Diam

Dalam diam, tak selalu ada rintih yang dibungkam. Tak melulu ada dendam yang diredam.

Dalam ranah sunyi yang disebut diam, detik-detik waktu cuma milik jiwamu. Sendiri dan tak terbagi. Tempat berjuta kearifan tumbuh merdeka tanpa diterka.

Air yang menggenang tenang tak mesti jadi busuk. Bila ia bersih, menggenang di tempat yang bersih, diamnya bersama waktu bahu membahu menjaganya tetap jernih. Jadilah ia kesegaran yang menghidupkan.

Sebatang pohon tak pernah berpindah dari akar tumbuhnya. Tapi ia berdaya, menyulap karbon dioksida jadi oksigen. Maka hiduplah burung-burung, anjing, kucing, rusa, juga tentu manusia.

—diam tak melulu soal kepecundangan.

Pada momentum tertentu, diam adalah melakukan. Adalah merekam. Adalah mengalami.

telah-dibukukan

 

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

4 thoughts on “Diam”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s