Sekat

Kita perlu sadar bahwa tidak semua jiwa terangkum dalam ruang yang sama. Ada semacam sekat tipis yang membuat kita berdiri di ranah yang tak serupa. Di ruang yang berbeda itu kita bisa saling menyapa, tapi untuk saling mengerti, itu hal lain.

Itu memang kaidah. Konsekuensi logis atas semua cerita tentang perbedaan yang jadi mulia ketika disubstitusi dengan kata keberagaman. Jadi, dalam hal ini tiada yang perlu disalahkan. Memang siapa yang mau menyalahkan suratan? Ada pun percuma.

Sekat tipis. Ini semacam batas yang romantis. Tidak untuk dibenci atau disumpahi. Cukup dengan lembut kita sentuh sampai luruh. Perlahan dan tak perlu tergesa. Karena dalam konteks ini hati yang punya daya.

Tidak juga perlu memaksa. Kadang kita membutuhkan sekat itu—meski kadang kita tidak atau belum tahu.

jj2

SaveSave

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

One thought on “Sekat”

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s