Monolog

Kita kerap terlibat dalam pergumulan hebat. Ego-cemas-ragu-takut-konflik, itu semua membuat kita dipaksa berdiri di atas sebuah sekat tipis: batas antara rela dan tidak rela. Kita mesti jatuh–atau menjatuhkan diri–ke salah satunya. Karena bila tidak, otak, benak, juga batinmu itu akan terus tergugu diserang rasa bimbang. Dan kebimbangan memang lebih menyedihkan dari penderitaan, kan? Dulu sekali kamu bilang demikian: “Ketidakpastian itu menyakitkan”. Aku masih percaya kalimat itu.

Tragedi seret menyeret memang bukan hal baru buat kita. Pergulatan semacam ini lebih rutin dari pada jadwal kamu sarapan. Ah, kamu memang susah diperingatkan. Mungkin buatmu aku juga begitu.

Dalam satu waktu yang–karena terlalu seringnya, jadi–tak pernah kita duga, hening akan hadir. Lalu kita akan saling mengira-ngira: Kamu, Aku, satu sama lain berprasangka. Dengan ilmu ke-soktahu-an yang kumiliki sejak lahir, aku akan bilang bahwa kamu keliru. Dan kamu, dengan keluguanmu yang sudah kuhafal betul gejalanya–sengaja atau tidak–akan membuatku merasa bersalah setengah mati. Tahukah kamu, ketika itu batinku yang dongkol begitu kesal padamu yang seolah tak peduli?

Di atas segalanya, aku masih sangat percaya bahwa penciptaan apapun di dunia ini selalu satu paket dengan alasannya. Hanya saja, kadang kita tidak–belum, atau tidak mau–tahu. Aku, atas nama ke-soktahu-anku menduga, itu pula yang terjadi pada cerita yang kita punya. Tidak apa-apa, ketidaktahuan tidak akan membawa kita ke dalam neraka. Tapi terus menerus mendekam dalam kegelapan sementara kita tahu ada cahaya di depan sana, nampaknya merupakan tindakan yang sama sekali tidak bijak. Dan ketidakbijakan itu satu demi satu akan dihitung, dikalkulasikan, hingga pada suatu masa kita akan tahu bahwa hasil penjumlahannya sudah sangat cukup untuk ditukar dengan tiket ke neraka: ke dalam kehidupan yang katanya bagai si jago merah melalap segala.

Persis seperti musim semi yang tak bisa dibendung, dengan gaya khasnya yang malu-malu waktu akan membawa kita ke taman itu. Taman merindang yang kita rindukan: tempat di mana bunga-bunga kesadaran itu bermekaran. Dan kita percaya, dari kesadaran itulah semua cerita tentang kebahagiaan bermula.

Masihkah kau ingat rumus itu?
Betul. Satu visi dan saling mengerti.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s