Satu

Kita tak bicara. Hanya saling menerka.

Lebih tepatnya, kita saling menjajah dalam diam. Aku merudapaksamu untuk diam dengan tatapan. Kamu membuatku bisu dengan raut wajah yang sendu. Kita sadar betul kondisi ini membuat kita menyadari bahwa hubungan kita ini tidak lagi mutualisme. Kita saling menyudutkan, entah istilah apa yang tepat dalam ilmu biologi.

Cerita apa yang bisa kita bagi dengan mulut bungkam? Bicara dengan hati? Utopis.

Pelan-pelan matamu mulai keringatan. Jiwamu yang katanya bebas itu kini hilang dalam selaput kabut. Ke mana perginya?

Jangan paksa aku buat mencari.

Bila itu yang kamu lakukan, aku yang panik ini barangkali akanmengobrak-abrik tubuhmu yang lemah—dan layu. Memanggil semua yang kupikir ahli, mulai ahli jiwa sampai ahli bedah. Kan kusingkap semua lapisan kulit dan daging di tubuhmu. Segala bentuk dan susunan rangka yang memproteksi organ-organ pentingmu akan ikut kubongkar. Tubuhmu, kuselami tiap inchi tanpa ragu. Kalau tak kutemukan juga, mungkin akan kucari di semak belukar, di sela cabang-cabang karang, di balik purnama yang bulat sempurna.

Atau jangan-jangan, justru jiwamu ada di dalam jiwaku. Jiwaku, jiwamu, boleh jadi telah sedari dulu bersatu—entah sejak kapan. Hanya saja, aku tak menyadarinya. Kamu pun begitu.

telah-dibukukan

Published by

Azhar Nurun Ala

Laki-laki yang sedang belajar mencintai.

Tinggalkan Kesan...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s