Setelah Tiga Tahun

Image

Tiga tahun berlalu. Ada yang tak pernah kita lupa: semacam kode yang kita gunakan untuk seketika meledakkan tawa. Sebuah kedipan, atau serangkai frase biasa yang kita ucapkan berulang-ulang hingga entah bagaimana caranya jadi lucu menggelitik. Kode yang selalu manjur dalam situasi apapun. Aku tak pernah mengerti komposisi apa dalam jiwa kita yang kita bawa tiap berjumpa. Yang jelas, ada semacam interaksi yang hidup bahkan ketika kita sama-sama diam.

Novia; hidungnya masih saja pesek. Tips gratis memancungkan hidung yang diberikan oleh dongeng pinokio entah sudah berapa kali dipraktikkannya. Dan aku, melihat dan menerka berapa centi kira-kira panjang hidungnya, aku yakin betul semua tips itu gagal ia jalankan. Satu-satunya yang ia banggakan selain kemampuannya bertahan hidup dengan hidung yang kurang mancung adalah bahwa ia kini telah punya teman dekat seorang lelaki berdarah Purworejo—katanya, aku percaya saja.

Reivo; badannya masih tambun, setidaknya ukuran tubuhnya cukup untuk menggagalkan kapasitas ‘enam empat’ standar angkutan kota. Lubang hidungnya masih tetap dua. Hebatnya, sahabat yang satu ini kini telah pandai berbisnis: sebuah perusahaan EO dan Distro. Aku sampai ingin salto mendengarnya.

Nadya; tatapannya masih persis seperti dulu: sayu, seperti halnya tinggi badannya yang juga tak berubah. Masih dikira duduk bila berdiri. Masih harus rela leher pegal bila bicara dengannya sambil berdiri. Bicara sambil menunduk memang bukan posisi yang nyaman. Sahabat jarang senyum yang satu ini sedari dulu pecinta korea. Barangkali bila dipertemukan dengan Kimbum baru ia akan tersenyum.

Oni; sahabat satu kampus fakultas tetangga sekaligus jarang berjumpa. Biasanya hanya berjumpa dalam ketaksengajaan: Di jalan, di suatu seminar, di tempat foto kopi, di tempat makan, di toilet, di tengah laut,  di sela-sela jari, di tengah sedotan, di balik tutup botol,… ah, aku mulai mengigau. Oni adalah teman yang baik-sedari dulu.

Zulfi; biasa dipanggil dengan sebutan Kepala Suku. Dengan celana bahan, kemeja rapi, rambut belah pinggir yang klimis berkilau, ditambah sesimpul senyum manis dan tulus, ia adalah primadona. Setidaknya dalam hati kami. Oh iya, dengan pigmen spesial ‘black edition’ yang ia warisi, barangkali masih sulit menemuinya di malam gelap. Aku tahu kau tak akan marah, Zul, tapi aku mesti bilang aku hanya bercanda.

Brian; Salah satu kabar tentangnya, ia punya hobi baru sekarang. Kabar lainnya, ia punya pacar baru. Tambahan pacar, lebih tepatnya. Ia adalah Playboy kelas hiu martil kebanggaan kelas kami. Berbalutkan sebuah jeans belel ditambah sobekan sepanjang kira-kira lima belas sentimeter di bagian paha kiri, ia hadir, bicara, dan hampir setiap kata yang keluar dari mulutnya sanggup meledakkan tawa kami berkali-kali.

Irma; makin pendiam ia. Didatangi di rumahnya di bilangan Poncowati, ia menyambut kami dengan ramah. Seperti biasanya, rumahnya selalu punya sediaan makanan yang tidak aku jumpai di rumah-rumah lain: manisan kolang kaling. Rasanya enak. Dan akan meningkat kadar enaknya seiring dengan jumlah kunyahan. Sebab itu aku makan banyak.

Kristin; masih dengan aksennya yang kebarat-baratan, dan wajahnya yang ketimur-Indonesiaan. Ia hadir terlambat. Rupanya hobinya sejak SMA itu terus dipelihara. Selalu jadi yang terpanik dan terheboh. Jadi yang terkeras suaranya bila tertawa. Dialah ‘Ratu HAHAHA’.

Iswahyudi, Muchlis, Gilang, Febri, Dek Narti, Lili, Nicko, Lupy, Mba Dewi, Ani, Dora, Tiara, Aji, Ellen, Odi, sedih rasanya belum bisa berjumpa muka dengan kalian. Semoga kalian baik-baik saja. Aku yakin telah banyak yang berubah dari kalian, kecuali rasa cinta yang teramat besar pada keluarga 5G. Bukankah diam-diam kita telah berjanji untuk saling ingat dan mengingatkan?

Bukankah dalam lingkaran ini kita telah belajar arti keutuhan? Yang mengantarkan kita pada pada akhirnya untuk juga belajar memahami sebuah konsep tentang dua sisi koin yang satu dan tak terpisahkan.

Memang begitu,
Ada hidup ada mati. Ada suka ada duka. Ada tangis ada senyum. Ada perjumpaan ada perpisahan. Sebagaimana ada kedekatan dan ada pula keberjarakan. Koin kehidupan selalu punya dua sisi yang tak terpisahkan. Kita tidak bisa egois hanya mengambil salah satu sisinya. Karena memang tidak bisa.

Yang bisa kita lakukan adalah mengerjakan berbagai hal untuk bagaimana caranya membuat kehadiran sisi-sisi yang baik bagi kita jadi lebih bermakna. Maka kita memang memerlukan kemampuan itu: kemampuan memaknai. Karena nyatanya telah banyak hal kita lewatkan tanpa makna. Telah banyak pula momen yang tercipta tanpa kita terka, hingga akhirnya sirna, lantas kita lupa.

Maka mari kita berjanji dalam hati masing-masing bahwa akan selalu ada senyum yang terkembang untuk sebuah nama. Bahwa akan selalu ada ruang besar nan nyaman untuk sebuah nama. Bahwa biarkanlah cinta menjelma rindu, dan dalam rindu itu kita mengucap sebuah nama: 5G.

~

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

3 thoughts on “Setelah Tiga Tahun”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s