Andai

Tiada perlu prosesi belah dada untuk percaya apa yang kurasa. Tiada pula perlu kuucap sumpah serapah. Kini semua sudah tak lagi samar, bukan?

Mari mendekat. Bukankah telah sejak lama aroma kerinduan ini merebak hebat? Dan kau masih saja pura-pura tak menciumnya. Mengapa kenaifan itu terus kaupelihara?

Dalam keluguan, kau terus diam tanpa kata yang bermakna. Memaksaku bisu tanpa aba-aba.

Tengoklah,
Di sini berdiri aku,
Yang setiap hari mencoba mencuri sekelebat bayanganmu
Memunguti sisa-sisa senyum yang kau lempar sebentar
Remah-remah kepergian yang menjauhkanmu,
Dari mata, tidak untuk hati

Andai kau mengerti
Andai kau empati: merasa yang kurasa
Andai kau peduli
Andai kau sanggup jalani
Andai mau berjanji
Andai kau,
Andai kau di sini

Berdiri di sisiku dalam rindu yang semoga tak abadi.

Karena “Rindu”, kataku sejak dulu, “Hanyalah kata lain dari benang cinta yang dipintal tetapi tidak bisa dirajut.”

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Andai”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s