Pewajaran

Salah satu bagian paling menyedihkan dari kehidupan adalah ketika kita tak percaya bahkan pada kemampuan kita sendiri. Saat dunia seakan terlalu silau untuk ditatap, dan bumi terlalu mewah untuk terus dipijak oleh sepasang kaki kita yang lemah. Bagian menyedihkan lainnya adalah ketika kita merasa bahwa kehadiran kita di dunia hanyalah korban keisengan Tuhan. Apa guna punya arti bila kita hidup untuk sekadar mati?

Kita melihat dunia begitu dinamis, sementara kita yang merasa kerdil ini terus diam seolah diri kita memang dicipta untuk menjadi bagian dari orang-orang yang tak berdaya.

“Ah, aku memang takdirnya begini: jadi orang yang biasa-biasa aja,” suatu kali hati kita pernah bersuara demikian. Atau di waktu yang lain diam-diam kita berkata dalam hati: “Yah, wajar aku gak bisa kayak dia, aku kan Cuma—”.

Begitulah kita, mahluk-mahluk tak tahu diri yang selalu terampil membuat pewajaran-pewajaran yang kemudian menjadi doa—yang pelan-pelan menyulap kita jadi manusia tak berdaya sungguhan.

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s