just protest to your government!”.

Saat itu hari sudah mulai gelap, melihat kondisi fisik massa aksi yang mulai lelah (meski saya yakin betul masih semangat) dan kemungkinan digagalkannya WTA yang makin kecil karena tidak ada landasan hukum utnuk pembatalan, kami mencoba realistis. Paling tidak, kami telah menunjukkan kepada dunia (setidaknya masyarakat Indonesia, Pemerintah dan Industri yang hadir)  bahwa ada gelombang penolakan besar terhadap pelaksanaan WTA yang notabenenya adalah sebuah pintu gerbang penjajahan baru melalui candu nikotin di Indonesia. Paling tidak kita telah memberikan pressure kepada pemerintah untuk kembali berkomitmen melindungi kesehatan publik dengan segera mengesahkan dan menegakkan regulasi rokok di Indonesia. Kami pun memobilisasi massa aksi untuk pulang.

Saat itulah saya mendapat kabar bahwa Regina, salah satu massa aksi yang tertimpa properti pameran yang rubuh, sedang di Rumah Sakit Mintoharjo dan (Kata Dokter) mungkin terjadi keretakan. Selesai Shalat Maghrib, beberapa dari kami langsung menuju ke sana. Saat itu Dokter jaga mengatakan bahwa sejauh ini baru ditemukan memar jaringan, namun diperlukan pemeruiksaan ulang oleh Dokter Bedah sehingga Regina perlu di rawat inap sampai dipastikan kondisinya oleh Dokter Bedah Syaraf. Rupanya kamar penuh, akhirnya kami mencoba mencari rumah sakit yang memungkinkan hingga (setelah proses administratif yang jelimet) dibawalah Regina ke RSCM. DI sana Regina diperiksa lagi dan menurut dokter syaraf tidak terganggu, tidak ada keretakan sama sekali, hanya terjadi memar jaringan di bagian leher. Keesokan paginya Regina sudah bisa dibawa pulang ke asrama.

Pengorbanan Regina, terus terang telah memberikan tamparan tersendiri buat saya. Seorang mahasiswa baru yang dengan penuh keberanian berhasil menunjukkan keseriusannya dalam menyelamatkan bangsa.  Barangkali kita, yang sudah bertahun-tahun menjadi mahasiswa belum bisa berbuat sebesar apa yang dilakukan oleh Regina. Ketulusan, Keberanian, dan Kecintaannya akan masa depan bangsa telah termanifestasi ke dalam tindakan nyata. Sementara sebagian besar kita hanya berakhir pada batas wacana.

Melalui aksi tersebut, gelombang penolakan besar terhadap WTA dan kehadiran industri asing di Indonesia telah kita tunjukkan. Atensi masyarakat (setidaknya mahasiswa) tentang pentingnya regulasi rokok telah kita bangun. Dan kini, tinggal bagaimana kita mengawal dan mendesak pemerintah untuk terujudnya regulasi rokok. Kita akan mendesak pemerintah untuk lebih mementingkan kualitas dan kesehatan bangsa ketimbang kepentingan industri rokok, apalagi industri asing.

Kita perlu menyadari bahwa suka tidak suka ucapan Ian Faux ketika bilang “We are legal here, If you wanna protest, Just protest to your government” tidaklah salah. Persoalan kita adalah kita tidak punya regulasi. Itu amat benar. Itu yang membuat mereka berbondong-bondong dengan mudah hadir ke sini dan seenaknya menargetkan akan meningkatkan jumlah perokok sebanyak 30 juta di 2014. Tidak adanya regulasi inilah yang membuat iklan rokok dengan jumawa merajalela di mana-mana dengan citra yang manipulatif dan amat menipu, rokok didapat dengan amat mudah dimana-mana dan dijual dengan kemasan yang amat menarik, bahkan orang bisa seenaknya merokok di mana pun dengan tidak adanya regulasi ini.

Beberapa hari yang lalu Menkes RI telah menyatakan bahwa sebelum 2012 berakhir RPP Tembakau akan segera disahkan. Beliau juga menyatakan bahwa Indonesia akan segera mengaksesi FCTC. Saya sejujurnya tidak terlalu percaya. Tapi paling tidak ada satu titik terang yang mesti kita kawal.

Harus ada berapa Regina lagi yang terluka sampai regulasi rokok tegak di indonesia?

~

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s