Pulang

Pagi ini selepas Shalat shubuh, kembali kita duduk bersila. Berhadapan. Melingkar meski tak bundar sempurna. Tak lebih dari sehasta jarak masing-masing kita, cukup dekat untuk mendengar jelas suara siapapun dari kita bahkan ketika ia sekadar berbisik. Udara dingin yang sempat bikin kita menggigil, suasana yang hening karena belum banyak aktivitas, ditambah ruang yang remang oleh lampu tidur jadi pelengkap syahdunya momen ini.

Pagi selepas shalat shubuh ini, kita berkumpul untuk ‘merayakan’ hari terakhir kebersamaan kita dalam ruang dan waktu yang sama. Sebab hari ini, ‘pesta meriah’ atas nama kebersamaan keluarga ini mau tak mau mesti kita sudahi. Rela tak rela.

Tak perlu ada penanda dramatis seperti pelukan perpisahan beriring tangis, apalagi prosesi sungkem. Ini sudah biasa bagi kita. Sepatah dua patah wasiat yang dilontarkan oleh bapak pagi itu sudah lebih dari cukup untuk menjadi pidato perpisahan. Aku khawatir kelak makin banyak wasiat yang tak kujalankan sempurna, atau bahkan kulalaikan. Jadi, cukup sepatah dua patah kata saja.

Aku tak tahu betul yang akan kujalani ini sebuah keberangkatan atau kepulangan. Yang jelas, apapun itu, akan selalu menyisakan sebuah pertanyaan besar: “Akankah Allah memberikan kita waktu untuk berkumpul bersama untuk saling menasihati, atau sekadar bercerita? Masih adakah malam yang kita lewatkan dengan cerita-cerita tentang kegiatanku di kampus diselingi candaan-candaan terbaru yang membuat kita tak ingin tidur bahkan untuk sekedar mengantuk? Masih adakah cium tangan, kecupan, pelukan, atau apapun yang membuatku tak bisa merasakan apa-apa kecuali kehangatan kasih sayang orang tua? Masihkah ada lingkaran semacam ini, yang dibangun oleh tiap-tiap kita tanpa kurang sesiapa?”

Kalau yang akan kujalani ini sebuah kepulangan, bukankah kelak tiap-tiap kita akan menjalani kepulangan yang abadi? Sebuah kepulangan yang akan memutuskan semua perkara di antara kita kecuali Ilmu yang bermanfaat, Amal jariah, dan Anak sholeh yang mendo’akan orang tuanya.

Aku tak terlalu tahu sebanyak apa ilmu bermanfaat yang telah kita sebarkan. Juga amal-amal jariah yang kita lakukan. Yang pasti, detik ini, standar apapun yang digunakan untuk mengukur kesholehan seorang anak, aku yakin betul belum sampai seperseribunya.

Lantas kini atau kelak, apa yang bisa kuberikan? Apa yang bisa kubalas? Dengan apa harus membalas? Meski aku sepenuhnya menyadari terminologi membalas tak kan pernah tepat digunakan untuk seorang anak pada orang tuanya. Seperti dahulu pernah ada seorang lelaki yang dengan penuh kesungguhan menggendong ibunya yang lumpuh, memandikan, dan mensucikannya dari semua hadatsnya, kemudian bertanya pada Umar bin Khattab: “Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?”. Lalu Umar pun menjawab: “Tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu”. Tidak. Tidak akan pernah cukup. Sebesar dan semulia apapun yang kita lakukan, bahkan ketika kita menjadi anak sholeh yang mendedikasikan seluruh umur kita untuk mendo’akan mereka.

Sebab itu, hari ini, izinkan aku untuk khawatir. Izinkan aku untuk takut. Dan dengan ketakutan ini, semoga, ada gerak yang dicipta agar kita tetap menjadi satu keluarga yang tak terputus oleh kepulangan apapun.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s